Aku bekerja di biro penyelidik yang membantu tugas kepolisian. Bersama team yang berjumlah lima orang kami banyak bekerja di laboratorium lapangan yang bisa berpindah pindah tergantung situasinya. Kalau ada kasus yang pelik terkadang kami harus nglembur berhari hari di lab. Lab juga menyediakan tempat tidur dan loker yang nyaman.
Team kami terdiri dari 3 cowok dan 2 cewek, tidak terasa sudah 5 tahun kami bersama sama dalam suka dan duka. Dimulai dari tugas tugas yang ajaib, tugas yang memerlukan konsentrasi tinggi, dan situasi situasi yang terkadang berbahaya. Tetapi justru kondisi kondisi ekstrem itulah yang menyebabkan kami jadi kompak.
Hubungan kami semua sudah seperti kakak dan adik. Aku paling dekat dengan Rini dan Niken. Mereka aku anggap adikku sendiri. Sering mereka bermanja manja denganku. Terkadang mereka suka iseng duduk dipangkuanku. Atau kalau kami kecapean mengerjakan tugas dan harus tidur di kantor, Rini tidak sungkan tidur di sebelahku sambil peluk peluk. Aku juga tidak merasa aneh malah sering merasa kasihan karena mereka jauh dari keluarga demi tuntutan tugas.
Rini baru menikah jalan satu tahun. Sementara Niken masih single. Sebagai pasangan yang masih baru menikah, hubungan Rini dengan suaminya bukannya mesra tapi malah sering bertengkar. Alasannya sederhana, suami keberatan dengan cara kerja mereka yang jarang pulang. Aku jadi berpikir, ,bagaimana dulu mereka memutuskan untuk menikah kalau tahu situasinya seperti ini. Sedang aku sendiri memilih untuk tidak menikah. Karena aku sangat menikmati ke jombloanku ini.
Kali ini kami mendapat kasus yang luar biasa rumit. Korban pembunuhan ditemukan di laut di bawah Rig di lepas pantai Karimun Jawa. Kondisi korban mengenaskan, melepuh seperti terkena cairan amonia. Padahal jelas di daerah tersebut tidak ada celah dalam laut yang mengeluarkan gas tersebut. Kami melakukan penelitian, penyusuran, selama 2 minggu tapi hasilnya masih nihil. Aku sendiri sudah berkali kali diving di bawah Rig untuk memeriksa TKP, mencari sesuatu yang bisa dijadikan petunjuk. Melakukan wawancara dengan oran orang yang dicurigai.
Kondisi under pressure ini membuat kami sering bertengkar antar team. Bayangkan di tengah laut, udara dingin, badai yang kadang menerpa membuat kami mudah naik darah. Terutama Andi , Niken dan Rini. Aku dengan Tony lebih sering mendengarkan saja apa yang mereka ributkan. Ujung ujungnya Niken atau Rini mengalah dengan kembali ke kabin mungil mereka di lantai bagian bawah rig ini. Dan seperti biasa aku menghibur dengan mengajak bercanda. Sejauh ini sih ok ok saja dan selalu berhasil mengembalikan keceriaan mereka.
Tapi kali ini tampaknya cara ini sudah tidak manjur lagi
.
“Rin...Rini...” aku ketok pintu Kabinnya.
Perlahan pintu terbuka” masuk Rud..” Kata Rini sambil mengusap air matanya. “ Adduuuhhh bidadariku kok nangis terus neeehh.., yuk main monopoly yuk...sama Tony..aku panggil ya”
Seperti biasa aku berusaha mengalihkan perasaan sedihnya, ke sesuatu yang aku harap bisa sedikit menghibur.
“ Gak usah Rud...kita ngobrol aja.” Kata Rini sambil mengangkat kakinya mojok di ujung cabin. “ Gue pengen ke darat Rud....pusing...pengen ketemu suami. Pusing. “Dilemparnya jas lab kepojok kamar.
“ Yeee....jemputan helicopter baru datang 2 minggu lagi non . Minggu ini kan bagiannya si Tony. Ia udah 3 bulan lho gak pulang. Kamu kan baru 2 minggu.” Kataku mengingatkan.
“ Gak deh gue mau keluar aja..mengundurkan diri...gue udah nikah, Loe tahu kan Rud kalo udah nikah, kalo pusing harus bagaimana hayo....” Katanya sambil merengut.
“ Iya iya gue ngerti, elu sih ngapain nikah...mending kayak gue nih..kalo pusing gak pengen macam macam. Paling oleh raga bentar udah ilang pusingnya. Kalo elu udah ngrasain yang satu itu bakal keenakan dan pasti larinya kesitu deh kalo pusing.” Kataku sok memberi saran.
Aku memang bukan tipe cowok yang suka ke cewek untuk pelarian. Bagiku sex tidak terlalu penting. Entahlah…masih banyak yang menarik selain sex untuk melepas kepenatan dan stress. Bisa diving, mendaki gunung, ke ujung kulon atau rafting…wow semua itu jauh lebih menarik daripada sex. Aku punya kelainan ? aaahhh gak juga … aku suka juga kok lihat cewek sexy. Aku suka Sandra Dewi, aku juga suka si sexy Dewi Persik hahahaha cuma menurutku ribet kalo sudah berurusan dengan yang namanya perempuan.
“ Rud kenapa sih loe kok gak menikah ? gak tertarik sama perempuan ya ? Gue lihat loe kok gak punya temen cewek…alim banget gitu “ Tanya Rini ingin tahu. “ Sorry Rud…jangan tersinggung ya …gue tanya ya….loe homo ya Rud…sorry lho….gak papa kok..homo juga manusia. Soalnya gue sudah curiga ketika gue tiduran di sebelah loe kapan itu. Kok loe nggak nakal sama sekali. Biasanya cowok suka jahil…” Kata Rini menyerocos.
“ Walah…Rin..loe ini lucu..gue juga normal kok…Kemarin gue gak nakal sama kalian karena kalian gue anggap adik saja. Selain itu rasanya aneh, masa temen sendiri dijahilin..Ah loe ini ada ada saja. Gue normal non...normal senormal normalnya… coba deh loe ganti baju di depan gue, dijamin gue horny, pusing juga.hahahahaha” Kataku asal ngomong...
“ Ah gak percaya...paling loe gak mau ngaku iya kan ?...biasa cowok suka gengsi kalo ketahuan..iya kan ?” Katanya sambil perlahan membuka blazer diikuti rok spannya kemudian melemparnya ke pojok kamar. Aku hanya memandangnya terkaget kaget.
Ups..bra hitam menerawang dan berenda membuat Rini lumayan seksi...hmm eh sebenarnya malah seksi banget...hmmm ukuran berapa tuh ya...
Sengaja Rini menggodaku. “ Coba loe terangsang nggak lihat gue...” Tersenyum senyum sambil melepas stocking hitam yang juga berenda di depanku. Kemudian kaki jenjangnya dinaikkan diantara pahaku. “ Tolong dong lepasin kaitannya...please..Sambil menarik tanganku ke pahanya.
“ Rin ..kamu nakal deh...gue nggak terangsang bukan karena homo non..udah cepetan ganti bajunya…. Suaraku serak sambil membuka kaitan stokingnya.
“ Naaaaa ketahuan kan kalo homo hehehehe...gitu aja gak mau ngaku...” Kata Rini sambil mencubit dadaku. Kemudian tangannya kebelakang untuk membuka kaitan branya. Dadanya sengaja didekatkan ke wajahku.:” Rud...gimana dadaku seksi nggak...gue buka deh... kalo loe gak terangsang berarti loe harus ngaku kalo homo..hmm ?” Sambil mengedipkan matanya menggoda.
Sambil sedikit mendesah, menggoda lalu Rini menggoyangkan dadanya ketika meloloskan bra 15 cm di depan hidungku. Geletar buah dadanya yang ternyata putih mulus mulai membangunkan “adikku”. Ujung putingnya merah muda !, gila !
“ Hhhhhh Rin kamu jahil banget “ Kataku serak agak gemetar.
Rini kini topless di depanku hanya menggunakan cd hitam kecil menerawang. Mau tak mau aku agak menunduk jengah. Sialan anak ini. Rupanya dia masih bersikukuh kalo aku homo.
“ Bener kan …loe homo…hehehehe. Lihat tuh gak terangsang sama sekali. “ Sambil menunjuk benda yang ada dibalik jeansku.
Wajahku merah padam karena malu. Perlahan benda imut dibalik celana jeansku bertambah besar. Hmmm... anak ini perlu diberi pelajaran...
“ Ok non kalo itu maumu...neeeh gue tunjukin !!“ Kataku sambil melepas kancing jeansku. Belum tahu dia kalo punya ku gede banget. “ Neeeh non coba liat besar kan ? “ Kataku sambil mengeluarkan batangku yang mulai membesar.
“ Wooo... besar juga punya loe... tapi gak keras gitu...loe terangsangnya terpaksa ya hahahaha.”Kata Rini tertawa.
“ Rin loe kan belum lepas semua..gimana gue bisa terangsang hebat, ayo lepas semua” Tantang ku sambil menarik ringan cdnya.
“ OK ok gue lepas...” Katanya senyum senyum sambil memejamkan matanya..
“ gimana ? udah besar belum ...udah keras belum...hmm...apa perlu di cium neeeh biar gede”
Gila neeh cewek..nantang terus, aku pegang tangannya lalu aku arahkan untuk memegang batangku yang mengeras dan besar.
Matanya membelalak ketika meremas batangku.” Gede banget !!!” katanya sambil melepas remasannya kemudian menutup mulutnya.
Mungkin dia kaget melihat ukuran milikku yang diatas rata rata, maklum aku sedikit ada keturunan arab.
“ Jadi loe normal dong...”Katanya memandangku dengan pandangan aneh.
“ Ah…kau ini..bandel…gue udah bilang gue normal..gue terangsang berat nehhh sekarang !! loe kudu tanggung jawab “ Kataku bercanda pura pura protes.
Perlahan Rini mendekat. Sambil menyentuh dadaku, Rini berbisik serak :” Gue tanggung jawabnya musti gimana Rud ?... Trus kita enaknya ngapain …? Pake baju lagi…? “ Wajahnya mendekat ke wajahku. Ganti aku yang bengong, terkaget kaget melihat reaksinya.
Wajahnya Cuma berjarak 10 cm dari wajahku. Tambah mendekat dan mendekat.
Aku agak panik, aku nggak tahu harus berbuat apa. Sorry bro aku memang gak ahli soal perempuan. Jujur bahkan aku sebenarnya belum pernah tidur dengan perempuan. Hahahaha…aku masih perjaka…!! Goblok ya..Tapi kenyataannya memang begitu. Dan kini tangan Rini mulai melingkar di leherku sementara aku masih tidak tahu harus berbuat apa.
Tapi entahlah seperti ada magnet yang membuat bibirku harus menyentuh bibirnya yang menawan itu. Matanya yang ternyata indah, kecoklatan dengan bulu matanya yang lentik itu terpejam lembut, bibirnya sedikit membuka seakan menunggu aku menyentuhnya dengan bibirku. Perlahan aku sentuh sekilas, kemudian aku ulangi lagi lebih lama, bibirnya terasa hangat, empuk sekali, terasa badanku meremang. Jantungku berdentangan di dadaku. Kakiku mendadak lemas.
Sialan aku baru sadar ternyata Rini cantik dan menggairahkan sekali. Secara naluri tanganku yang gemetar mulai mengarah memegang buah dadanya yang ternyata juga empuk dan lembut. Tangan Rini mulai menyentuh batangku yang menegang keras. Matanya kini membuka ketika mulai meremas batangku. Perlahan bibirnya turun mencium kedua putting dadaku kemudian turun sedikit bawah ke perut sixpack ku, …turun …turun…tiba tiba terasa ujung batangku menjadi hangat. Kehangatannya bertambah panas menuju pangkal batangku. Uhh.. ternyata begini rasanya di oral...gila ternyata nikmat banget. Kakiku sudah tidak kuat berdiri. Tanganku memegang meja untuk menahan tubuhku yang melemas. Dan Rini tampaknya mengerti, perlahan Rini berdiri lagi lalu menarik tanganku menuju tempat tidur kecil. O..oo.. apa aku harus menidurinya ? aduh..rasanya aneh..Tapi entahlah aku tidak bisa menghentikan naluriku.
“Rud loe kok pasif sekali sih...bisiknya lembut ditelingaku. “ Gue kurang sexy ya...”
“ Mmmm Rin..gue belum pernah..” Kataku tercekat dengan wajah memerah.
“ Hah ! belum pernah ?” Wajah Rini bener bener terkejut. Sampai perlu perlunya dia menarik tubuhnya agak menjauh saking kagetnya.
Rupanya Rini cepat paham, dia tidak mau memperpanjang pertanyaan pertanyaan konyolnya yang bakal membuat aku bertambah malu. “ Kita santai aja ya …loe berbaring aja…”Bisiknya tersenyum sambil mempermainkan ujung dadaku. Tubuh hangatnya kembali menyatu dengan menindih tubuhku.
Kami kembali berciuman dengan lembut. Makin lama makin liar, ganas. Ludah kami sudah saling bertukar. Nafas Rini makin menderu, perlahan jemarinya kembali meremas batangku.
Kemudian Rini duduk diatas tubuhku sambil mengarahkan batangku ke miss V nya. “ Meski belum pernah jangan buru buru loe keluarin ya Rud…” Katanya memohon” Gila punya loe jauh lebih besar dari punya suami gue …:” bisiknya mendesah sambil mulai memasukkan batangku. Posisinya yang diatas memudahkan dirinya mengatur penetrasi batangku.
Perlahan batangku mulai sedikit demi sedikit menghilang tenggelam di miss v nya.
Rini merintih sambil memejamkan matanya menikmati. Gila rasanya batangku dijepit kuat. Apakah memang begini rasanya bercinta. Apakah memang senikmat ini ? Perlahan Rini menggerakkan tubuhnya naik turun. Ya ampun gesekannya ternyata geli dan enak sekali. Gerakannya mulai liar dan cepat“ Rud...besar sekali.. aaahh enak Rud.. aduh kok enak sihhh. Jangan keluar dulu ya Rud...”
Sementara dia sibuk menerocos, aku malah terkagum kagum melihat wajahnya yang terangsang hebat. Aku baru sadar ternyata Rini cantik sekali, wajahnya sensual, dan ini bukan wajah yang sehari hari aku lihat.
Dalam hati aku menyesal, kenapa gue goblok banget, ngapain aja aku selama ini.
