The Blue Romans

Yogya.
Malam semakin larut. Aku semakin tenggelam dalam lamunan. Entah kenapa malam ini aku nggak bisa memejamkan mataku. Kamar kostku yang cuma ukuran 3 x 2,5 m makin membuatku terperangkap dalam kebuntuan hati dan pikiranku. Terlalu pusing kalau suasana seperti aku diamkan lama. Aku putuskan untuk keluar mencari kegiatan biar nantinya bisa tidur.

Pelan motorku aku arahkan ke malioboro trus berputar melalui sarkem. Udara malam yang dingin menampar kulit mukaku. Aku berhenti tepat di depan simbok-simbok yang berjualan nasi kucing. Terdengar riuh rendah tawa wanita malam yang mangkal di seputar stasiun.

"Sendirian, mas? sapa manja seorang wanita ditengah aku sedang menikmati makan malam tepatnya makan dini hari karena jam sudah menunjukkan pukul 2 dini hari.

Aku menoleh kearahnya. Telah duduk disebelahku seorang wanita dengan wangi parfum murahan. Tubuhnya yang ukuran sedang tapi berpayudara besar itu dibalut dengan kaos ketat warna pink dan celana jeans belel yang bolong di pahanya. Mulus.

"Mirah" katanya dengan senyum manis dan uluran tangannya.
"Nggak kok, mbak". kataku menolak tawarannya dengan ucapan mirah.
"Ha..ha..ha...! tawanya membelah udara yang semakin dingin.
"Ah, mas ini ngaco ah!!"
"Ngaco gimana?" tanyaku
"Namaku Mirah bukan nawarin diri kalo aku tuh harganya murah"
"Ha..ha..ha..!!" gantian aku yang tertawa. Lah wong dia mengajak kenalan dan menyebutkan namanya "Mirah" kok malah aku kira nawarin diri dengan harga murah. Mirah dalam bahasa jawa yang artinya murah.
"Rembo" kataku memperkenalkan diri.
Mirah menekuk wajahnya tanda dia tidak percaya kalau namaku rembo.
"Remaja Bodong..!" kataku menjawab tanda tanyanya.
"Ah, dasar. Apanya yang bodong?! celetuk mirah.
"Pusernya..!"
"Bawah puser kali mas!" selorohnya sembil mengerling.
"Joko" akhirnya aku menyebutkan satu nama untuk memperkenalkan diri.

Dini hari yang dingin itu aku habiskan mengobrol dengan Mirah di warung simbok penjual nasi kucing. Obrolan awal biasalah tentang siapa diri aku dan mirah. Mirah adalah seorang penjaga bilyar. Dan, malam itu bapaknya yang biasa menjempunya nggak datang karena sakit. Jadi terpaksa dia pulang sendiri dan menunggu tumpangan. Aku yang ketiban pulung.

Dini hari itu aku antar mirah kerumahnya. Tepat di bawah jembatan kali opak. Aku tidak buru-buru pulang. Rumahnya yang hanya tiga petak diisi oleh Bapak dan Ibunya yang sudah udzur. Mirah adalah anak satu-satunya. Bapaknya penarik becak dan ibunya penjual jamu gendong. Sebuah potret keluarga yang sangat terpinggirkan karena materi.

Duduk di pinggir sungai pada dini hari seperti ini ternyata memberikan gambaran yang romantis ala orang pinggiran. Lain dengan orang kaya yang selalu menggambarkan bahwa suasan romantis itu adalah dinner candle di restauran atau cafe mahal yang penuh bunga. Dengan semburat cahaya bulan yang membias ke air kali opak aku teruskan obrolan yang terputus tadi. Entah, meski baru kenal belum ada satu jam mirah sudah merasa akrab dan nyaman denganku.

Hingga akhirnya tanpa sungkan mirah merabahkan kepalanya di bahuku. Aku peluk dia. Hangat badannya mulai mengalir ke badanku. Ini membuatku semakin terperangkap dalam gelora yang ingin aku ledakkan.

Bukit indahnya aku raba dan kemudian aku remas dengan tangan kiriku. Mirah makin membenamkan kepalanya ke dadaku. Aku angkat wajahnya dengan tangan kananku. Aku raih bibirnya. Aku kulum bibir lembut mirah yang rada bau rokok itu. Namun, akhrnya hilang tertelan bibirku.

Selang beberapa menit aku dan mirah berpagutan bibir aku mulai menggerayangi buah dadanya dengan menyingkapkan kaosnya. Badan mirah menggelinjang geli ketika jemariku memainkan puting susunya. Aku semakin hanyut. Tanganku meraih retsleting celana jeansnya. Kemudian merasup ke dalam celana jeansnya dan menyentuh gundukan kecil dengan ditumbuhi rambut yang jarang.

"Akh...mas..." jeritnya lirih. Ketika jari tengahku menyentuh belahan kemaluannya dan menggelitikinya pelan.
Mirah mulai mengelus kemaluanku. Tangannya lembut membelai kepala kemaluanku yang sudah menyembul keluar dari celana dalamku. Enak banget aku rasakan ketika kukunya yang lentik bermain diujung kepala kemaluankku.

Kemaluan mirah sudah mulai basah. Itil yang kusentuh dengan jari tengahkupun sudah mulai mengeras. Akupun semakin gemas memainkan ujung itilnya itu.

"Okh...." suara Mirah semakin parau
Akupun sudah mulai konak. Rasa geli yang luar biasa di kepala kemaluanku makin membuatku menginginkan lebih dari sekedar handsjob.

Tiba-tiba mirah menghentikan elusannya di kepala kemaluanku. Mirah cepat memelukku. Erat sangat. Tubuhnya mengejang. Pahanya menjepit kuat tanganku.

"Terus, sayang..." katanya kali ini dengan sebutan sayang.

Tanganku semakin cepat namun halus mengucek itilnya memutar.

"Auw...!!!"
"ouf...!!!
"mmm...!!"
"heh...!!!"

Mirah semakin menempelkan bibirnya ke bibirku hingga wajahnya menekan hidungku. Membuatku sesak untuk bernafas. Aku biarkan hal ini. Nggak enak hati untuk menghentikannnya.

"Gila..!!!" katanya menyudahi dekapannya yang erat.
"Hah...!!!" aku buang nafasku yang terasa sesak sedari tadi.
"Hi..hi..hi..sorry!! abis enak banget sih mas!! katanya sedikit malu. Aku lihat
wajahnya memerah.

"Mmmwaaah!!!" ciumnya di bibirku.
"Mas mau aku kocokin?" tawarnya.
"Iya dong...masak mirah aja."
"Sini.."
"Mirah..!!!" tiba-tiba suara ibunya yang terbangun memanggilnya.
"Tidur..! udah mau subuh!"

"Iya, Mak.Besok diterusin aja ya, sayang. Jemput aku sekitar jam 2-an."

"Ya. udah aku pulang" pamitku dengan rasa dongkol yang teramat. Aku masih belum lega. Kemaluanku yang menginginkan pelemasan terpaksa meregang terus tanpa ada penyelesaian.

"Sorry.." bisiknya ditelingaku.

Aku hanya tersenyum kemudian meninggalkannya dengan sisa kebahagian diwajahnya. Meskipun sedikit mengganjal tapi aku mempunyai sedikit harapan setidaknya besok malam akan aku habiskan sisa maniku yang tertahan. Mirah....
__________________
TAMAT