Fandi, The Story Must Go On!

Sinar matahari yang menyelinap melewati kaca jendela di kamarku seakan menyadarkanku bahwa hari telah beranjak siang, mengejap-ngejapkan mataku, melirik ke arah jam sekilas, terkaget sesaat dan membuatku untuk segera bangkit, mengucek-ngucek mata dan meraih handuk dan segera bergegas ke kamar mandi.

Hari ini mengingatkanku bahwa aku dan Moza siang ini akan berangkat untuk menjemput Tante Marissa ke Bandara, dalam hati aku bertanya-tanya, seperti apakah adik Tante Mala ini, apakah secantik kakaknya, sebaliknya atau malah lebih cantik ? aku sendiri mungkin dulu pernah kenal dengan tante Marissa ini, mungkin, sewaktu aku kecil dulu, toh biar bagaimanapun dia juga sepupu jauh ibuku, tapi aku sudah lupa sama sekali, apalagi semenjak SMP aku paling malas apabila harus ikut-ikut keluargaku mengunjungi sanak saudara. Sambil mengguyur badanku dengan air dingin aku membayangkan bagaimana sebenarnya sosok tante Marissa tersebut.

Selesai Mandi, jam menunjukkan pukul 10 lebih seperempat, tumben aku bangun sesiang ini, mungkin karena aku terlalu lelah barangkali, atau …. Tiba2 aku tersenyum, mengingat kejadian semalam dengan Mita, duh mungkin karena aku telah membuang spermaku begitu banyak sehingga badanku butuh istirahat untuk memulihkan tenaga kembali.

Bergegas aku berpakaian, serapih mungkin, ya namanya juga jalan ma cewek cakep, musti lah.. minimal baju agak bersih, walaupun udah 4 taon yang lalu belinya, pake t-shirt berkerah, biar keliatan kayak esmud, eksekutip muda, bukan sendal musholla, cuman sayang gara2 keseringan naek angkot yang begitulah, kerah gak ada yang bersih… heheheh..
Setelah memilih2 baju layaknya lagi belanja di Dept store kelas 2, akhirnya kecomot juga, yang kira2 paling kinclong, mematut-matut sejenak di depan kaca, kemudian segera bergegas berjalan menuju ruang bawah.

Kulihat kamar Tante Mala agak sedikit terbuka, namun aku tak tertarik untuk melihat ke arah dalam, walau hanya sekilas, kepalaku seolah berat untuk menengok ke arah kamar tersebut. Namun yang jelas sepertinya aku merasa bahwa ada orang didalam kamar tersebut, mungkin Tante Mala pikirku. Yang jelas didalam pikiranku saat itu adalah Moza, yang jelas aku merasa kurang gentle apabila aku merasa bahwa Moza telah menungguku di ruang bawah, menunggu untuk keberangkatan kami.

Kupandangi ruang keluarga, ke arah sofa, namun tak kulihat sesosok tubuhpun, duh, ada rasa deg-degan menghinggapiku, jangan2 Moza telah pergi, menyangka aku malas menemaninya sehingga memutuskan untuk pergi sendiri atau dengan orang lain, celaka !
Namun kulihat jam belum menunjukkan pukul 11 siang, masih ada 20 menit, berarti belum lewat dari janjiku kemarin jam 11, berusaha menenangkan kegugupanku dan aku memutuskan untuk menuju meja makan dan mengambil sarapan yang mungkin telah dingin.

Sambil mengunyah sarapan, aku memandang tivi yang nampaknya telah menyala sejak tadi, melihat sekilas acara tivi yang menayangkan sinetron murahan tanpa mencernanya kedalam otakku, pikiranku hanya satu, Moza, seperti apa ia hari ini ? apakah ia akan tampil cantik seperti biasanya, apakah aku pantas untuk berjalan mendampinginya, ataukah orang-orang akan menganggapku seperti supir yang mengantarnya ? duh mak ! makin deg-degan aja nih !