Aku mencoba mencium puting buah dadanya. Ingin tahu bagaimana rasanya puting buah dadanya yang indah itu. Aku kulum pelan pelan...gila ternyata enak sekali. Perasaanku melayang. Matanya terpejam, keringat nya yang wangi berjatuhan di dadaku..Bibirnya yang sedikit terbuka. Puting buah dadanya yang merah muda benar benar suatu keindahan yang tiada taranya.
Ya ampun ...bodoh sekali aku. Timbul penyesalan dalam diriku mengapa Rini harus menikah dengan laki laki lain. Seharusnya aku yang mendapatkan dirinya...seharusnya aku yang resmi menikmati tubuhnya. Seharusnya aku sadar kalau dia juga menyukaiku.
Rini makin mempercepat gerakan tubuhnya. Sementara aku sendiri merasa ada yang seuatu yang akan keluar..gila masa aku harus secepat ini ejakulasi…malu dong. Aku coba tahan…aku mulai mengerang…Rini mulai menjerit kecil..tiba tiba tubuhnya tersentak sentak..suaranya tercekat, inikah yang dinamakan orgasme ? Kemudian tubuhnya lunglai di dadaku.
Aku masih berusaha memompa miss Vnya. Semakin geli semakin nikmat, aku sudah tidak kuat…dan aaah Rini menjerit kecil ketika aku menyemprotkan spermaku jauh kedalam.
Kami berpelukan lama…nafsu liar Rini mulai kembali normal. “ Rud.. terima kasih..” bisiknya. Aku mencium keningnya sambil memeluknya erat. Kemudian kembali melumat bibirnya lama... Sepertinya aku mulai menikmati permainan cinta ini.
Dug dug dug...!!Suara tendangan sepatu Niken yang sudah aku hafal terdengar jelas menggedor pintu.
” Rin, suamimu datang pake helicopter tuh, kayaknya dia bikin surprise neehh” “ Teriak Niken dari balik pintu cabin. “ Kamu ngapain seeeh ? cepet temuin dia, katanya kangen…!! ditunggu di atas tuh !!…”Teriaknya lagi.
Upppsss..! kami sama sama terlonjak kaget.
__________________
Tamat
Sinar matahari yang menyelinap melewati kaca jendela di kamarku seakan menyadarkanku bahwa hari telah beranjak siang, mengejap-ngejapkan mataku, melirik ke arah jam sekilas, terkaget sesaat dan membuatku untuk segera bangkit, mengucek-ngucek mata dan meraih handuk dan segera bergegas ke kamar mandi.
Hari ini mengingatkanku bahwa aku dan Moza siang ini akan berangkat untuk menjemput Tante Marissa ke Bandara, dalam hati aku bertanya-tanya, seperti apakah adik Tante Mala ini, apakah secantik kakaknya, sebaliknya atau malah lebih cantik ? aku sendiri mungkin dulu pernah kenal dengan tante Marissa ini, mungkin, sewaktu aku kecil dulu, toh biar bagaimanapun dia juga sepupu jauh ibuku, tapi aku sudah lupa sama sekali, apalagi semenjak SMP aku paling malas apabila harus ikut-ikut keluargaku mengunjungi sanak saudara. Sambil mengguyur badanku dengan air dingin aku membayangkan bagaimana sebenarnya sosok tante Marissa tersebut.
Selesai Mandi, jam menunjukkan pukul 10 lebih seperempat, tumben aku bangun sesiang ini, mungkin karena aku terlalu lelah barangkali, atau …. Tiba2 aku tersenyum, mengingat kejadian semalam dengan Mita, duh mungkin karena aku telah membuang spermaku begitu banyak sehingga badanku butuh istirahat untuk memulihkan tenaga kembali.
Bergegas aku berpakaian, serapih mungkin, ya namanya juga jalan ma cewek cakep, musti lah.. minimal baju agak bersih, walaupun udah 4 taon yang lalu belinya, pake t-shirt berkerah, biar keliatan kayak esmud, eksekutip muda, bukan sendal musholla, cuman sayang gara2 keseringan naek angkot yang begitulah, kerah gak ada yang bersih… heheheh..
Setelah memilih2 baju layaknya lagi belanja di Dept store kelas 2, akhirnya kecomot juga, yang kira2 paling kinclong, mematut-matut sejenak di depan kaca, kemudian segera bergegas berjalan menuju ruang bawah.
Kulihat kamar Tante Mala agak sedikit terbuka, namun aku tak tertarik untuk melihat ke arah dalam, walau hanya sekilas, kepalaku seolah berat untuk menengok ke arah kamar tersebut. Namun yang jelas sepertinya aku merasa bahwa ada orang didalam kamar tersebut, mungkin Tante Mala pikirku. Yang jelas didalam pikiranku saat itu adalah Moza, yang jelas aku merasa kurang gentle apabila aku merasa bahwa Moza telah menungguku di ruang bawah, menunggu untuk keberangkatan kami.
Kupandangi ruang keluarga, ke arah sofa, namun tak kulihat sesosok tubuhpun, duh, ada rasa deg-degan menghinggapiku, jangan2 Moza telah pergi, menyangka aku malas menemaninya sehingga memutuskan untuk pergi sendiri atau dengan orang lain, celaka !
Namun kulihat jam belum menunjukkan pukul 11 siang, masih ada 20 menit, berarti belum lewat dari janjiku kemarin jam 11, berusaha menenangkan kegugupanku dan aku memutuskan untuk menuju meja makan dan mengambil sarapan yang mungkin telah dingin.
Sambil mengunyah sarapan, aku memandang tivi yang nampaknya telah menyala sejak tadi, melihat sekilas acara tivi yang menayangkan sinetron murahan tanpa mencernanya kedalam otakku, pikiranku hanya satu, Moza, seperti apa ia hari ini ? apakah ia akan tampil cantik seperti biasanya, apakah aku pantas untuk berjalan mendampinginya, ataukah orang-orang akan menganggapku seperti supir yang mengantarnya ? duh mak ! makin deg-degan aja nih !
Tak lama kemudian, telingaku seakan menangkap suara langkah kaki menuruni tangga, secara spontan kepalaku menengok mengadah menuju arah suara tersebut, dan tak lama kemudian mataku menangkap sesosok tubuh berjalan menuruni tangga, tak salah otakku segera menangkap sosok tubuh tersebut, Moza. berjalan dengan anggun, menampilkan kecantikannya !
Ia tersenyum memandangku, melangkah menghampiriku, duduk dimeja makan dihadapanku, kemudian berkata “Cieee Aa, udah rapih euy, kirain belom bangun .. hehehe..!” aku hanya tersenyum menatapnya tanpa berkata apa-apa. Kemudian tanpa kuduga ia berkata lagi, “A, kayaknya mamah mo ikut ! jadi kita bertiga berangkatnya !” kaget aku mendengar kata-katanya namun segera aku menutupi kekagetanku, “Loh, kirain mamah gak mo ikut !” kataku menyahutinya, “Bukannya mamah kelihatan kurang sehat ?” aku berkata lagi, “Jah Aa, kaya gak tau mamah aja, dia mah kalo namanya pergi mah sehat aja !, lagian semalem telp2-an ma Tante Marissa lama, kayaknya Tante Marissa datang sendiri gak sama suaminya, jadi kayaknya sehabis dari bandara kita gak langsung kesini, mungkin kita terus nginep di rumah nya Tante Marissa, di sana “, (sambil menyebut sebuah nama tempat bersuhu dingin).
Aku jadi bertambah kaget saja, duh, kok jadi berubah gini acara ?, bisa ancur nech rencana “penyesuaian” dengan Moza, sahutku dalam hati. “Lah terus gimana kita ?” tanpa kuduga aku melontarkan kata-kata itu, entah apa maksudnya, terlontar begitu saja, upss, jangan2 Moza menangkap ada maksud tertentu dibalik kata2 itu. “Gimana, gimana A ?” moza balik bertanya kepadaku tapi sukurlah sebelum aku menjawabnya Moza sudah menjawabnya terlebih duluan, “Yaa.. kita ikutan nginep, aa bawa baju sekalian ...! “ sambil terkekeh ia menatapku.
“Yah... lama dong ? “ kataku lagi, Moza nyengir kemudian ia berkata lagi, “Aa libur kan ?, lagian enak kok A dirumahnya Tante Marissa, gede, dingin udah kaya villa aja.. “, katanya lagi !, “Ohh ya udah, emang mo berangkat jam berapa sih ?”, kataku lagi. “Ya tungguin mamah aja, mamah kelar kita langsung berangkat, kan dari sini ke bandara sekitar 3-4 jam sampe sana jam 4an, masih ada sejam nunggu pesawat landing”, katanya lagi.
“Ya udah kalo gitu, Aa nyiapin baju dulu, kirain mo langsung kesini, Tante Marissa mo nginep disini “ kataku. “ya aa, mo tidur dimana nanti dia ? biasanya Tante Marissa dari dulu juga langsung ke rumahnya, bawa barang seabrek-abrek, nanti setelah dari rumah, biasanya ya langsung deh, keliling ke keluarga”, katanya lagi. Aku mengangguk-angguk seperti menyetujui perkataannya, kemudian aku beranjak dari bangku dan berkata kepadanya akan menyiapkan pakaian untuk keperluan menginap nanti, duh repot, aku pikir bolak-balik sehingga aku tak memerlukan pakaian salinan.
Bergegas aku ke kamar atas, tak enak rasanya bila aku bersantai ria, takut bila nanti ternyata mereka menungguku berkemas dan menampilkan muka cemberut bila kelamaan menungguku, he...gak lah !
Menapaki lantai atas kini pikiranku mulai penasaran, kepalakku seperti berat untuk tidak melirik kedalam kamar Tante Mala, kembali ada rasa penasaran untuk melihat ke arah dalam kamar, pelan aku melangkah, berusaha agar tidak terdengar langkah kakiku. Menoleh sejenak kedalam kamar yang pintunya terbuka setengah dan kulihat disana, tampak Tante Mala sedang berdiri di atas cermin, sedang berdandan, dengan hanya mengenakan Bra dan Celana Dalam, seolah tak perduli bahwa ada lelaki lain di rumah ini !
Aku menjadi terdiam melihat sosok Tante Mala, begitu cantik, badan bersih, putih, ramping dengan payudara yang cukup besar dan proporsional, kembali dadaku bergelegak, perutku seperti ada dorongan hawa, membuat darah kelaki-lakianku naik. Teringat aku akan suatu saat lalu, ketika dalam keadaan sadar dan tidak sadar kami melakukan hubungan intim, entahlah, apakah tante Mala menyadarinya, ataukah tidak ? ataukah ia sebetulnya sadar namun tidak ingin menyadarinya. Entahlah. Sepertinya mataku tidak ingin berkedip, namun ada rasa tak enak bila tiba2 nanti Moza menyusul ke lantai atas dan memergokiku sedang mengintip mamanya, bergegas aku melanjutkan langkahku menuju kamarku.
Setelah merasa cukup dengan pakaian sebagai salinanku nanti, memasukkannya kedalam tas, aku bergegas keluar kamar karena kudengar tadi seperti ada suara pintu ditutup, nampaknya Tante Mala telah siap, dan benar saja, kulihat kamar Tante Mala kini telah tertutup rapat, begitu juga dengan kamar Moza yang semula tadi terbuka kini juga tertutup. Nampaknya mereka telah menyiapkan segala sesuatunya sejak tadi atau mungkin sejak kemarin.
Aku melangkahkan kakiku dengan cepat, menuruni tangga dan menuju ke depan rumah ke arah garasi, kulihat mobil telah dinyalakan untuk dipanaskan mesinnya, dan nampak disana Moza sedang duduk di dalam mobil sedangkan tante Mala sedang memasukkan barang2 bawaan kedalam bagasinya mengatur posisi barang layaknya hendak pergi jauh.
Dan duh kulihat Tante Mala dengan dandanannya yang memang cukup aduhai, mungkin menurutnya ini adalah hal yang biasa saja, tapi menurut penglihatannku penampilan Tante Mala layaknya seperti seorang wanita yang hendak pergi kepesta saja. Cantik dan anggun !.
Aku menghampiri mereka, dan Tante mala tersenyum melihatku, ramah, layaknya melihat seseorang yang telah lama tak dilihatnya, “Fan, udah siap ?” katanya melihatku !, aku tersenyum membalasnya dan menghampirinya, kemudian aku memasukkan tasku kedalam bagasi mobil Tante Mala yang cukup besar, mengatur agar muat dan menyisakan ruang yang cukup.
Setelah dirasakan tidak ada yang tertinggal, aku melihat sekeliling memastikan semua berjalan sebagaimana mestinya, kulihat Tante Mala bercakap dengan Bi Iyem, mungkin untuk memastikan bahwa selama kepergian kami semuanya akan baik2 saja, dan berpesan untuk melakukan sesuatu selama beliau tidak ada. aku jadi ingat dengan keadaan di rumahku di sana, saat ibu dan ayahku akan bepergian, palingan beliau berpesan agar aku tidak lupa untuk mengangkat cucian, agar idak kehujanan, jah.. cucian kok di bikin khawatir, palingan sarung belel, ma celana panjang lusuh, paling banter kebaya yg udah ilang kelirnya,,, hehehe, lah kalo Tante Mala mah pantes, ninggalin pesen supaya jangan lupa begini, begitu. Hehehehe....
Dan tak lama kemudian, dengan Moza disebelah kiriku, dan Tante Mala duduk dibelakang, mobil kuarahkan ke arah luar kota, melewati Tol, ke arah bandara di luar kota nun disana.
Benarlah setelah kira-kira memakan waktu sekitar 4 jam, ditambah dengan waktu kami makan siang di sebuah perhentian, dimana yang jelas disana tadi banyak mata memandang kami, terutama mata lelaki yang kelihatan liar, siap menelan mentah-mentah 2 wanita yang bersamaku dan aku mencoba untuk menjaga mereka, seolah aku adalah seorang bodyguard yang siap menyelamatkan mereka walau hanya sekedar menjaga dari pandangan mata lelaki iseng. Padahal....
Jam 4 lewat kami tiba di bandara, waktu masih lama, karena setahu kami pesawat dari eropa biasanya tiba setelah jam 5an, dan itupun bila tidak delay. Dan memang setelah kami meninggalkan parkiran dan menuju aula kedatangan, tampak dilayar yang berada di ruang lobby tersebut, terdapat deretan no pesawat kedatangan, dan jelas bahwa pesawat yang ditumpangi Tante Marissa belum mendarat.
