Kenangan Terpahit Namun Indah

Kenapa cerita ini aku beri judul "Kenangan Terpahit Namun Indah" adalah berawal dari sekedar iba dan iseng ingin mencoba pijatan seorang pemijat wanita tua di sebuah hotel yang berujung kepada pemuasan nafsu birahiku sendiri.

Awalnya aku sudah menolak halus ketika seorang wanita tua yang aku tebak berumur 45 tahunan menawarkan diri untuk memberikan jasa pijat. Namun, karena dia mondar-mandir didepanku menawarkan diri untuk memijat sampai tiga kali muncul rasa iba di hatiku. "Tak salahnya aku trima sekalian mencoba pijatan wanita berumur." kataku dalam hati.

Dengan sedikit tengsin aku menyuruhnya masuk ke kamar hotel.

"Mau pake lulur, mas? tanyanya sambil mengeluarkan sebuah botol kecil handbody.
"Ya." Jawabku singkat.

Aku mulai membuka pakaianku hingga cdku yang tersisa dan ambil posisi tengkurap.Perlahan wanita tua yang belakangan baru aku tahu namanya Ijah itu mulai memijat bagian betis. Meski sudah tua pijatan Maj Ijah, aku menyebutnya, terasa nyaman sekali. Yang kurasakan adalah bukan tangan tua yang kasar namun tangan lembut yang sangat terasa nyaman di kulitku.
"Dingin banget ya mas ac-nya" kata Mak Ijah disela-sela pijatannya di pahaku.
"Mak Ijah kedinginan?" tanyaku
"Nggak. Cuman badan mas jadi dingin." katanya sambil terus memijat pahaku bagian atas hingga ke pangkal paha.

Serrrrr...darahku berdesir ketika jari Mak Ijah entah disengaja atau tidak menyentuh dua buah batang kemaluanku. Awalnya aku pikir tidak sengaja eh, tapi ini hampir berkali-kali. Tanpa sadar batang kemaluankupun membesar dengan sendirinya.
Mak Ijah makin berani memainkan jarinya di sela-sela pahaku. Entah kenapa Mak Ijah malah makin berani. Tanganya dengan sengaja meremas dua buah batang kemaluanku.

"Sialan.." maki aku dalam hati. Tapi, Anehnya aku nggak protes sama sekali. Malah aku semakin merasakan sensasi yang luar biasa ketika Mak Ijah mulai memijat pantatku dengan diselingi meremas buah batang kemaluanku. Aku makin horny dibuatnya.
"Gila....!!!" tangan tua Mak Ijah makin terampil bermain. Sesekali jarinya menowel di sela-sela pantatku ketika Mak Ijah memijat pinggulku.

Setelah setengah jam aku tengkurap Mak Ijah menyuruhku berbalik. Reflek aku berbalik. Aku dibuatnya terkaget-keget ketika kain yang dipakai Mak Ijah tersingkap hingga pahanya yang memang aku akui masih kencang dan mulus itu tersingkap.Jakunku naik turun melihat keindahan didepanku itu. Hampir gak ada bedanya dengan wanita yang masih berumur 30 tahunan.

Dan, Mak Ijah hanya tersenyum ketika melihat kepala dari kemaluanku menyembul dari balik cdku. Reflek aku naikkan cd supaya menutupi batang kemaluanku.

"Gede juga ya punya mas?"
"Sialan Mak Ijah ini. Kurang Ajar juga!!!"
"Nggak apa-apa mas kelihatan, ngga usah malu. Kalau mau ntar dipijat juga" katanya sambil tersenyum penuh arti.
"Nggak usah, Mak."

Kemudian mak ijah mulai memijat kakiku. Ketika mulai memijat pahaku dia memposisikan berada tepat diatas kakiku.Tanganya terus mengurut pahaku sampai pangkal paha hingga menyentuh buah kemaluanku. Diulang-ulangnya berkali-kali sampai aku hanya diam menikmati sensasi permainan jarinya.
Entah waktunya yang tepat atau memang otakku sudah buntu, ketika tiba-tiba lampu hotel mati reflek aku tarik Pantat Mak ijah untuk mendekat ke kamaluanku. Tanpa basa-basi aku singkap kain yang sedari tadi memang sudah sebatas paha hingga tersingkap selurunya.

"Edan!!!" baru aku tahu ternyata Mak Ijah ngga pakai celana dalam.

Nafasku makin memburu ketika pantat yang masih kenyal itu aku remas. Mak Ijah juga tak kalah sigap dengan cepat Mak Ijah membuka pakaian atasnya dan melepaskan bra sehingga bauh dadanya bisa aku rasakan tepat dimukanya. Aku hisap puting yang sudah tersedia tepat dimulutku itu.

"Silahkan susunya, Mas.." kata Mak Ijah menggoda.
"Persetan..!!" Pikirku.

Aku hisap puting itu dengan rakus. "MmmmMmmmmhhhmmm,,,". Bergantian kanan kiri. Jariku semakin liar mencari vagina Mak Ijah. Barisan rambut halus divaginanya sangat terasa di jariku. Aku sentuh klitorisnya kemudian aku kocok pelan.

"Heh...sssssttsttt.." Mak Ijah melenguh pelan
Tangan Mak Ijah tak kalah lincahnya dengan mengocok kemaluanku.
"Sudah masukin aja, Mas!"

Seperti dikomando aku angkat pinggul Mak Ijah kemudian aku arahkan kemaluanku ke vagina Mak Ijah.

"Ough..." mak ijah melenguh.

Belum sempat aku menggerakkan kemaluanku untuk keluar masuh ke liang vagina Mak Ijah. Mak Ijah sudah menggoyangkan pinggulnya.
Caranya ini membuat kemaluanku serasa dijepit dan diputar nggak tentu arah.

"Enak Maaaakkk!" sambil tanganku merema buah dadanya.

Mak Ijah pun mulai merasakan nikmat yang sama dan ketika aku membantunya dengan menekan dan mengocok klitorisnya Mak Ijah tak kuasa menahan orgasmenya.

Heh..heeeheeeh...!!! erangnya.

Mak ijah berhenti sebentar. Mengatur nafas kemudian mulai menggoyang pinggulnya makin kencang. Dan makin membenamkan batang kemaluanku semakin dalam keliang vaginanya.

“Uuch.. aacchh.. terus goyang Mak..!” desahku.
Tanpa mencabut penisku dari lubang, Mak Ijah membuat posisi balik hingga membelakangiku dan kemudian menggenjotkan pantatnya skencang-kencangnya “Ii.. ii yaa begitu Mak teeruus..!”

Sekali lagi kelenturan goyangan ngebor Mak Ijah membuat kemaluanku semakin terasa di peras. Enak buanget!!!!

Akhirnya, “Uuu.. uch aa.. ach e.. ee.. enakk..!” teriakan kecilku mengakhiri pergulatan ini. Pergulatan yang menimbulkan kenngan pahit namun indah. Pahit karena yang aku setubuhi adalah nenek, indah karena memang bener-bener memberikan kepuasan yang ruar biasaaaaaaaaaa!!!! bener-bener nenek rasa perawan!!!
__________________
TAMAT