Tak lama kemudian, telingaku seakan menangkap suara langkah kaki menuruni tangga, secara spontan kepalaku menengok mengadah menuju arah suara tersebut, dan tak lama kemudian mataku menangkap sesosok tubuh berjalan menuruni tangga, tak salah otakku segera menangkap sosok tubuh tersebut, Moza. berjalan dengan anggun, menampilkan kecantikannya !

Ia tersenyum memandangku, melangkah menghampiriku, duduk dimeja makan dihadapanku, kemudian berkata “Cieee Aa, udah rapih euy, kirain belom bangun .. hehehe..!” aku hanya tersenyum menatapnya tanpa berkata apa-apa. Kemudian tanpa kuduga ia berkata lagi, “A, kayaknya mamah mo ikut ! jadi kita bertiga berangkatnya !” kaget aku mendengar kata-katanya namun segera aku menutupi kekagetanku, “Loh, kirain mamah gak mo ikut !” kataku menyahutinya, “Bukannya mamah kelihatan kurang sehat ?” aku berkata lagi, “Jah Aa, kaya gak tau mamah aja, dia mah kalo namanya pergi mah sehat aja !, lagian semalem telp2-an ma Tante Marissa lama, kayaknya Tante Marissa datang sendiri gak sama suaminya, jadi kayaknya sehabis dari bandara kita gak langsung kesini, mungkin kita terus nginep di rumah nya Tante Marissa, di sana “, (sambil menyebut sebuah nama tempat bersuhu dingin).

Aku jadi bertambah kaget saja, duh, kok jadi berubah gini acara ?, bisa ancur nech rencana “penyesuaian” dengan Moza, sahutku dalam hati. “Lah terus gimana kita ?” tanpa kuduga aku melontarkan kata-kata itu, entah apa maksudnya, terlontar begitu saja, upss, jangan2 Moza menangkap ada maksud tertentu dibalik kata2 itu. “Gimana, gimana A ?” moza balik bertanya kepadaku tapi sukurlah sebelum aku menjawabnya Moza sudah menjawabnya terlebih duluan, “Yaa.. kita ikutan nginep, aa bawa baju sekalian ...! “ sambil terkekeh ia menatapku.

“Yah... lama dong ? “ kataku lagi, Moza nyengir kemudian ia berkata lagi, “Aa libur kan ?, lagian enak kok A dirumahnya Tante Marissa, gede, dingin udah kaya villa aja.. “, katanya lagi !, “Ohh ya udah, emang mo berangkat jam berapa sih ?”, kataku lagi. “Ya tungguin mamah aja, mamah kelar kita langsung berangkat, kan dari sini ke bandara sekitar 3-4 jam sampe sana jam 4an, masih ada sejam nunggu pesawat landing”, katanya lagi.

“Ya udah kalo gitu, Aa nyiapin baju dulu, kirain mo langsung kesini, Tante Marissa mo nginep disini “ kataku. “ya aa, mo tidur dimana nanti dia ? biasanya Tante Marissa dari dulu juga langsung ke rumahnya, bawa barang seabrek-abrek, nanti setelah dari rumah, biasanya ya langsung deh, keliling ke keluarga”, katanya lagi. Aku mengangguk-angguk seperti menyetujui perkataannya, kemudian aku beranjak dari bangku dan berkata kepadanya akan menyiapkan pakaian untuk keperluan menginap nanti, duh repot, aku pikir bolak-balik sehingga aku tak memerlukan pakaian salinan.

Bergegas aku ke kamar atas, tak enak rasanya bila aku bersantai ria, takut bila nanti ternyata mereka menungguku berkemas dan menampilkan muka cemberut bila kelamaan menungguku, he...gak lah !
Menapaki lantai atas kini pikiranku mulai penasaran, kepalakku seperti berat untuk tidak melirik kedalam kamar Tante Mala, kembali ada rasa penasaran untuk melihat ke arah dalam kamar, pelan aku melangkah, berusaha agar tidak terdengar langkah kakiku. Menoleh sejenak kedalam kamar yang pintunya terbuka setengah dan kulihat disana, tampak Tante Mala sedang berdiri di atas cermin, sedang berdandan, dengan hanya mengenakan Bra dan Celana Dalam, seolah tak perduli bahwa ada lelaki lain di rumah ini !