Kami mengobrol di ruang tungu bandara tersebut, ngalor ngidul, bercerita mengenai Tante Marissa yang biasanya 2 – 3 tahun balik ke indonesia, bersuamikan seorang eks patriat, dan dikaruanai 2 anak laki2 yang saat ini sudah duduk di bangku SMA dan SMP, biasanya mereka sekeluarga datang namun kali ini hanya Tante Marissa sendiri, mungkin karena kesibukan sang suami dan anak2 yang mungkin mempunyai acara sendiri sehingga mereka enggan untuk ikut sang Mama ke indonesia, ke kampung halamannya.
Entah berapa lama kami menungu, dilayar monitor masih belum ada kejelasan kapan pesawat akan mendarat, aku melihat lagi ke arah monitor, berulang-ulang, seakan ingin meninggalkan kejenuhan karena menunggu. Dan benarlah rasa khawatirku terbukti, kulihat di layar monitor kini tampak status pesawat adalah terlambat, tanpa diketahui kapan kedatangannya.
Setelah beberapa lama menunggu, akhirnya kami memutuskan untuk mencari cafe dan memutuskan untuk disana. Sambil menghilangkan rasa lapar dan haus. Dan kami memutuskan untuk bergantian memonitor perkembangan kedatangan pesawat.
Entah berapa lama kami menunggu, sekitar jam 9 malam, baru ada kabar bahwa pesawat akan tiba dan mendarat, kami bergegas meninggalkan café dan segera menuju ruang kedatangan. Benarlah setelah menunggu kembali beberapa saat, nampak Tante Mala menunjuk kepada seseorang di arah pintu keluar sana, kulihat kearah yang ditunjuk, nampak disana sesosok wanita paruh baya yang cantik, dengan membawa beberapa koper berjalan pelan seolah keberatan dengan barang bawaannya, memalingkan kepala ke beberapa arah, seperti berusaha mencari seseorang. Dan tak lama kemudian pandangannya mengarah ketempat kami berdiri, tampak wanita itu tersenyum melebar dan bergegas menghampiri kami.
“Aduh, Teh, maaf lama ya nuggunya, tadi pesawat ditahan dulu di singapore, meni lama “ kata Tante Marissa sambil mencium pipi tante Mala, kemudian beliau berpaling ke Arah Moza, dan berkata antusias melihatnya “Moza, kamu meni udah gede pisan , duh udah jadi wanita cantik dan dewasa sekarang !” Katanya kepada moza, layaknya seperti sudah bertahun-tahun lama tidak bertemu. Memeluknya dan menciumi kedua pipi sang keponakan.
Kemudian beliau berpaling kepadaku, aku hanya tersenyum melihatnya, malu, deg-degan, takut dicium juga, dan lagi, takut banget disangka supir atau pembantu, padahal kalo ikut dicium yaa belom tentu nolak lah !, “Bentar, ini sapa Moz, calon suami kamu ?” katanya lagi sambil menunjuk kearahku dan berpaling ke arah Moza, aku terkaget-kaget mendengar perkataannya dan nyengir menahan malu, kulirik Moza disebelahku seolah memohon bantuan untuk menjelaskan dirinya siapa aku. Namun sebelum Moza menjawab, Tante Mala tanpa disuruh sudah menjawab pertanyaan Tante Marissa, “Ini Mar, putrana Teh ... (sambil menyebut nama ibuku) “ aku tersenyum mengangguk seolah mebenarkan ucapan Tante Mala, dan kemudian tanpa dinyana dan diduga Tante Marissa bergerak menghampiriku “Ya ampun ini teh Fandi Tea ?” duh.. udah berapa lama ya Tante gak pernah ngeliat kamu ? terakhir Tante Liat kamu waktu kamu masih SD mungkin ! waktu Tante Masih kuliah dulu !, ya ampun.. udah gede ya Fandi !” katanya antusias dan tanpa dinyana dan tanpa diduga beliau memelukku dan mencium pipiku, kanan kiri, pas !. (jangan ngiri loe, pembaca !)
Begitulah setelah berbasa-basi sejenak, aku menawarkan diri untuk membantu membawa barang2 Tante Marissa dan Moza juga turut membantuku, hingga akhirnya kami berempat dengan masing2 membawa barang, berjalan menuju arah mobil dimana mobil kami diparkir.
Setelah mengatur posisi barang di dalam bagasi mobil, Moza menanyakan kepadaku apakah aku lelah untuk menyetir dan bermaksud menggantikan aku untuk membawa mobil, namun aku hanya tertawa dan menyuruhnya untuk duduk disampingku dan membiarkanku untuk membawa mobil, setelah berbisik kepada Moza untuk memberitahukan kemana arah yang dituju, aku melesatkan mobil meninggalkan area bandara.
Sepanjang jalan aku kebih banyak hanya terdiam, mendengarkan ketiga wanita ini bercakap-cakap seolah serius dan fokus membawa mobil yang kukendarai. Sesekali aku menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Tante Marissa mengenai keadaan keluargaku, dan kadang pekerjaanku, namun pikiranku lebih banyak melamun, kadang aku melirik kearah kaca spion tengah didepanku, melihat kearah belakang, dan tanpa sengaja aku turut melihat wanita dibelakangku, yang kesemuanya cantik. Bila aku membandingkan kecantikan antara Tante Mala dan Tante Marissa rasanya sulit, sebab masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangan sendiri, namun bila diberi nilai, maka hasilnya adalah seri !.
Daerah yang kami tuju adalah daerah lumayan jauh, mungkin waktu yang kami tempuh adalah sama dengan tadi, arah tadi kami datang adalah dari sebelah timur, maka kali ini kami lebih ke selatan, menuju daerah pegunungan yang berhawa cukup dingin. Entah sejak dimana tanpa kusadari semua penumpangku mulai tertidur.
Sekitar jam 1 lewat kami telah tiba di kota tersebut, saat memasuki pinggiran kota, aku membangunkan Moza untuk menanyakan arah rumah Tante Marissa, kulihat kota masih ramai dengan lampu yang menyala, rasa lapar menghinggapiku, saat aku membangunkan Moza, kurasakan Bahwa Tante Mala dan Tante Marissa juga ikut terbangun. Mungkin rasa lapar juga menghingapi kami semua, hingga tanpa dikomando Tante Mala menyuruhku untuk berhenti saat melihat ada warung sate dipinggir jalan yang masih buka.
Moza hendak turun untuk memesan sate, namun aku hendak mencegahnya karena kulihat banyak pemuda yang sedang nongkrong disana, tapi nampaknya aku terlambat, moza sudah turun dan menuju warung sate tersebut, aku bergegas turun untuk mendampinginya dan seakan ikut ambil suara dengan sate yang akan dipesannya.
Tampak kulihat mata2 jahil kembali menatap Moza, dan seperti ada efek protection, aku menghampiri Moza dan meraih bahunya, memeluknya dari samping, seakan ingin memberitahukan pada pemuda2 disitu bahwa ini adalah cewekku, jangan coba-coba kamu menggodanya. Aku memeluknya tanpa aku sadari.
Dan nampaknya Moza juga tidak melakukan perlawanan, mungkin karena hawa dingin dan dia hanya menggunakan t-shirt, sehingga dia tidak menolakku saat aku memeluknya, dan mungkin karena ada rasa kekeluargaan diantara kami, mungkin dia menganggap aku adalah kakaknya dan merasa aman bersamaku, sehingga dia malah menyandarkan punggungnya di dadaku. Duh mak, entahlah bagaimana kurasakan hatiku saat ini, yang jelas aku merasa bahwa Moza saat ini adalah seperti cewekku.
Entah sampai berapa lama hal ini kualami, yang jelas aku berharap selamanya, aku hanya berharap sate yang dibakar lama matengnya, ada keinginan situasi ini menjadi makin lama, makin lama makin asyik, namun sepertinya sang tukang sate tidak sehati denganku, karena sate tiga puluh tusuk yang kami pesan nampaknya sudah matang, dan kemudian beliau membungkusnya cepat dan memberikannya kepada Moza setelah moza membayarnya. Kami meninggalkan warung sate itu dengan diiringi pandangan ngiler dari lelaki2 yang memperhatikan kami, duh seandainya Tante Mala dan Tante Marissa yang turun, dengan baju yang dipakainya saat ini, dengan belahan rendahnya, mungkin mereka secara spontan akan coli ditempat.. hehehehe...
Kami masuk kembali kedalam mobil, menyalakannya kembali dan membawanya kearah yang ditunjuk oleh Moza. Dari jalan raya tempat kami membeli sate tadi, mobil kubelokkan ke arah jalan yang lebih kecil memasuki jalan yang lebih keatas, cukup hanya bisa dilewati oleh 2 mobil saja, pelan melewati jalan licin dan menanjak. Dan setelah berapa kilometer, jalan berakhir dijalan yang berbatu-batu yang aspalnya mungkin sudah rusak. Berjalan kembali beberapa ratus meter dan Moza menunjuk pintu gerbang disebelah kanan, aku menepikan dan menghentikan mobil, dan tanpa dikomando Tante Marissa turun dari mobil, kulihat moza ikut turun menghampiri gerbang dan berusaha untuk membuka gerbang yang terkunci itu. Nampaknya Pintu gerbang terkunci, namun setelah beberapa saat mengetok-ngetok gembok dengan membenturkannya ke tiang gerbang, nampak kulihat seseorang berlari perlahan menuju gerbang. Kulihat sesosok laki-laki tua berusaha membuka gerbang, dan tak lama kemudian pintu gerbang hitam itu terbuka lebar.
Saat aku memasukkan mobil kedalam halaman yang cukup luas itu, kulihat Tante Marissa bercakap-cakap dengan bapak tua tersebut, aku memajukan mobil terus kedalam halaman dalam. Mungkin dari pintu gerbang ke dalam pintu utama rumah bisa mencapai 400 meteran jaraknya. Wow, yang jelas ini bukan rumah, tapi mungkin lebih tepat seperti villa saja. Dalam gelap kuperhatikan sekeliling rumah, agak seram dengan pohon-pohon tinggi melingkup halaman rumah ini. Pandanganku hanya mampu melihat beberapa meter ke depan saja. Entahlah, bagaimana rumah ini pada siang hari.
Setelah mematikan mesin mobil, aku menurunkan barang-barang yang berada dibagasi mobil, Tante Mala turun dari mobil, memintaku menurunkan barang-barangnya juga dan membawanya keruang dalam, tak lama kemudian Tante Marissa dan Laki-laki tua itu, yang akhirnya kuketahui bernama Mang Darta, membantuku menurunkan barang-barang dan memasukkkannya kedalam rumah.
Rumah sebesar ini hanya di tunggui oleh Mang Dharta seorang, mang Dharta telah ikut menjaga rumah ini beberapa tahun lamanya, beliau asli orang sini, diusianya yang telah mencapai 70 tahun dengan badan yang masih tegap dan kekar, istrinya adalah juga asli orang sini, kadang sang istri menemaninya disini untuk turut membersihkan rumah, di dekat gerbang tadi kulihat memang ada sebuah rumah mungil, mungkin disanalah mang Dharta tinggal, sambil menjaga rumah ini.
Selesai menurunkan barang-barang, aku memasuki rumah tersebut, rumah yang besar ini sepertinya hanya mempunyai satu lantai saja. Rumah tampak apik dan asri, walaupun sang empunya rumah mungkin hanya sekali atau 2 kali beberapa kali saja dalam setahun datang, namun rumah ini seperti setiap hari ada yang meninggalinya. Namun rasa seram tetap saja ada, belum lagi ditambah hawa dingin yang melingkupi rumah ini.
Namun setelah lampu tengah dinyalakan, barulah sepertinya ada rasa hangat melingkup rumah ini, aku langsung merebahkan kakiku di sofa ruang tamu, koper dan barang2 bawaan sengaja kuletakkan di ruang tengah, seperti ada rasa lelah yang sangat, menghinggapiku. Setelah kurang lebih 13 jam diperjalanan. Berusaha memejamkan mata namun rasa lapar masih menghinggapiku, hingga kemudian Moza memanggilku, ke ruang tengah, disana kulihat 3 bidadari telah berada disana, Tante Mala dan Tante Marissa tampak sedang menyiapkan piring makanan, Moza kulihat sedang merebahkan diri juga karpet bawah, sepertinya ngantuk juga menderanya.
Tante Mala dan Tante Marissa menyuruh aku dan Moza untuk makan terlebih dahulu, sebelum tidur, dan tanpa disuruh 2 kali, aku beranjak bangun dan mengambil nasi beserta sate yang dihidangkan diatas meja. Tanpa banyak cakap aku menghabiskan nasiku, kulihat Moza hanya mengambil sedikit nasi dan beberapa tusuk sate, begitu juga dengan Tante Mala dan Tante Marissa, hmm, sepertinya masih banyak tersisa untukku nih... hehehe... dasar rakus !.
Selesai makan, Tante Marissa mempersilahkan aku untuk mengambil kamar dimana saja aku suka, rumah itu sangat besar, kulihat paling sedikit ada 5 kamar didalam, Tante Marissa dan Tante Mala dan mungkin juga Moza sepertinya tidur dalam satu kamar, kamar di ruang depan, kamar yang paling luas kulihat, dan mungkin aku juga berpikir, dengan rumah sebesar ini jangan2 ada penungunya nih selain Mang Dharta, maka kusimpulkan untuk mengambil kamar yang berdekatan dengan kamar mereka.
Namun sepertinya Moza ingin cepat tidur dan tanpa kuduga sebelumnya Moza mengambil kamar yang telah diincar olehku, ia mengambil kamar tepat disebelah kamar Tante Marissa, sepertinya ia sudah sering kesini dan biasa menempati kamar itu. Dan mungkin juga Moza akan tidur dengan sang Mama.
Entahlah selesai makan aku sangat mengantuk, kulangkahkan kakiku dengan gontai menuju kamar yang terletak disamping kamar yang ditempati oleh Moza, pamit untuk tidur duluan kepada Tante Marissa dan Tante Mala kemudian menuju kamar tersebut, meraih Tas di atas karpet membawanya kedalam kamar, melemparkannya kesudut kamar, merebahkan badan, menarik selimut yang berada dibawah kakiku, enggan untuk mencuci muka, dan tanpa diperintah lagi, kupejamkan mataku, melayangkan pikiran, semakin gelap dan terlelap.
Entah jam berapa saat kukejap-kejapkan mataku, mungkin hari telah menjelang siang, karena kulihat gorden kamar berwarna krem dikamar ini seperti berwarna kuning menyala. Menggeliatkan badan seakan hendak mengusir rasa pegal yang melanda, namun rasanya segar dan fresh badanku, mungkin karena suhu udara didaerah ini yang masih dingin walaupun hari telah siang.