Aku menjadi terdiam melihat sosok Tante Mala, begitu cantik, badan bersih, putih, ramping dengan payudara yang cukup besar dan proporsional, kembali dadaku bergelegak, perutku seperti ada dorongan hawa, membuat darah kelaki-lakianku naik. Teringat aku akan suatu saat lalu, ketika dalam keadaan sadar dan tidak sadar kami melakukan hubungan intim, entahlah, apakah tante Mala menyadarinya, ataukah tidak ? ataukah ia sebetulnya sadar namun tidak ingin menyadarinya. Entahlah. Sepertinya mataku tidak ingin berkedip, namun ada rasa tak enak bila tiba2 nanti Moza menyusul ke lantai atas dan memergokiku sedang mengintip mamanya, bergegas aku melanjutkan langkahku menuju kamarku.

Setelah merasa cukup dengan pakaian sebagai salinanku nanti, memasukkannya kedalam tas, aku bergegas keluar kamar karena kudengar tadi seperti ada suara pintu ditutup, nampaknya Tante Mala telah siap, dan benar saja, kulihat kamar Tante Mala kini telah tertutup rapat, begitu juga dengan kamar Moza yang semula tadi terbuka kini juga tertutup. Nampaknya mereka telah menyiapkan segala sesuatunya sejak tadi atau mungkin sejak kemarin.

Aku melangkahkan kakiku dengan cepat, menuruni tangga dan menuju ke depan rumah ke arah garasi, kulihat mobil telah dinyalakan untuk dipanaskan mesinnya, dan nampak disana Moza sedang duduk di dalam mobil sedangkan tante Mala sedang memasukkan barang2 bawaan kedalam bagasinya mengatur posisi barang layaknya hendak pergi jauh.
Dan duh kulihat Tante Mala dengan dandanannya yang memang cukup aduhai, mungkin menurutnya ini adalah hal yang biasa saja, tapi menurut penglihatannku penampilan Tante Mala layaknya seperti seorang wanita yang hendak pergi kepesta saja. Cantik dan anggun !.

Aku menghampiri mereka, dan Tante mala tersenyum melihatku, ramah, layaknya melihat seseorang yang telah lama tak dilihatnya, “Fan, udah siap ?” katanya melihatku !, aku tersenyum membalasnya dan menghampirinya, kemudian aku memasukkan tasku kedalam bagasi mobil Tante Mala yang cukup besar, mengatur agar muat dan menyisakan ruang yang cukup.

Setelah dirasakan tidak ada yang tertinggal, aku melihat sekeliling memastikan semua berjalan sebagaimana mestinya, kulihat Tante Mala bercakap dengan Bi Iyem, mungkin untuk memastikan bahwa selama kepergian kami semuanya akan baik2 saja, dan berpesan untuk melakukan sesuatu selama beliau tidak ada. aku jadi ingat dengan keadaan di rumahku di sana, saat ibu dan ayahku akan bepergian, palingan beliau berpesan agar aku tidak lupa untuk mengangkat cucian, agar idak kehujanan, jah.. cucian kok di bikin khawatir, palingan sarung belel, ma celana panjang lusuh, paling banter kebaya yg udah ilang kelirnya,,, hehehe, lah kalo Tante Mala mah pantes, ninggalin pesen supaya jangan lupa begini, begitu. Hehehehe....

Dan tak lama kemudian, dengan Moza disebelah kiriku, dan Tante Mala duduk dibelakang, mobil kuarahkan ke arah luar kota, melewati Tol, ke arah bandara di luar kota nun disana.

Benarlah setelah kira-kira memakan waktu sekitar 4 jam, ditambah dengan waktu kami makan siang di sebuah perhentian, dimana yang jelas disana tadi banyak mata memandang kami, terutama mata lelaki yang kelihatan liar, siap menelan mentah-mentah 2 wanita yang bersamaku dan aku mencoba untuk menjaga mereka, seolah aku adalah seorang bodyguard yang siap menyelamatkan mereka walau hanya sekedar menjaga dari pandangan mata lelaki iseng. Padahal....