Bangkit dari tempat tidur, berjalan menuju keluar kamar, bermaksud langsung menuju ke kamar mandi, kuintip sebentar melongok keluar pintu kamar, waspada seandainya ada mahluk wanita memergokiku dalam keadaan yang jelas aku sendiri gak pengen diliat ... he.
Tampak sepertinya suasana masih sepi, kulihat diluar ruangan tak nampak seorangpun disana, mataku memperhatikan sekeliling, mencari letak kamar mandi, entah disebelah mana letak kamar mandi tersebut, namun jelas aku mengambil kesimpulan bahwa letak kamar mandi pasti di arah belakang rumah ini. Aku melangkahkan kakiku kearah kanan, menuju arah belakang dengan menenteng handuk dan perlengkapan lainnya yang telah kusiapkan.
Bermaksud berjalan cepat, menuju arah belakang, menilik-nilik dimana letaknya, akhirnya kupastikan bahwa kamar mandi yang kutuju berada disebelah kiri lorong ruangan, terlihat didepan salah satu pintu ruangan terdapat keset alas kaki, tersenyum aku, karena pencarianku berhasil. Ketika bermnaksud hendak berbelok dan meraih gagang pintu untuk membuka ruangan tersebut, hampir saja aku bertabrakan dengan sesosok tubuh, sekonyong-konyong pintu ruangan yang tertutup itu, terbuka. Upss ...dan seseorang keluar dari kamar mandi !
Tante Marissa !, terkaget aku, dan berusaha tersenyum, untuk menutupi kegugupanku, “Eh Tan, kirain gak ada orang !” kataku sambil menunduk. Tante Marissa membalas senyumanku dan kemudian berkata “Eh Fandi, sudah bangun Fan ?, gimana tidurnya semalam ? nyenyak ? pasti kamu capek !, tuh Teh Mala ma Moza masih pules ” beruntun kata-kata keluar dari mulutnya sambil tersenyum membalasku.
“Lumayan Tan, nyenyak banget sampe gak ingat apa2, loh Tante tidur Jam berapa ? kok udah bangun ?” Kataku lagi, karena seingatku semalam Tante Mala dan Tante Marissa masih bercakap-cakap asyik ketika aku memasuki kamar tidur.. Tante Marissa tersenyum, “Tante tadi udah tidur, tapi gak begitu nyenyak, cuman tidur biasa aja, mungkin masih pengaruh jetlag diperjalanan kemaren, lagian selama dipesawat Tante juga tidur terus kok “ katanya lagi menjawabku. Aku hanya mengangguk dan tersenyum menerima penjelasan darinya, “Ya udah Kamu mandi dulu aja Fan, tante Mau beberes di depan dulu, sekalian mo cuci mobil” katanya lagi.
Aku hanya mengangguk tanpa berani untuk membuka percakapan lebih lanjut, duh bagaimana tidak kalo aku perhatikan, Tante Marissa secantik Tante Mala, dengan tubuh proporsional, saat ini hanya dengan bercelana pendek warna putih dan hanya berbeha warna merah bermotif kembang atau kupu-kupu putih dengan cueknya berdiri dihadapanku, yang jelas bikin aku jadi blingsatan dan kebingungan sendiri. Kalo saja dihadapanku adalah Moza tentu dia telah blingsatan untuk menutupi belahan Bra-nya, mungkin sedari awal dia sudah menutupi dengan tangannya dan berlari menjauhiku. Namun untuk Tante Marissa ini adalah hal yang lumrah.
Aku membasahi tubuhku dengan air, duh dingin sekali layaknya diguyur air es, memang biasanya didaerah pegunungan seperti ini, semakin siang, suhu semakin panas, namun air lambat menaikkan suhunya, sehingga air yang kita rasakan akan semakin dingin. Selama membersihkan tubuhku, pikiranku melamun, melamun kotor dan semakin kotor, duh seandainya tadi Tante Marissa mengajakku untuk mandi bareng, hehehe.. semakin lama semakin kotor… hingga menimbulkan gairah sendiri yang tak terbendung.
Selesai Mandi, cukup lama kurasa, hanya dengan bercelana pendek dan bertelanjang dada, kembali ke kamarku, saat itulah kulihat pintu kamar Moza yang setengah terbuka, mungkin tidak ditutup, dan kulihat Tante Mala telah duduk ditepi ranjang, Kulihat beliau nampak telah terbangun, kulihat juga Moza masih tertidur pulas. Sepertinya Tante Mala dan Moza tidur berdua, sekilas keperhatikan Tante Mala, dengan berbaju tidur warna putihnya, dan seperti biasanya dengan belahan sangat rendah dan tanpa bra, mungkin sedang mengumpulkan nyawanya agar lebih sadar. kulihat jam di dinding telah menunjukkan pukul 11 lewat.
Hanya sekilas, dan sepertinya Tante Mala tidak menyadari bahwa aku memperhatikannya, dan setelah itu aku bergegas ke kamar, memakai kaos belel untuk menutupi badanku, menyisir rambut dan mematut-matut diri sejenak. Seperti niatku semalam, aku hendak berkeliling rumah ini, meneliti keadaan sekitar. Keluar ruangan, kulihat kamar Moza masih terbuka, namun tak kulihat Tante Mala, mungkin beliau sedang ke kamar Mandi, pikirku. Aku bergegas keluar menuju ruang depan.
Kubuka pintu menuju beranda, rumah yang besar ini, dengan desain model lama, tampak megah dan indah, dengan pemandangan yang asri, halaman yang sangat luas, mungkin beberapa ribu meter, jauh dari tetangga, segar dan indah sekali. Halaman samping dipenuhi rerumputan dan tanaman yang indah dan asri, dibelakang rumah dengan dikelilingi tembok cukup tinggi dengan pohon bambu yang melingkupinya, tampak sebuah kolam renang yang bersih karena terawat dengan airnya yang bening kebiru-biruan. Dengan kondisi seperti itu mustahil orang lain dapat melihat aktifitas di kolam renang dari luar.
Memandang kembali ke arah depan, kulihat di jalan masuk tampak Tante Marissa sedang mencuci mobil, masih dengan pakaian tadi dengan cueknya, bercelana pendek warna putih dan hanya mengenakan Beha warna merah bermotif putih. Tampak asyik sedang mencuci mobil, aku sendiri agak heran, karena jelas semalam aku tidak melihat mobil sedan terparkir disana, jelas bukan mobil Moza yang semalam aku kendarai, mungkin ini mobil beliau yang memang sengaja disimpan disini, memang mobil itu tampak agak kotor, yah mungkin karena tidak pernah dipakai dalam jangka waktu yang cukup lama.Yah toh mungkin ini sah-sah saja, karena jelaslah buat orang berada seperti beliau apa sih yang tidak mungkin ? dengan pikiran bahwa jika beliau sewaktu-waktu kembali ke indonesia, dan harus menggunakan mobil sewaan dan harus menginap di hotel dalam jangka waktu yang cukup lama, tentu hal ini cukup memboroskan, apakah tidak lebih baik jika beliau mempunyai tempat tinggal sendiri dan kendaraan sendiri yang kapan saja hendak digunakan.
Kuperhatikan Tante Marissa tampak mencuci dan membersihkan mobil tersebut, menggunakan ember dan selang yang ada, tampak asyik dan serius, duh kenapa dia tidak menyuruh Mang Dharta untuk membersihkannya ? pandanganku jadi berkeliling kembali, mencari sosok mang Dharta, dimanakah beliau gerangan ? tak nampak sosok yang aku cari. Akhirnya aku memutuskan untuk berjalan mendekati Tante Marissa, untuk menanyakan mengapa ia mencuci mobil sendiri ? dan mungkin aku dapat membantunya.
Tapi langkahku terhenti, rasanya ada langkah berat yang menahanku untuk membantunya, pikiran kotorku mulai datang, karena dari posisi disini, cukup jelas terlihat sosok indah itu, Tante Marissa dengan bodynya yang cukup aduhai dan menantang tampak seolah menggodaku untuk memperhatikannya lebih jauh. Duh, emang dasar aku mempunyai pikiran kotor, orang lagi mencuci mobilpun aku dengan mudah membayangkannya dengan hal yang ngeres !.
Apalagi pada saat beliau sedang berjongkok untuk membersihkanbagian bawah mobil , seolah aku dapat melihat jelas kedalam selah diantara celana pendeknya, bahwa saat ini beliau tidak menggunakan celana dalam… aduh !
Entahlah memang asyik melihat pandangan seperti ini dan makin lama rasanya aku semakin terperangkap, mulanya ada rasa ragu dan takut, namun hal ini seakan sudah menjadi biasa, dan lama-lama aku menganggapnya menjadi hal yang lumrah. Jadi ngaco nih !
Aku kembali masuk kedalam rumah, masih lelah sepertinya, ngantuk masih menyergapku, akhirnya aku kembali ke kamar, mencoba membaringkan kembali tubuhku, hingga rasa lapar menyergapku.
Tak banyak kegiatan dilakukan hingga sore hari, makan siang telah disiapkan oleh istri mang Dharta yang datang berkunjung setelah dijemput oleh suaminya, setelah itu Mang Dharta pergi mengantarkan sang istri dan berjanji akan kembali setelah malam. Hari hanya diisi oleh obrolan-obrolan hangat antara kami, Aku, Moza, Tante Mala dan Tante Marissa. Karena aku hanya laki-laki seorang dan rasanya tak enak berkumpul dengan para wanita cantik yang kadang bercanda tertawa terbahak pada saat menceritakan hal-hal lucu dengan diiringi tingkah laku yang kadang membuat aku jengah. Yah bagaimana tidak, dengan pakaiannya yang menurutku agak terbuka, Tante Marissa yang dengan hanya mengenakan Beha, Tante Mala yang mengenakan Daster Tipis Tanpa Beha dan Moza yang mengenakan T-shirt longgar dengan berbelahan rendah, jelas membuatku rada sungkan.
Tapi memang mungkin karena aku mudah untuk menyesuaikan diri dimana saja, dan kadang dengan sifatku yang ceria dan mudah memancing tawa orang, dan ini membuatku gampang diterima orang lain. Kadang sambil bercerita lucu dan celetuk2an yang membuat mereka tertawa terbahak, malah pernah tanpa kuduga Tante Marissa tertawa terbahak sambil memeluk aku ketika beliau ingin membeli makan malam ayam goreng kentucki (Baca: Kentaki) dan aku beri gurauan bahwa kentaki disini adalah artinya “Kenyang Tapi Keki”.
Beliau tertawa ngakak sambil memeluk aku dari belakang. dan jelas rasanya, payudaranya menyentuh punggungku, payudara nan besar dan kenyal itu seolah menempel ketat dibadanku, dan hal ini membuat pikiranku menjadi miring. Dan aku memutuskan untuk meninggalkan mereka kembali ke kamar, untuk rebahan.
Entah beberapa lama mataku terpejam, melayang sebentar dan kembali tersadar, demikian berulang-ulang, seperti gelisah, berusaha terlelap namun tak bisa terpejam, pikiran-pikiran kotor seakan tak mau hilang dari otakku. hingga sore menjelang.
Ketika aku tersadar, dari kamarku, sepertinya kudengar bunyi kecipak air dari kolam renang di sisi belakang rumah, entah siapa yang berenang dan bermain air disaat hari menjelang senja ini, namun seperti ada sesuatu yang menarikku untuk segera bangun dan melihat keadaan disana, entah kekuatan darimana yang membuat aku berusaha untuk berdiri dan bangkit, bergerak keluar dan menuju arah belakang rumah.
Waw... hanya itu yang dapat terucap dipikiranku, namun tak keluar dari mulutku, dari balik pintu belakang yang hanya terbuka kurang dari setengahnya, aku hanya berani melihatnya hanya dari balik pintu, tanpa berani walau sekedar melongokkkan kepala keluar, bagaimana tidak, kulihat Tante Mala hanya dengan kaos tipis dan bercelana dalam tampak duduk ditepi kolam, sementara kulihat di kolam, Tante Marissa sedang asyik berenang ria dan yang membuatku terpana adalah nampaknya Moza juga ikut menyeburkan diri ke kolam. Namun satu hal yang membuat aku agak terkejut adalah, Tante Marissa dan Moza saat ini berenang tidak dalam keadaan tertutup, alias keduanya berbugil ria ! duh ampun mak !
Gemetar lututku menyaksikan hal itu, layaknya Jaka Tarub sedang mengintip bidadari yang sedang mandi, sulit aku gambarkan bagaimana rasanya hatiku, deg-degan dan entah apa lagi. Kulihat tante Marissa asyik berenang kesana kemari, payudaranya yang besar dan indah seperti bergoyang mengikuti irama air yang berombak akibat kecipak tangannya. Dan yang membuatku terkesima adalah, Moza, baru kali ini aku melihat bentuk payudara indah, putih dan besar proporsional layaknya sang mama, dengan puting coklat kemerah-merahan, selalu terayun-ayun, Moza yang selama ini kukenal agak malu dan selalu menutupi tubuhnya kini sepertinya cuek, berenang kadang menyelam kedalam air, menikmati suasana sore yang menyegarkan.
Kulihat mereka tertawa, bercanda, entah apa yang mereka jadikan bahan obrolan dan candaan, namun ketika itu kulihat Tante mala sepertinya dipancing oleh tante Marissa dan Moza untuk segera terjun kedalam air. Dan benar saja tak lama kemudian, Tante Mala tampak menuruni kolam, merasakan dinginnya air kolam itu, dan tanpa melepaskan baju tipis yang menempel ditubuhnya, meluncur berenang.
Setelah beberapa kali bolak-balik kulihat Tante Mala kembali ketepian kolam, kini bajunya yang tipis telah basah kuyup, menggambarkan lekuk tubuhnya hingga kentara terlihat, membuat hatiku semakin tak karuan, membuatku teringat akan kejadian beberapa saat lalu, ingin rasanya aku mengulang kembali kejadian itu, menggauli dan menyetubuhi Tante Malaku !
Ya ampun, karena kulihat ia mengangkat bagian bawah baju tipisnya hingga keatas kelehernya, ia akan menanggalkan juga bajunya, ia akan berenang bugil juga... oh my god !
Namun rupanya dugaanku meleset, rupanya ia hanya memeriksa bagian dalam tubuhnya, mungkin karena ada sesuatu atau ia merasakan hal yang membuatnya tak nyaman, karena tak lama kemudian kulihat ia menurunkannya kembali, menutupi tubuhnya. Dan tak lama kemudian ia beranjak naik ke pinggir kolam. Duduk ditepian menyaksikan adik dan anaknya berenang.
Aku segera berbalik, tak enak rasanya bila mereka memergokiku sedang mengintipi mereka yang sedang tidak berbusana, aku cepat-cepat berbalik menuju kamarku, dan melanjutkan aksi melamunku.
Hingga hari menjelang gelap, kudengar suara air memancar dari kamar mandi, mungkin Tante Mala atau Moza sudah selesai melakukan aktifitas berenangnya, aku segera keluar kamar, seolah-olah baru bangun dari tidur. Dan benar karena pada saat aku melewati kamar Moza, kulihat dia sedang duduk ditepi ranjang, aku hanya melihat sekilas, kulihat dia yang masih mengenakan celana dalam warna merah dan kaos tipis berbelahan rendah.
Bergerak aku menuju ruang tengah, menuju sofa, menyaksikan televisi yang rasanya sudah menyala semenjak pagi. Mennudukkan diriku diatas sofa dan mengangkat kakiku menjulur, merebahkan badanku dan meraih remote untuk memilih acara yang entah apa ingin kusaksikan.
__________________
Tamat
love at first sight,akhirnya jadian juga sama dia hehehe..beneran niatnya mah ga mupeng tapi emang bodinya asik bro & sis,senyumnya menggoda :P .Nia menado cina semester 1,beda fakultas sama gw,tingginya 160cm an lah..putih,ga bule,beda..kakinya agak jenjang karena badannya lumayan kecil,mukanya manis,nah boobs nya 36 an tebakan gw sih,belakangan gw tau size nya 36 B haha
pacaran jalan 6 bulan mulai lah tuh,skip ya? tar kalo pada suka gw ceritain detail2 di petualngan kita yang beda beda hehe..sekarang gw mau ceritain pengalaman gw waktu di rumahnya Nia pulang kuliah & u know lah
Siang itu gw anterin Nia ke rumahnya,balik kampus,naik bus berdua.sampai di rumahnya emang biasanya ada nyokapnya doang,kakaknya di luar kota & bokapnya kerja.
"siang Tante.."
"eh kamu," sambil senyum tante sofi yang dah lama kenal gw dari pertama kali gw dateng ke rumah nia selalu ramah & nawarin gw macem2,makan,buah,minuman wah pokonya banyak lah .
Gw duduk di living room as usual. jadi living room ke arah kamar nia,kamar ortu nya & kamar mandi tuh bersebelahan pintunya. sementara tante sofi selalu liat acara TV siang tuh,posisinya membelakangi living room jadinya dia ga bisa liat kita,cuma kalo balik badan ya bisa kan ga ada sekat ruang . saat Nia menuju masuk kamarnya,nyokapnya dah depan TV asik sendiri. Nia sempet ngintip ke arah mama nya itu,terus melirik ke arah gw.
Siang itu dia rapih banget,pake rok selutut tapi tipis :P hehe terus bajunya kaos gitu V neck coklat lengannya 3/4. sexy banget lah. pas mau masuk kamar dia lirik gw & pelan2 bersandar ke arah pintu kamar mandi nya ( sebelahan sama pintu kamar nya nia) terus kedua tangannya tuh megang boobs nya gila horny berat !! sial nih anak dalam hati gw. terus dia senyum waktu ngeliat gw mupeng kan? dia malahan buka pintu kamarnya,tapi ga masuk ke dalam nya,siap2 aja gitu,tante sofi masih asik banget liat TV, gw rasa ketiduran (ternyata bener).
Nia naikin roknya ke paha,sedikit sedikit ..gila gw langsung tegang banget tuh sange banget siallll kenapa juga nih anak ya?ada nyokapnya..akhirnya dia nekat banget,bajunya di buka & rok nya juga,gw deg2an setengah mati takut nyokapnya bangun tiba2..wah kacau tar..nia buka baju & roknya juga,shit man! mulus banget badannya,dadanya itu lho..bra nya dah hampir ga muat :P 'kreekkk' tante sofi bangun !! cepet2 nia masuk kamar & tutup pnitu,gw pura2 baca sms, bener aja tante sofi ke kamar mandi,..abis itu dia keluar & ke dapur ambil minum.
Nia keluar kamar dgn t shirt ke gedean & celana pendek..wah muluuuus hehehe
"sayang mama ngantuk, kasian tuh pacar kamu ajak makan dulu sayang."
"iya mam ini juga mo di ajak makan.."jawab nia se adanya.
tante sofi masuk kamar,klik' suara kunci kamar,TV masih nyala tuh,suaranya lumayan kan buat kamuflase.
Nia duduk langsung di pangkuan gw (menghadap gw) nyium gw,,
" gila kamu mama kan baru masuk " gw bilang ke nia
"bodo aku horny banget !!" langsung dia nyiumin gw
Tangan nya buka retsleting gw. daritadi dah konak banget,'aku kangen sama ini sayang' seraya tangan nya terus usaha ngebongkar CD gw..anjrit kacau nih...gw tahan aja
"sayang aku ga mau ah..mama nanti bangun kalo mau kita keluar aja nanti kapan gitu"
" ga mau aku mau sekarang !!" nia bisikin kata2 itu.
wah gawat,akhirnya gw bujuk2 & dia mau gw cium aja sambil tangan gw masuk ke dalam pantie nya..wah seru gw pangku nia di atas gw,sambil tangan sebelah kanan gw masuk ke dalam pantienya,gw terus ciumin bibir mungilnya,,
"terus sayang ..shhhh aku mau sampe sebentar lagi..accchhhh sayang.."
sambil terus gw fingered clitnya,sekali sekali gw masukin juga jari gw ke dalem mq nya...masih sempit hehe tapinya basah huhuhuhuu ...lanjut 5 menit kemudian Nia orgasm..semua badannya mengejang,gw d peluk,d cium...nafasnya ter engah-engah,tapi senyumnya manis hehe
"makasih sayang.. kamu belum apa2 " ya
iyalah gw sibuk merkosa clit & mq nya pake jari2 gw!!! tapi tenang dah pake handy clean (oops sorry bkn iklan..maaf om momod) denger kayak gitu sebenernya mau banget gw setubuhi nia ini,badannya berpeluh tapi harumnya itu beda banget sama peluh biasa,ini peluh kenikmatan hahahahaha....
"ga apa sayang,daripada ketauan mama nanti" lalu nia balik lagi duduk deket gw,mukanya hepi banget cuy haha gw berhasil !! ga taunya dia ketiduran..sebentar lah kira2 15 menitan gitu...dah mau sore nih,nia bangun
"maaf sayang aku ketiduran.."
"aku pulang ya?" jawab gw singkat "ada tugas belum di ketik"..
"yah aku kan masih kangen sayang..kamu belum apa2 juga daritadi.." wajahnya memelas tapi mupeng juga, gila nih cewek emang..
"hmm gapapa sayang nanti aja lain kali" gw bangun dari duduk ambil tas & langsung menuju pintu,...tapi gw masih nahan horny & tegang banget nih titit hahaha...pas gw mau jalan ke pintu nia mendadak nyium gw,gak mau di lepasin, pintu rumah kan sebelahan sama kamar nyokapnya tuh,wah sange nih anak gw pikir,,,
Sambil ngeladenin ciuman nia yang bertubi tubi gw balik badan & menempelkan badan nia ke dinding kamar nyokapnya..gw taruh tas gw d sofa..
"daritadi kamu bikin aku horny,sekarang tanggung akibatnya.."bisik gw ke telinganya..
nia tersenyum nakal & terus nyiumin leher gw,gw ber lutut & langsung narik celana pendek karet yang d pake nia, nia masih terus menggeliat sementara gw mulai gerilya d daerah selangkangannya, mampus mampus deh kalo ketauan ...terus gw ciumin paha nia yang mulus bersih...posisi nia berdiri bersandar ke tembok kamar nyokapnya...gw cium pelan mq nya yang d shaved bersih ( just the way i like it ) masih basah banget sama cairan tadi dia orgasm, lantas gw lumat habis mq nya..
"sayang ampun..geli banget" desisnya "kalo ga kuat aku bisa teriak.."
"teriak aja ,kan kamu yang daritadi godain aku.."sambil terus gw lumat clit, sekali2 lidah ini gw tusukan jauh kedalam mq nya.
"..achhh..sayang ampun.." "hehe enak aja kamu ampun2an..daritadi aku mau pulang ga boleh,sekarang nikmatin aja.."ga betah gw lama2 cuma jilatin mqnya, gw masukin lagi jari gw,,
"ahhhh sayaaaang.." desis nia yang takut ketauan nyokapnya...
Cepet banget dah basah banget mq nya..kedua tangannya megangin rambut gw & mencoba nahan badannya yang tengah orgasm hebat buat yang kedua kalinya...ini saat nya!! ga lama2 gw berdiri gw buka retsleting celana gw & gw tahan kedua tangan nia di atas kepalanya dgn tangan kiri gw
"jangan teriak !!" gw bisikin sambil gw turunin CD gw, titit yang tegang itu pun muncul hehe,shaved juga samaan hahaha...
"sayang ampun ..aku masih geli banget,jangan masukin sekarang ga bakalan tahan aku sayang.." mohonnya
"percuma kamu berontak,aku lebih kuat..makin kamu ampun2an makin horny aku..ini hukumannya daritadi kamu godain aku.."
Gw pegang batang kontol gw,ga perlu d kasi pelicin lah gw pikir toh nia dah basah banget,dgn sekali bidik (udah hafal lubangnya hahahaha) gw tusuk mq nia "sayaaaang...ampun.." matanya memejam...anjrit sempiiit ,seraya menggigit bibir bawahnya..man it's so HOT !!
gw tarik sedikit..sedikit sampe ampir keluar liang mqnya...denyutan nya ,gila banget !! gw tancep lagi sedalam dalamnya, gw liat kakinya nia sampai jinjit menahan badnnya...tangan kiri gw masih megangin kedua tangan nia d atas kepalanya & tangan kanan gw sekarang meluk pinggangnya,..gerakan gw makin liar & ganas,,nia pasrah ga bisa teriak tapi minta ampun terus,,hehehe enak aja,gw lepasin pelukan gw dr pinggangnya,tangannya juga gw lepasin ..
"ampun sayang.." tapi titit masi nancep ..empot ayam nya gokiiilll !! "lepasin tshirt kamu!!"
"hah?kamu dah gila?aku nude?"cuma dari gerak bibirnya aja gw baca...
"mau lepasin sendiri atau aku yang paksa" jawab gw pelan? .
Akhirnya nia nyerah..man,badanya muluuus toketnya langsung gw emut kiri kanan...gokil banget,telanjang bulet d samping dinding kamar nyokapnya, di perkosa pula ...
Nia ga bisa apa2,gw angkat kaki kiri nia dgn tangan kanan gw & tangan kiri gw meluk dia.bibirnya gw ciumin..
"mmmh...sayang...kamu ga pake kondom kan?" tanya nia..
"ga pake...aku mau keluarin dlm mq kmu..." jwb gw se adanya, msh asik bgt nikmatin denyutan mq nya yg basah & sempit...
"jangan sayang aku takut"
"ya udah diem jangan berisik nanti mama bangun!" horny berat gw,
Sekitar 10menitan gw angkat juga kaki kanan nya,mau ga mau nia ga bisa nahan titit gw untuk ambles semua ke dalem mq nya" sayaannnng...ampun " tangan nia memeluk gw & nia gw gendong,gw terus gerakin pantat gw maju mundur. makin cepat dalam...ganas & LIAR !!! badan nia gw pepet ke tembok"plak ''plak plak..' suara punggung nia beradu tembok,gw rasa temboknya getar tuh hehehe
" ahhh sayang kamu harus isep semua nih.."gw lepasin nia dr gendongan gw...nia langsung brlutut depan gw & memmasukan kontol gw yang basah cairan mq nya sendiri ke dalam bibir mungilnya...tangannya ngocok2 kontol gw sambil terus nyepongin..
"aghhh..." semburan demi semburan mani gw ke dalem mulut nia...gw tahan kepalanya supaya ga bisa lepas dari kontol gw...mau ga mau semua mani gw di telannya...gila enak banget,liat nia telanjang bulet berlutut nelan mani gw,dia bangun & senyum sama gw
" kamu gila sayang.." ujar nia
" makanya lain kali jangan coba2 aneh2 lagi" jwb gw cepet2 gw naikin CD & ngancingin celana jeans gw,retsleting maksudnya hehehe.nia mindik2 masuk kamarnya & ganti baju baru,bibirnya masih ada sedikit mani yang tersisa..tapi ga masalah sexy banget ,puas banget,.horny banget !! sukses!! gw kecup dahi nya pamit pulang... hee terus gw balik ke rumah..
ini cerita beneran,just share mudah2an rekan sekalian suka ya? kalo suka tar gw buat lagi petualangan sex gw jaman dulu hehe makasih semuanya
__________________
End
Kejadiannya dimulai 4 atau 5 tahun yang lalu. Waktu itu produksi di perusahaanku sedang booming sehingga diadakan penerimaan karyawati baru. Diantara sekian banyak pelamar ada satu yang jelas kulihat sangat berbeda. Kulitnya putih bersih, raut wajahnya cantik, dan bulu-bulu halus tampak jelas hitam kontras dengan warna kulitnya. Aku segera ke bagian personalia meminta data-datanya, setelah kulihat CV-nya yang cukup baik, aku meminta kepada personalia untuk dijadikan asistenku, akhirnya setelah melewati proses yang cukup rumit dia menjadi asistenku.
Mula pertama dia bekerja, aku sudah dapat melihat kecerdasannya dalam menangani pekerjaan, semua pekerjaan yang kuberikan dapat diselesaikannya dengan baik. Seperti pepatah Jawa bilang “Witing tresno jalaran soko kulino” Kebersamaan akan menumbuhkan rasa sayang, begitu pula yang terjadi denganku. Aku yang pada mulanya sudah tertarik pada pandangan pertama kian jatuh dalam perangkap asmaranya. Kucoba mengakrabkan diri dengannya, keluar makan bareng sering kami lakukan, tapi sampai saat itu aku belum berani macam-macam kepadanya, karena dia pernah mengungkapkan bahwa dia sudah mempunyai pacar.
Memang sejak saat dia mengungkapkan bahwa dia sudah punya pacar, keinginanku untuk menjadikannya sebagai kekasih sudah hilang.
Setelah melewati masa pendekatan yang cukup panjang, akhirnya aku bisa mengajaknya Weekend. Karena saat itu katanya pacarnya sedang ditugaskan ke luar kota. Aku membawanya menuju pantai Ancol yang romantis. Sambil menyantap nasi goreng kami mengobrol panjang lebar, dari situ kuketahui bahwa ternyata dia berasal dari keluarga Broken, ayahnya kawin lagi saat usianya baru 3 tahun, hingga dia merasakan kurang kasih sayang dari ayahnya.