Jam 4 lewat kami tiba di bandara, waktu masih lama, karena setahu kami pesawat dari eropa biasanya tiba setelah jam 5an, dan itupun bila tidak delay. Dan memang setelah kami meninggalkan parkiran dan menuju aula kedatangan, tampak dilayar yang berada di ruang lobby tersebut, terdapat deretan no pesawat kedatangan, dan jelas bahwa pesawat yang ditumpangi Tante Marissa belum mendarat.

Kami mengobrol di ruang tungu bandara tersebut, ngalor ngidul, bercerita mengenai Tante Marissa yang biasanya 2 – 3 tahun balik ke indonesia, bersuamikan seorang eks patriat, dan dikaruanai 2 anak laki2 yang saat ini sudah duduk di bangku SMA dan SMP, biasanya mereka sekeluarga datang namun kali ini hanya Tante Marissa sendiri, mungkin karena kesibukan sang suami dan anak2 yang mungkin mempunyai acara sendiri sehingga mereka enggan untuk ikut sang Mama ke indonesia, ke kampung halamannya.

Entah berapa lama kami menungu, dilayar monitor masih belum ada kejelasan kapan pesawat akan mendarat, aku melihat lagi ke arah monitor, berulang-ulang, seakan ingin meninggalkan kejenuhan karena menunggu. Dan benarlah rasa khawatirku terbukti, kulihat di layar monitor kini tampak status pesawat adalah terlambat, tanpa diketahui kapan kedatangannya.

Setelah beberapa lama menunggu, akhirnya kami memutuskan untuk mencari cafe dan memutuskan untuk disana. Sambil menghilangkan rasa lapar dan haus. Dan kami memutuskan untuk bergantian memonitor perkembangan kedatangan pesawat.

Entah berapa lama kami menunggu, sekitar jam 9 malam, baru ada kabar bahwa pesawat akan tiba dan mendarat, kami bergegas meninggalkan café dan segera menuju ruang kedatangan. Benarlah setelah menunggu kembali beberapa saat, nampak Tante Mala menunjuk kepada seseorang di arah pintu keluar sana, kulihat kearah yang ditunjuk, nampak disana sesosok wanita paruh baya yang cantik, dengan membawa beberapa koper berjalan pelan seolah keberatan dengan barang bawaannya, memalingkan kepala ke beberapa arah, seperti berusaha mencari seseorang. Dan tak lama kemudian pandangannya mengarah ketempat kami berdiri, tampak wanita itu tersenyum melebar dan bergegas menghampiri kami.

“Aduh, Teh, maaf lama ya nuggunya, tadi pesawat ditahan dulu di singapore, meni lama “ kata Tante Marissa sambil mencium pipi tante Mala, kemudian beliau berpaling ke Arah Moza, dan berkata antusias melihatnya “Moza, kamu meni udah gede pisan , duh udah jadi wanita cantik dan dewasa sekarang !” Katanya kepada moza, layaknya seperti sudah bertahun-tahun lama tidak bertemu. Memeluknya dan menciumi kedua pipi sang keponakan.

Kemudian beliau berpaling kepadaku, aku hanya tersenyum melihatnya, malu, deg-degan, takut dicium juga, dan lagi, takut banget disangka supir atau pembantu, padahal kalo ikut dicium yaa belom tentu nolak lah !, “Bentar, ini sapa Moz, calon suami kamu ?” katanya lagi sambil menunjuk kearahku dan berpaling ke arah Moza, aku terkaget-kaget mendengar perkataannya dan nyengir menahan malu, kulirik Moza disebelahku seolah memohon bantuan untuk menjelaskan dirinya siapa aku. Namun sebelum Moza menjawab, Tante Mala tanpa disuruh sudah menjawab pertanyaan Tante Marissa, “Ini Mar, putrana Teh ... (sambil menyebut nama ibuku) “ aku tersenyum mengangguk seolah mebenarkan ucapan Tante Mala, dan kemudian tanpa dinyana dan diduga Tante Marissa bergerak menghampiriku “Ya ampun ini teh Fandi Tea ?” duh.. udah berapa lama ya Tante gak pernah ngeliat kamu ? terakhir Tante Liat kamu waktu kamu masih SD mungkin ! waktu Tante Masih kuliah dulu !, ya ampun.. udah gede ya Fandi !” katanya antusias dan tanpa dinyana dan tanpa diduga beliau memelukku dan mencium pipiku, kanan kiri, pas !. (jangan ngiri loe, pembaca !)