Kurengkuh dia dalam pelukanku, kubelai rambutnya yang hitam. Ombak di laut semakin beriak menyaksikan kemesraan kami. Perlahan kukecup keningnya, dia memejamkan matanya, bibirnya yang sensual sedikit terbuka seakan mengundangku untuk melumatnya, namun aku tidak berani gegabah, aku hanya mencium pipinya.
“San, boleh Bapak mengekspresikan rasa sayang Bapak”, bisikku lembut di telinganya. Dia hanya diam mungkin masih mencerna arti kalimatku.
“Kalau Bapak memang sayang sama Santi, jangan sekali-kali Bapak mengecewakan Santi”, jawabnya manja.
“Bapak tidak pernah mengecewakan wanita, Sayang” jawabku lembut. Kurapikan rambutnya yang diterpa angin laut dengan jari-jariku, tiba-tiba Dia mengambil tanganku dari keningnya dan mencium dengan bibirnya.
“Santi sayang sama Bapak! Santi nggak mau kehilangan Bapak”, air matanya terasa hangat di jari-jariku. Kuseka air matanya dengan sapu tanganku.
“Bapak tidak akan meninggalkan Santi”, janjiku. Bibirnya tersenyum tipis mendengar janjiku.
Perlahan kudaratkan bibirku di bibirnya, terasa hangat menjalar ke seluruh tubuhku, aku melumat bibirnya dengan perlahan.
“Kenapa Santi tidak membalas ciuman Bapak..”
“Santi tidak mengerti, Pak!”
Aku hanya diam dan berfikir, benarkah anak jaman sekarang belum mengenal arti ciuman.
“Memangnya Santi tidak pernah melakukannya dengan pacar Santi?”
“Belum, Ppak..”
Akhirnya setelah saya ajarkan secara singkat, dia mulai dapat membalas lumatan dan permainan lidahku. Tanganku mulai menjalajahi dadanya, kuremas perlahan dengan gerakan memutar, sementara bibirku mulai menjelajahi lehernya yang indah. Kubuka kancing bajunya yang paling atas, jari-jariku segera menerobos ke dalam bajunya yang sudah terbuka, aku merasakan tonjolan lembut, tidak besar namun halus sekali. Jari- jariku berputar mencari puting buah dadanya, sementara bibirku sudah sampai di belakang telinganya. Susah sekali mencari puting buah dadanya, karena masih belum tumbuh, putingnya masih mungil dan rata dengan gundukan buah dadanya, pertanda belum terjamah oleh siapa pun. Perlahan tapi pasti putingnya mulai mencuat ke atas, jari-jariku semakin aktif memilinnya dengan gerakan memutar. Sementara tangannya menekan tanganku sehingga tekanan pada buah dadanya semakin keras.
“Pak.. nikmat, teruskan..” erangan yang keluar dari mulutnya semakin membuatku semangat, tapi aku masih sadar bahwa aku di tempat terbuka. Aku segera menghentikan aktivitasku dan merapikan kancing bajunya yang terbuka.
“Kenapa, Pak?” tanya Santi keheranan.
“Ini kan tempat umum Sayang, bagaimana kalau kita sewa cottage saja.”
“Tidak mau! Santi takut.”
“Nggak apa, Bapak tidak akan berbuat macam-macam terhadap Santi”, aku merayunya.
“Santi tidak akan mau, Pak!” tegasnya.
Aku tidak memaksa lebih lanjut, aku hanya diam.
“Bapak marah ya sama Santi.”
“Tidak Sayang, Bapak hanya sedikit pusing.”
Aku rengkuh dia dalam pelukanku.
“Kenapa?” tanyanya polos.
Aku sungguh bingung menjelaskannya, aku pusing karena sedang ‘on’, Batang kejantananku terasa berdenyut-denyut terus.
“Bagaimana kalau kita teruskan di mobil, Sayang” ajakku. Dia mengangguk.
Setelah setelan jok kurebahkan, aku kembali mencumbuinya, meneruskan kemesraan yang tadi tertunda meskipun di dalam mobil sempit tapi tidak ada seorang pun yang dapat melihat kami.
Bajunya sudah kutanggalkan sehingga aku dengan bebas dapat mencumbui dadanya, saat lidahku yang hangat dan basah menjilati puting buah dadanya yang masih mungil, erangan lirih semakin sering keluar dari bibirnya. “Jangan berisik, Sayang” aku mengingatkannya, karena aku takut terdengar keluar. Tapi hanya sebentar saja, kembali mulutnya mengeluarkan erangan, terlebih saat puting buah dadanya kuhisap dan kugigit pelan. Gundukan buah dadanya yang halus kuhisap kuat-kuat sehingga meninggalkan bercak merah sesudahnya.
Tanganku segera bergerak mengangkat roknya. Aku merasakan kulit pahanya yang ditumbuhi bulu-bulu halus, kupilin-pilin pahanya yang gempal, dan saat tanganku bergerak menarik celana dalamnya, tangannya menahan tanganku.
“Jangan Pak, yang satu itu jangan..” Aku yang sudah dikuasai nafsu tak mempedulikannya. Aku terus berusaha menanggalkan celana dalamnya tapi cekalan tangannya semakin kuat menahan gerakan tanganku. Aku tidak memaksa lagi.
“Kenapa?” bisikku, “Santi tidak sayang sama Bapak?”
“Bapak boleh mencumbu apa saja, tapi yang satu itu jangan, saya masih perawan, Pak!”
“Tapi dari erangan yang keluar, sepertinya Santi sudah pengalaman.”
“Santi sendiri tidak sadar, Pak. Bahkan pernah saat Santi masturbasi di kamar, Ibu menegur Santi, karena erangan Santi terdengar ke luar kamar, Santi sampai malu waktu itu, Pak.”
Aku hanya mengangguk, berarti erangan-erangannya yang heboh tadi hanya bawaan sifat saja.
“Ya, sudah! Santi bisa buat Bapak orgasme dengan tangan, bisa kan?” aku menyerah, pikiranku cuma satu, bagaimana melepaskan air maniku yang rasanya sudah mengumpul penuh di buah zakarku.
“Santi belum pernah, Pak!”
“Coba dulu dong, katanya Santi sayang sama Bapak.”
“Iya Pak”
Aku ajarkan kepadanya cara onani yang membuat nikmat lelaki, setelah kurasa dia bisa. aku segera mengeluarkan senjataku yang sudah tegang.
“Aw.. besar banget Pak.”
“Nggak apa, sini” aku bimbing tangannya ke senjataku.
Aku mulai merasakan genggamannya yang hangat, perlahan jari-jarinya yang lentik bergerak ke atas ke bawah mengocok batang kejantananku, aku mulai merasakan nikmat, sembari rebahan di jok aku memejamkan mata membayangkan bahwa saat itu senjataku sedang terbenam di dalam kemaluan Tamara Blezinky artis idolaku. Berfikir seperti itu senjataku semakin mengeras dan berdenyut-denyut.
“Pak, tangan Santi capek, Pak!” tiba-tiba saja Santi membuyarkan khayalanku. Aku yang sudah spanning langsung merengkuh lehernya dan membenamkan wajahnya ke dadaku.
“Lakukan seperti yang tadi Bapak lakukan terhadap Santi”, sambil mengarahkan mulutnya yang mungil ke dadaku.
“Loh, Bapak kan lelaki”
“Sama saja, San, laki-laki juga perlu rangsangan biar cepat orgasme” Tanpa dikomando dua kali mulutnya yang mungil mulai menciumi dadaku sementara jari-jarinya terus mengocok batang kejantananku,
perlahan aku merasakan nafasku semakin memburu, butir-butir keringat membasahi seluruh tubuhku.
“Terus, San.. Bapak mau keluar” Gerakan tangannya semakin cepat, kepala kemaluanku semakin mengkilat oleh pelumas yang dikeluarkan batanganku, sementara lidahnya yang runcing dan hangat terasa menggelitik puting dadaku bahkan dihisapnya, membuat sensasi tersendiri di seluruh aliran darahku.
Setengah jam berlalu, aku merasakan batang kejantananku semakin menggembung, akhirnya berbarengan dengan hisapan kuat di puting dadaku, kukeluarkan spermaku hingga muncrat dan mendarat di perutku.
“Sudah San, Bapak sudah keluar”, aku melepaskan genggaman tangannya di batang kemaluanku.
“Capek sekali tangan Santi, Pak!, rasanya sudah tak sanggup lagi digerakkan.”
“Bapak lama sih keluarnya.”
Aku hanya diam dan mencium keningnya sebagai ungkapan rasa sayang dan puas atas segalanya.
Sepanjang perjalanan pulang, kami semakin akrab dan mesra, kami membuat perjanjian bahwa kami boleh berpacaran dengan siapa pun asalkan kebersamaan kita tidak akan hilang sampai kapan pun. Aku hanya mengangguk setuju
__________________
Tamat
Liburan yang menyenangkan, yang memberikan kesan pertama seksualku di kota bogor, bersama dengan teman-teman smu ku dulu.Aku sebenarnya enggan untuk kembali ke kosanku, aku masih ingin menikmati dan menambah pengalaman seksualku, yang selalu membuatku merasa ketagihan.
Saat kembali ke kamar kosku, terlihat kamarku begitu rapih, sama seperti pertama kali ku tinggalkan saat selesai menyelesaikan uas semester genapku.
Tak lama terdengar suara wanita tertawa di luar kamarku, aku bergegas keluar, ternyata ada penghuni baru di kontrakan kosku. Sambil berpura-pura ke kamar Andi, aku memperhatikan kamar lisa yang kulewati. Lalu lisa teman kosku memanggilku.
“Tom, kenalkan ini Santi anak baru di kosan kita “. sahut lisa teman kosku yang sudah tinggal 1 tahun lebih di kamar itu.
“Tommy,” sahutku sambil mengulurkan tanganku
“Santi ” sahutnya sambil menjabat tanganku diiringi senyum manisnya.
“Dia anak hukum tom, semester 5 sekarang ” lisa bercerita tentang santi
“ooh.. aku di ekonomi, sekarang semester terakhir,” sahutku
“udah nyusun?” tanya santi
“belum, masih ada 15 sks yang harus ku ganti dulu ” jawabku.
Singkat cerita kami mulai bercerita tentang diri kami masing-masing, aku tak henti-hentinya menganggumi kecantikan santi, wanita asal jakarta, saat itu ia baru saja menginjak umur 20 tahun.
Tubuhnya putih mulus, payudaranya terlihat indah ditutupi kaus singlet berwarna putih, pahanya terlihat putih terawat, dia sangat seksi dengan penampilannya kaus singlet putih di teruskan oleh celana pendek berpola kotak-kotak miliknya.
Tak terasa si jagur milikku mulai terasa bangun karena tak henti-hentinya aku memperhatikan tubuh indah santi.
Keesokan harinya, seperti biasa aku menyalakan motor bebek astrea hitamku untuk menuju kampus, saat motor keluar dari pagar rumah kosanku, terdengar suara halus wanita mencegahku untuk pergi.
“tunggu ” sahutnya, “boleh aku ikut ?” tanya santi yang baru saja kusadari dia telah berdiri di depan pintu. Tak lama kemudian ia duduk di belakangku, tangannya melingkari pundakku.kamipun bergegas menuju kearah kampus.
Selang 1 bulan kemudian, tak terasa hubunganku dengan santi semakin akrab, kami sering kali bercanda satu sama lain, aku merasakan getaran rasa suka yang hadir di kalbuku. Selepas uts, saat itu seorang teman kosku ulang tahun, ia memutuskan untuk mengadakan pesta kecil di kosanku, tentu saja ku sambut dengan riang, memang salah satu kebiasaan di kosanku adalah mengadakan pesta minum-minuman keras. Hampir seluruh penghuni 20 kamar di kosanku, sangat menggemari minuman keras, tak terkecuali para wanitanya. Maklum, kosanku memang terkesan bebas, pemiliknya hanya datang 1 bulan sekali untuk mengambil setoran sewaan kamar kami.
akhirnya malampun tiba, Doni membawa beberapa botol minuman keras, aku menyumbang 2 botol ukuran sedang Jack Daniel’s yang kudapat dari teman-temanku di clubing, Andi menyumbang beberapa gram daun kenikmatan.
Akhirnya kamipun mengadakan pesta kecil untuk doni, lisa ikut serta, dan sungguh mengejutkan, Santi pun ikut serta,saat minuman habis, Doni mengeluarkan lagi cadangan simpanannya, begitu juga dengan diriku, kembali pesta kami lanjutkan, kami tertawa - tawa, sambil mendendangkan beberapa lagu dengan gitar butut milik Rudi.Terasa kepala mulai terasa berat, aku telah menghabiskan beberapa minuman keras, dan 2 linting daun haram bawaan andi, terlihat mata santipun mulai memerah, menandakan ia mulai on, satu per satu teman teman kosku mulai tumbang ke kamarnya masing masing, akhirnya aku memutuskan untuk naik ke atas menuju kamarku, yang terletak di lantai 3.
Didalam kamar, saat mulai kurebahkan tubuhku, terasa tak hanya kepala yang mulai berat, namun hasrat seksku mulai muncul, hasrat yang telah terpendam kurang lebih 3 bulan terpendam sejak aku meninggalkan kota bogor, pada saat liburan, hampir setiap hari kusalurkan hasratku kepada imel teman sekolahku dulu. Ia adalah wanita pertama yang memperkenalkanku kepada hasrat seksual.
Tak terasa hampir setengah jam aku termenung, sambil menikmati susu ultra yang tersisa tinggal 1 dus di kamarku, ini caraku untuk menurunkan kadar alkohol di dalam tubuhku, dan memang selalu berhasil, namun ternyata tidak untuk hasrat seksku. Pikiranku melayang sejenak, terlintas wajah Santi yang cantik menggugah anganku.
ku lihat jarum jam menunjuk tak jauh di bawah angka 2, sudah hampir 1/2 3 pikirku, tapi karena esok adalah hari libur aku tak perduli.
Telingaku mulai menangkap keheneningan di luar kamar kosku, menandakan para penghuni kosku mulai terlelap tidur dikamarnya masing-masing.
Saat ku langkahkan kakiku menuju tangga, untuk mengambil air putih di dapur bawah, pikiranku iseng untuk menuju kamar Santi yang berada di ujung lorong, saat ku coba membuka pintunya ternyata tidak di kunci.