Begitulah setelah berbasa-basi sejenak, aku menawarkan diri untuk membantu membawa barang2 Tante Marissa dan Moza juga turut membantuku, hingga akhirnya kami berempat dengan masing2 membawa barang, berjalan menuju arah mobil dimana mobil kami diparkir.

Setelah mengatur posisi barang di dalam bagasi mobil, Moza menanyakan kepadaku apakah aku lelah untuk menyetir dan bermaksud menggantikan aku untuk membawa mobil, namun aku hanya tertawa dan menyuruhnya untuk duduk disampingku dan membiarkanku untuk membawa mobil, setelah berbisik kepada Moza untuk memberitahukan kemana arah yang dituju, aku melesatkan mobil meninggalkan area bandara.

Sepanjang jalan aku kebih banyak hanya terdiam, mendengarkan ketiga wanita ini bercakap-cakap seolah serius dan fokus membawa mobil yang kukendarai. Sesekali aku menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Tante Marissa mengenai keadaan keluargaku, dan kadang pekerjaanku, namun pikiranku lebih banyak melamun, kadang aku melirik kearah kaca spion tengah didepanku, melihat kearah belakang, dan tanpa sengaja aku turut melihat wanita dibelakangku, yang kesemuanya cantik. Bila aku membandingkan kecantikan antara Tante Mala dan Tante Marissa rasanya sulit, sebab masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangan sendiri, namun bila diberi nilai, maka hasilnya adalah seri !.

Daerah yang kami tuju adalah daerah lumayan jauh, mungkin waktu yang kami tempuh adalah sama dengan tadi, arah tadi kami datang adalah dari sebelah timur, maka kali ini kami lebih ke selatan, menuju daerah pegunungan yang berhawa cukup dingin. Entah sejak dimana tanpa kusadari semua penumpangku mulai tertidur.

Sekitar jam 1 lewat kami telah tiba di kota tersebut, saat memasuki pinggiran kota, aku membangunkan Moza untuk menanyakan arah rumah Tante Marissa, kulihat kota masih ramai dengan lampu yang menyala, rasa lapar menghinggapiku, saat aku membangunkan Moza, kurasakan Bahwa Tante Mala dan Tante Marissa juga ikut terbangun. Mungkin rasa lapar juga menghingapi kami semua, hingga tanpa dikomando Tante Mala menyuruhku untuk berhenti saat melihat ada warung sate dipinggir jalan yang masih buka.

Moza hendak turun untuk memesan sate, namun aku hendak mencegahnya karena kulihat banyak pemuda yang sedang nongkrong disana, tapi nampaknya aku terlambat, moza sudah turun dan menuju warung sate tersebut, aku bergegas turun untuk mendampinginya dan seakan ikut ambil suara dengan sate yang akan dipesannya.

Tampak kulihat mata2 jahil kembali menatap Moza, dan seperti ada efek protection, aku menghampiri Moza dan meraih bahunya, memeluknya dari samping, seakan ingin memberitahukan pada pemuda2 disitu bahwa ini adalah cewekku, jangan coba-coba kamu menggodanya. Aku memeluknya tanpa aku sadari.

Dan nampaknya Moza juga tidak melakukan perlawanan, mungkin karena hawa dingin dan dia hanya menggunakan t-shirt, sehingga dia tidak menolakku saat aku memeluknya, dan mungkin karena ada rasa kekeluargaan diantara kami, mungkin dia menganggap aku adalah kakaknya dan merasa aman bersamaku, sehingga dia malah menyandarkan punggungnya di dadaku. Duh mak, entahlah bagaimana kurasakan hatiku saat ini, yang jelas aku merasa bahwa Moza saat ini adalah seperti cewekku.