Kumasuk kamar Santi, ku dapati tubuh santi tengah tergeletak di kasur, tubuh indahnya tergambar rapih di terangi oleh lampu kamar yang tidak di matikan, darahku mulai terasa naik ke otak, saat ku perhatikan dadanya yang membusung, seakan aku dapat membayangkan apa yang ada di balik kaos hitamnya itu.
Ku dekati ia, sesaat kuperhatikan wajahnya yang cantik, terlihat seperti lelah karena minuman yang telah di tenggaknya sekitar 4 jam yang lalu.
Pikiranku mulai menginginkan untuk menikmati setiap bagian yang ada di hadapanku. Aku mulai mendekati, tanganku bergerak membelai rambutnya yang panjang sebahu, wajahku mulai mendekatinya, ku coba untuk mulai menikmati bibir indahnya yang terkatup rapat, terdengar suara dengkuran dari tenggorokannya.
Kudaratkan bibirku di bibirnya, perlahan ku permainkan bibirnya, bagian atas dan bawah, bibir santi mulai membuka di luar sadarnya, seakan-akan memberikan keleluasaan bagiku untuk semakin menikmatinya,
posisiku mulai tertidur di sampingnya, lidahku mulai mempermainkan rongga mulutnya, terdengar suara santi yang mulai mendesah,Saat santi membuka matanya, ia mendapatiku telah berada di sampingnya, mulutnya tersenyum, lalu kami melanjutkan ciuman kami,
Tanganku mulai mencoba menyingkirkan selimut yang menutupi bagian bawah santi, tanpa ku sangka, ternyata santi hanya menggunakan celana dalam saja, terlihat pahanya putih mulus, menggambarkan keindahan sang pemiliknya, ku raba dan ku elus pahanya, Santi hanya mengerang,
Tanganku mulai bergerak naik, dan mencoba menyusup ke balik celana dalam milik santi, Mata santi terpejam, ia membiarkan tanganku mulai memasuki daerah terlarang miliknya, ia seakan-akan menerima apa yang aku lakukan.
Aroma alkohol di mulut santi membuat hasratku makin menggebu-gebu untuk menidurinya, ciumanku makin kulancarkan ganas dan liar, santi membalasnya.
Jari-jari tanganku memainkan daerah kewanitaan milik santi, terasa rambut halus berada di sekitarnya, namun aku hanya mendapati daerah yang ditutupinya tidak terlalu luas, entah berapa lama kupermainkan liang kewanitaan santi, sampai terasa lendir mulai membanjiri liang kewanitaannya.
Tanganku mulai merayap naik, membuka pakaian yang melekat di tubuh santi, Santi membiarkan dirinya terbuka satu persatu, hingga akhirnya tubuhnya terlihat polos dihadapanku, nafasku kian memburu saat aku telah mendapati tubuh santi telah telanjang, aku mulai melucuti pakaianku satu persatu, hingga kami terlihat bugil bersama.
Aku mulai mempermainkan puting payudara santi yang terlihat agak kemerah-merahan, sesekali ku sapu setiap bagian puting payudaranya, lalu ku gigit sesekali dengan lembut, kemudian ku hisap, tubuh santi menggeliat menikmati setiap gerakan lidahku, mulutku, dan tanganku, tanganku tak henti-hentinya meremas pantat Santi yang terasa kencang dan bulat.
Tubuhnya benar-benar menggairahkan.
“sshhhh mmmppphhhh” suara santi terdengar sesekali,
Mulutku mulai menuruni tubuh santi, ku coba benamkan wajahku di antara kudua pahanya, ku coba ciumi daerah sensitif milik santi,
Nafas santi mulai memburu saat ku permainkan daging-daging diantara kedua pahanya dengan permainanku, ku coba untuk menjilati sisi-sisinya,
Menjilat,menghisap, dan menggigit menjadi menu utama permainan di sekitar kemaluan milik santi, cairan lendir yang keluarpun semakin banyak dari dalam vagina milik santi, terasa batang kejantananku makin mengeras saat mencium bau aroma daun sirih di sekitar kemaluan santi.
Batangku telah menegang sempurna, akhirnya aku mulai menaiki tubuh santi.
“Tom” panggilnya lirih, namun matanya masih terpejam, menikmati permainan lidahku yang mulai beranjak naik kembali menyusuri payudara santi, lalu leher
“Oh .. tommmm,, sshhhh…” desahnya
Saat ku coba menaklukan pertahanan terakhir santi, ku coba memasukan penisku kedalamnya,
“akhhh …. sakit tom.. ” teriak kecilnya terdengar
“ssttt !! ntar yang lain bangun” sahutku menenangkannya
entah mengapa aku merasa begitu kesulitan memasukan batangku ke dalam vagina milik santi, rasanya berbeda dengan imel, dulu seperti tidak terlalu sulit memasukan batangku ke dalam vagina imel , pikirku melayang
Akhirnya setelah terus berusaha, akhrnya aku berhasil memasukan seluruh batangku kedalam liang kewanitaan milik Santi.
“aukkkhhhh…. sakitt tom…. akkkhhh, ” jerit santi tertahan saat kumasukan seluruh penisku ke dalam liang kewanitaannya,
Kupermainkan pinggulku, menyodok liang senggama santi, berkali-kali, sambil tubuhku menindih tubuh santi.
Payudara santi yang berukuran 34 B, tak henti-hentinya ku hisap dan ku permainkan saat aku mulai menggenjot tubuhnya, gerakan yang diajarkan imel kepadaku saat 3 bulan yang lalu.
“sshhh… ahhh… ohhhh…udahhh tomm.. aku nggak kuat… ssshh .. ahhh… sakit tom..” berulang-ulang santi berucap kepadaku,namun setelah beberapa saat ia mulai mengikuti iramaku, tak lagi ada rintihan yang keluar dari mulutnya, “ahhh..ahhh” hanya desahan lembut yang mengalir deras dari mulutnya.
Matanya kadang terpejam, kadang menatap lembut kearahku, sambil tubuhnya mulai dibanjiri keringat, begitu juga denganku.
Setiap gesekan yang ditimbulkan di dalam tubuh Santi, aku merasakan sensasi nikmat, tak lama kemudian tubuh santi mengejang, tubuhnya seperti menggelepar, kepalanya mendongkak kearah atas, sehingga terlihat lehernya yang putih mulus terpampang di wajahku, tangannya mencengkram kuat kasur, nafasnya tertahan sejenak terdengar lenguhan panjang dari bibir santi “aaahhhhhhhhhh !!!” sesaat kemudian badannya berkelonjotan, terasa ada cairan yang keluar dari liang kewanitaannya, tak lama kemudian tubuhnya melemas, namun aku terus memacu tubuhku, memompa vagina milik santi, seakan-akan aku tak rela melepaskan batang penisku dari liang milik santi, aku memompa cepat tubuhnya.
Kali ini aku mencoba melakukannya sambil setengah berdiri, tubuh santi setengahnya tergeletak di kasur, kakinya melingkar ke pinggangku, aku kembali menghujami penisku ke dalam vagina milik santi.
di luar mulai terdengar suara adzan subuh, memanggil umat islam untuk menjalankan kewajibannya, namun kami masih terlarut di dalam kenikmatan seksual yang tercipta dari goyangan tubuh kami berdua.
hingga akhirnya terasa batang penisku menyemburkan cairan kenikmatan, beberapa kali ku tembakan spermaku ke dalam rahim milik santi, sambil mataku terpejam, wajahku di penuhi keringat, mata santi terlihat sayu, aku melemas tak berdaya, hingga akhirnya aku terkulai di samping tubuh santi yang sudah lemas tak berdaya.
Kulihat ada cairan darah berwarna merah mewarnai seprai kasur santi.
Santi adalah wanita perawan pertama yang kunikmati tubuhnya, ia memberikannya sukarela, ditengah-tengah pikirannya masih di pengaruhi alkohol yang diminumnya.
Namun entah mengapa ada perasaan puas di dalam batinku.
Sejak hari itu, santi sering melayani nafsuku, berkali-kali kami mencuri kesempatan untuk saling menyalurkan libido kami masing-masing.
Lebih dari 1 semester kami melakukannya, hingga akhirnya santi pulang ke jakarta, karena mengikuti keinginan orang tuanya untuk menikah, ia berhenti kuliah karena orang tuanya menikahkannya.
7 tahun berlalu, aku telah melupakannya, hingga suatu saat, saat aku sedang menikmati makan siangku di mal kelapa gading, aku berjumpa dengan santi,
Sejenak kami berbincang - bincang menanyakan kabar, sambil menanyakan sang suami, ternyata ia telah memiliki seorang anak laki-laki bernama surya. setelah selesai kamipun berlalu.
Selang sehari setelah pertemuan itu, sebuah email kuterima dari Santi, saat ku baca isinya, ternyata anak laki-laki surya itu adalah anakku, buah hasil hubungan kami terakhir, ia menceritakan semua, namun ia tak pernah bicara kepada orang tuanya siapa yang menghamilinya, ternyata ia menikah karena ketahuan hamil, buah hubungan kisah cinta kami berdua.
----------------
Tamat
Jadi gini waktu itu gw berdua sama temen gw harus nyari hotel buat band yang manggung di acara sekolah gw. Kita berdua disuruh nyari di daerah pejaten,blok M,mahakam,ampera. nah,pas gw lagi tanya harga ke reseptionistnya dia bilang suruh ngomong langsung ke staff mangernya soalnya gw ngambil 16 kamar.Dan lo tau yang keluar disalah satu hotel itu staff manager yang behh bohay banget.
mukanya cantik parah,tinggi udah kaya model 170-an lah,toket gede,waktu itu pake rok mini lah tapi pake stoking,pake baju blues yang ketat dah.pas gw lagi ngomong di sambil nulis otomatis di posisi dia rada nunduk dong.Disitu gw langsung ngaceng berat liat belahan toketnya yang pake BH warna item.
Abis itu dia kasih nomer HP biar gampang ngehubungin dia.
Setelah keluar dari tuh hotel temen gw langsung ngomong yang engga-engga tentang tuh cewe. Dan gw juga bilang "wah,anjrit pasti tuh cewe jablay high class tuh" dia langsung bilang "iya lah pasti,tapi kalo cuma sejuta gw mau dah pake dia"
Soalnya emang bener-bener mantep deh bos.
Karena hotel itu terlalu mahal jadi sekolah gw ga jadi pake itu hotel.
Setelah itu gw masih sms sama si mba sebut joan.Bisa dibilang dia TTM gw lah lagi juga kalo gw pacaran dia terlalu tua buat gw.Dan entah kenapa gw ngerasa ini cewek bisa dipake ato paling cipokan-cipokan aja karena umurnya yang udah 30-an jadi gw juga horny mulu bawaanya kalo ngeliat dia didukung dengan rok mini yang dia pake.
Nah waktu gw lagi jalan ke mall bareng dia ada cewe yang sexy banget gw pikir umurnya 32.Entah kenapa gw sering horny kalo liat tante-tante sexy dibanding ama ABG.
“Heh,nan. Kenapa sih kamu tiap liat cewe mata kamu langsung melotot kayak begitu?” tegur mba joan.
“mba itu buta ya.Mba agak liat gimana bongsornya bodi tuh cewe??” balas gw cepat.
“Nan.. bisa-bisanya kamu nilai cewe dari jarak jauh begini” sambung mab joan “Itu mata.. apa teropong”
“Wah, kalau untuk urusan cewe aku nggak pake mata lagi.Nih, pake yang disini nih.. dibawah sini"sambil gw liat kebawah
"ih,kamu jorok nih pikiranya" dia bilang gitu
Abis itu kita makan di restoran
di tengah makan kita ngobrol ngalor ngidul dia nanya
“Aku ini menarik nggak sih Nan?”.Gw sih ngangguk aja.Sambil ketawa kecil, “Lebih menarik kalo sekarang Mbak pake lipstik..”.
abis itu dia nyubit tangan gw
"Nan,mba ke toilet dulu yah"
keluar dari toilet dan dia duduk di samoing gw bau wangi menyergap pelan ke idung gw. Bibirnya udah diolesi lipstik.
“Cakep Mbak”. gw bilang.
“Bener?”, jawabnya manja.
sehabis makan dan nonton kita menuju ke lobby mall
gw tanya ke dia "Mau pulang sekarang mba?"
"iya nih aku udah males jalan lagi"
di dalem mobil gw diem aja dan entah kenapa gw pengen banget ngerokok karena liat di dashboard ada rokok yang entah punya siapa ada di mobil Vios kesayangan gw
“Aku boleh ngerokok disini mba?”
"ya boleh dong ini kan mobil kamu..Apa mau dirokokin sekalian?"
Gw sedikit maul dan dia cuma ketawa-tawa
di mobil juga dia nawarin “Kamu mau Minum wine nanti di rumah mba?”.
"ngga mba aku kan nggak minum"
Sampe rumah dia langsung ke dapur buat ngambil wine dan 2 gelas buat dia dan gw. Kemudian mba joan memberikan segelas wine buat gw, kami terus berbicara sambil menghabiskan minumanya. gw tetep ga minum tuh wine. Setelah itu gw tanyain tentang kerjaan dia tapi dia kok kayanya lagi males ngomongin kerjaan biasanya semangat.
“Ada apa sih..”, sambil gw pegang pegang pahanya. Eh ternyata dia diam aja.
Gw coba membangkitkan semangat gw bilang
"Mba,nonton DVD aja deh kalo gini,biar semangat" gw langsung jalan ke ruang TV sambil bawa winenya
di saat itu gw berfikir inilah kesempatanya gw bisa dekatin dia dan menggodanya.
Di tengah-tengah film gw dan dia mungkin udah ngerasa ngantuk
dan gw bilang
"mba disini ada kamar tamu ga?Aku udah ngantuk males pulang"
"aduh Nan,disini ga ada kan cuma ada 3 kamar kamar ade aku dikunci dianya pergi keluar kota kamar mama juga gitu ada kamar aku"bales dia
"yah,gimana yah ato engga kamar kamu ada 2 bed apa satu?”gw nanya dengan kecewa
“Kamarku Cuma satu bed tapi di bawah ranjang ada satu bed lagi jadi mungkin aku bisa pake, emang kamu mau sekamar denganku?” balas dia.
“Boleh kalo nggak ada kamar lagi” gw rada ngga percaya akan ucapannya.
“Tapi Mbak aku suka tidur telanjang paling Cuma pake celana dalam doang dan selimut, apa Mbak gak apa-apa? gw ngasih tau sedikit meyakinkan dia kebiasaanku.
“Nggak apa-apa siapa takut.. masalahnya aku juga kadang-kadang begitu juga”.Gw makin ga percaya nih sama omongan dia
Di saat kita mau tidur kita selingin omongan kita dengan yang berbau seks.
Kali ini bener-bener kebuka semua ga kaya waktu di restoran.
“Mbak kalo ngomongin seks kayak gini, cewekku dulu seringkali udah basah duluan”.
dia jawab "ah,cowok gampang banget dibuat hormat"
sambil ketawa-tawa dia bilang “Aku belum pernah dicium cowok Nan”.
“Ouhh..”, gw cuma bilang gitu. Gw ngeliat ke mukanya.Dia juga mukanya keliatan malu.
Gw senyum dan gw pandang wajah mba joan terus, gw ngerasa bangga, gw peluk tubuh mba joan.Badan gw udah panas rasanya, kita udah saling berhadapan. Gw pandangi wajah mba joan, cantik sekali, gw cium lembut bibir Mba joan, kami berdua sudah saling melumat. Lama banget kita ciuman, ditambah lagi suasana yang begitu romantis bikin lebih tinggi gairah kita berdua.
Habis itu gw cium telinganya. Ah ya.., ini kelebihan wanita,nalurinya tau bagaimana memancing nafsu lawan jenis. Bagian belakang telinganya itu udah wangi.Gw ngerasa nikmat.Gw cium lehernya, telinga lagi, leher lagi, pipi, bibir, telinga, leher, dan akhirnya tengkuk.
Pelan pelan tangan gw masukin ke dalam roknya. Dia diam saja, malahan elusan ke penisku makin ditingkatkan frekuensinya gw ga sadar kalo tanganya udah ada di pensi gw. Tangan gw masih terus ngelus elus pahanya, dan gw beraniin untuk naik ke atasnya.Gw udah ngga ngeliat gimana bentuk dan warna CD yang dia pakai. selesai kita ciuman dia bilang
“Nah gitu dong ngajarinnya, nan”, bisiknya.
Gw lepas pakaian satu-satu yang di dipake Mba joan, gw cium lehernya lagi, Mba joan mendesah menikmati cumbuan yang gw beri, gw buka BHnya, gw remas dengan lembut tetek mba joan. Ciuman terus turun kearah buah dadanya, kujilati dan kuhisap tete mba joan, mba joanpun semakin mengeliat dan semakin keras desahannya.
“Uh.. nandi.. Terus hisap sayang.. Uhh.. Enak.. Nan.”..
setelah puas main main di buah dada mba joan ciuman gw pun turun keperutnya.Gw jilati pusarnya sambil tangan gw ini berusaha melepas celana dalam mba joan, yang manaa itu penutup terakhir di tubuhnya. Masih dalam posisi berdiri kujilati memek mba joan, kuhisap semua lendir yang keluar,gw begitu lembut memperlakukan mba joan.
“Ah.. Nan.. nikmat sekali sayang, buka pakaianmu sayang”.
Jari jemari tangan mba joan dengan lincah melepas kancing pakaianku mungkin karena dia biasa ngetik. Satu persatu pakaian yang gw pake terlepas sudah. Akhirnya kita berdua sudah telanjang bulat. Dihisapnya puting gw, sambil tangan mba joan meremas remas kontol ku yang sudah sangat tegak berdiri.
gw hisap dan jilat vaginanya yang harum, mba joan makin mengerang kenikmatan.
“Oh.. oohh.. mmhh.. ohhmm.. sayangg.. ohmm” jilatan gw makin liar dan semakin terasa kakinya mulai mengejang..gw makin mempercepat tempo jilatan maut dan dia mengerang semakin keras.
“Oohh.. ehheehmm.. ohh.. aauuaa.. hhmm” ternyata dia telah mencapai orgasme yang pertama.Sedangkan gw belom ada rasa mau keluar pedahal udah 15 menit.
dengan dia dibawah lagi jongkok,gw kasih titit untuk mengulum batang kemaluanku. Dia ternyata ngerti kemauan gw.
“Agh.. ohh.. agh.. ohh..”, erangannya.
Tangan nakal gw kemudian gw masukkan kembali ke selangkangannya. Dimainkan mulutnya buat memutar mutar penisku. Lalu gw coba masukin titit gw ke lubang surga dunia ternyata Vagina Mbak joan serasa sempit karena tulang panggulnya yang kayanya mempersempit lubang kemaluannya. Akan tetapi gw ngerasaub nikmat yang luar biasa di titit ini dengan lubangnya yang sempit itu. Aku keluar masukkan penisku dan mba joan membuka lebar-lebar kakinya sambil menopang satu kaki ke dinding kamar.Gw makin ngerasain sensasi yang luar biasa ketika penis gw keluar masuk, karena dinding lubang vagina dan tulang panggulnya yang menggesek-gesek batang kemaluan gw begitu terasa sekali.
“Ahh.”., rintih kami berdua, saat kontol gw masuk semua terbenam didalam lubang memek mba joan.
Gw lihat gw liat mba joan memejamkan mata dan mengigit bibirnya menikmati sensasi yang begitu indah. Mba joan mengangkat pantatnya dengan perlahan sekali, menikmati gesekan batang kontol gw dengan dinding memeknya, kemudian diturunkan kembali dengan sangat perlahan. semakin lama goyangan naik turun pantat mba joan semakin cepat.
“Akkhh..Nandi.. ampun.. enak sekali sayang.. kontol mu enak sekali sayang”.
mba joan terus menjerit mendesah berteriak menikmati sensasi nikmat dari pertemuan batang kontol ku dengan lubang memeknya. kontol ku yang begitu tegak perkasa terus menerus menerima gesekan demi gesekan dari lubang memek joan.
“Iya.. mba, aku juga nikmat goyang terus mba”.
Kuremas tetek mba joan, aku angkat badanku kuhisap teteknya, goyangan pinggul mba joan makin menggila dan terkendali.
“Oh.. nan.. mba.. sudah nggak sanggup lagi..,mba mau keluuarr”.
“Ayo.. mba.. keluarin semuanya mba.. Nikmatin.. mba.”..
"nan.. Arrgghh.”., jerit mba joan, memek mba joan dengan kuat mencengkram batang kontol ku.
akhirnya kita berdua ngeluarin orgasme kita bareng-bareng
dengan titit gw masih ada di dalam badan mab joan gw cium lagi bibirnya
"enak mba?"tanya gw
"enak banget nan,aku masih mau ngelakuin lagi sama kamu"
"iya mba,aku juga mau besok yah bu"
Akhirnya gw nggak berdaya beberapa saat disertai dengan kenikmatan yang tiada taranya. Dia telan semua spermaku, dan dikulum-kulumnya lagi penisku. Gw mikir, wah ini sudah tidak perlu dibersihkan lagi. Beberapa saat kemudian dia lepas kulumannya. Dia kemudian menuju ke kamar mandi, dan aku susul dia ke kamar mandi.Di dalam kamar mandi kita berdua masih ngelanjutin main-main kita tapi cuma sebatas sp-span dan ciuman . Kita kemudian makan, dan setelah selesai makan kita langsung tidur bareng disertai dengan mba joan.
setelah itu kita berdua sering ngelakuin lagi di berbagai macam gaya dan lokasi.
Pernah di hotel tempat dia kerja bahkan pernah di toilet disko karena dia lagi mabok.
ternyata dari gw bilang dia jablay high class ternyata dia bispak dan ternyata ga cuma bisa cipokan tapi bisa lebih
---------
Tamat
Nama gw Andre [setiap cerita nama gw berubah biar keren].Nah cerita ini ada waktu gw kelas 2 SMA.waktu taun ajaran baru ada guru baru sebut aja namanya bu anggun.Waktu upacara gw mah ga perhatiin muka ataupun bodynya.Tapi waktu gw di kelas ternyata dia guru fisika dalam pikiran gw kalo guru IPA tuh cewe gw ga bakal mudeng.
Berlanjut penjelasan ke bodynya tuh guru setelah 1 bulan diajarin sama dia gw liat-liat ternyata dia tuh cantik banget dan toketnya itu loh!!!.Beuh,mantap banget umurnya 26, tingginya tuh kira-kira 163 cm dengan toket kira-kira 36B,pake kacamata,pantatnya sekel banget,rambut sebahu.Udah kaya guru di film bokep deh pokoknya.tapi ada satu yang gw keselin dari guru ini kalo ama anak yang berisik ato bandel di kelas dia tuh jutek banget tapi kebetulan gw pendiem kalo dikelas jadi dia biasa aja sama gw.
Waktu itu gw ga masuk sekolah tapi hari selasa diumumin ada ulangan sedangkan gww gak tau apa-apa.Nah,disini gw putusin buat nelfon si bu anggun.
"bu,ini andre hari rabu ada ulangan yah?" gw nanya "iya ndre,rabu ada ulangan.kamu tadi ga masuk kan" jawab dia "ya bu,gimana kalo sekarang saya ke rumah ibu soalnya saya ga ngerti apa-apa bu" "mmm...yaudah jam 5 kamu ke rumah ibu" gitulah percakapanya.Rumah dia sama rumah gw ga jauh paling cuma 20 menit naik motor jadi gw gampang kalo ada pelajaran yang ga ngerti.
Jam 4.30 sore gw ke rumah bu anggun 5 kurang gw udah nyampe.Nyamoe depan rumahnya gw telfon bu anggun biar dia bukain pintu rumahnya.Ternyata rumahnya bagus bro mungkin dia anak orang kaya kali tapi lagi kerja praktek mungkin.Begitu dia keluar gw bengong ngeliatin dia emang sih ga pake baju yang mini tapi ketat-ketat gitu.Dia pake celana panjang skinny kaya anak-anak gaul jaman sekarang pake kaos oblong ketat sampe toketnya keliatan lebih gede dari dia pake baju kerja.
Skip skip...Pas gw lagi belajar dan gw lagi bengong dia nanya "kenapa ndre masih ga ngerti?" "udah si bu" jawab gw "mmm gimana nanyanya yah?"muka dia bingung "ndre,kamu pernah mainin burung kamu yah waktu di kelas?" "hah,engga kok bu" jawab gw malu "bohong kamu ibu pernah liat kamu masukin tangan kamu ke kantong celana terus kaya ngusp-ngusep burung kamu waktu pelajaran ibu" pedahal bener apa yang dia bilang soalnya waktu itu dia rambutnya dikuncir trus pake kaya blues yang lehernya ditaro dibawah toketnya jadi kenceng keliatanya makanya waktu itu gw horny banget.entah kenapa gw ditanya gitu langsung ngaceng. Dan mungkin ada setan lewat gw langsung pegang tanganya dan dia ga ngelawan.
Karena respon dia kaya gitu gw langsung aja cium bibirnya dia.Waktu kita cipokan gw pelan-pelan buka bajunya ternyata dia ga pake BH bro gw ga tau kalo dia ga pake BH soalnya dia ga pake baju transparan.
Lalu dia buka retsleting celana sekolah gw menurunkan CDnya dan mengelus-elus penis gw dengan lembut,
“auh.. uh.. uuh ..” rintihku menahan kenikmatan semantara Bu anggun sibuk dengan aktivitasnya
“ah .. mmhh.. Bu stop bu” rintihku karna gw ngerasa dia guru gw
diaa ngga jawab, malah semakin hebat menyedot penisku. Tubuhku semakin mengejang.abis itu kita balik ciuman
bu Anggun melepaskan ciuman dibibirnya lalu mengarahkan kepala ku kebawah yaitu toketnya.Gw mulai meremas-remas dadanya, sekali-sekali gw puntir putingnya sampe dia melenguh panjang. Puas ngeremes gw lalu menyapu seluruh dadanya dengan lidahku dan menyedot ujung putingnya sambil digigit-gigit sedikit.
Gw udah ngga sabar lagi. Batang penis yang udah dari tadi tegak berdiri ingin sekali merasakan jepitan vagina guru cantik nan montok itu. Akhirnya, perlahan kumasukkan batang penisku ke celah-celah vagina. Sementara tangan bu anggun membantu menuntun tongkatku masuk ke jalannya. Kutekan perlahan dan…
“Aaah…”, suara itu keluar dari mulut bu anggun setelah penisku berhasil masuk ke dalam liang senggamanya.
Kupompa penisku dengan gerakan naik turun. Desahan dan erangan yang menggairahkanpun meluncur dari mulut guru ini yang sudah semakin panas birahinya.
“Aach.. Ach.. Aah.. Terus ndre.. Lebih dalam.. Lagi.. Aah.. Nik.. Mat..”,bu anggun mulai menikmati permainan itu.
gw terus mompa titit sambil mulutku melumat habis kedua buah dadanya yang montok. Mungkin sudah 20 menitan kami olahraga.Gw merasa sudah hampir
tidak tahan lagi. Batang kemaluanku sudah nyaris menyemprotkan cairan sperma.
“Bu.. Punyaku sudah mau keluar..”
“Tahan seb.. Bentar sayang.. Aku jug.. A.. Mau sampai.. Aaach..”, akhirnya bu anggun tidak tahan lagi.
Kamipun mengeluarkan cairan kenikmatan secara hampir bersamaan. Banyak sekali air mani yang aku semprotkan ke pipi bawah bu anggun, hingga kemudian kami kecapekan dan berbaring di atas meja makan yang besar.
5 menit setelah kita istirahat gw mulai lagi permainanya.gw remas buahdada bu anggun kencang sia berteriak langsung gue masukin titit gue ke mulut guru ini yang menganga karena gue remas buah dada pelan-pelann ndre,hhhmmppp.desah bu anggun saat burung gue masuk ke mulut nya yang mungil.perlahan gue gerakin pantat gue maju mundur menyetubuhi mulut bu anggun.
ooohhhh..oohhh..ooohhhh….enak nya mulut ibu
ooohhh..oohhhh..sambil gw terus remas-remas buahdada nya nya bikin gw gemess.Setelah hampir 10 menit berlalu gue ngerasa klimaks gw dah mau nyampe gw gerakin titit gw lebih cepat hingga akhir nya crrroottt…crrroootttt,,,crrrooottt,,sperma gue masuk terlelan bu anggun,tampak si ibu gelagapan meliat gw klimaks kedua sedangkan kayanya si ibu orgasme sampe 3 kali.
selesai deh permainan gw di atas meja makan
"gila kamu ndre ibu puas banget sama kamu" si ibu bilang
"iya bu saya juga puas banget sama ibu" gw bales
"kamu paling hebat ibu bisa sampe 3 kali orgasme"
"gimana..lebih enak dari pada cuman liat dan coli khan..?”tanya dia
"jauh lebih enak bu"
pengen banget gw nyobain ulang ngesex bareng bu anggun
-----------------------
Tamat