Entah sampai berapa lama hal ini kualami, yang jelas aku berharap selamanya, aku hanya berharap sate yang dibakar lama matengnya, ada keinginan situasi ini menjadi makin lama, makin lama makin asyik, namun sepertinya sang tukang sate tidak sehati denganku, karena sate tiga puluh tusuk yang kami pesan nampaknya sudah matang, dan kemudian beliau membungkusnya cepat dan memberikannya kepada Moza setelah moza membayarnya. Kami meninggalkan warung sate itu dengan diiringi pandangan ngiler dari lelaki2 yang memperhatikan kami, duh seandainya Tante Mala dan Tante Marissa yang turun, dengan baju yang dipakainya saat ini, dengan belahan rendahnya, mungkin mereka secara spontan akan coli ditempat.. hehehehe...

Kami masuk kembali kedalam mobil, menyalakannya kembali dan membawanya kearah yang ditunjuk oleh Moza. Dari jalan raya tempat kami membeli sate tadi, mobil kubelokkan ke arah jalan yang lebih kecil memasuki jalan yang lebih keatas, cukup hanya bisa dilewati oleh 2 mobil saja, pelan melewati jalan licin dan menanjak. Dan setelah berapa kilometer, jalan berakhir dijalan yang berbatu-batu yang aspalnya mungkin sudah rusak. Berjalan kembali beberapa ratus meter dan Moza menunjuk pintu gerbang disebelah kanan, aku menepikan dan menghentikan mobil, dan tanpa dikomando Tante Marissa turun dari mobil, kulihat moza ikut turun menghampiri gerbang dan berusaha untuk membuka gerbang yang terkunci itu. Nampaknya Pintu gerbang terkunci, namun setelah beberapa saat mengetok-ngetok gembok dengan membenturkannya ke tiang gerbang, nampak kulihat seseorang berlari perlahan menuju gerbang. Kulihat sesosok laki-laki tua berusaha membuka gerbang, dan tak lama kemudian pintu gerbang hitam itu terbuka lebar.

Saat aku memasukkan mobil kedalam halaman yang cukup luas itu, kulihat Tante Marissa bercakap-cakap dengan bapak tua tersebut, aku memajukan mobil terus kedalam halaman dalam. Mungkin dari pintu gerbang ke dalam pintu utama rumah bisa mencapai 400 meteran jaraknya. Wow, yang jelas ini bukan rumah, tapi mungkin lebih tepat seperti villa saja. Dalam gelap kuperhatikan sekeliling rumah, agak seram dengan pohon-pohon tinggi melingkup halaman rumah ini. Pandanganku hanya mampu melihat beberapa meter ke depan saja. Entahlah, bagaimana rumah ini pada siang hari.

Setelah mematikan mesin mobil, aku menurunkan barang-barang yang berada dibagasi mobil, Tante Mala turun dari mobil, memintaku menurunkan barang-barangnya juga dan membawanya keruang dalam, tak lama kemudian Tante Marissa dan Laki-laki tua itu, yang akhirnya kuketahui bernama Mang Darta, membantuku menurunkan barang-barang dan memasukkkannya kedalam rumah.

Rumah sebesar ini hanya di tunggui oleh Mang Dharta seorang, mang Dharta telah ikut menjaga rumah ini beberapa tahun lamanya, beliau asli orang sini, diusianya yang telah mencapai 70 tahun dengan badan yang masih tegap dan kekar, istrinya adalah juga asli orang sini, kadang sang istri menemaninya disini untuk turut membersihkan rumah, di dekat gerbang tadi kulihat memang ada sebuah rumah mungil, mungkin disanalah mang Dharta tinggal, sambil menjaga rumah ini.

Selesai menurunkan barang-barang, aku memasuki rumah tersebut, rumah yang besar ini sepertinya hanya mempunyai satu lantai saja. Rumah tampak apik dan asri, walaupun sang empunya rumah mungkin hanya sekali atau 2 kali beberapa kali saja dalam setahun datang, namun rumah ini seperti setiap hari ada yang meninggalinya. Namun rasa seram tetap saja ada, belum lagi ditambah hawa dingin yang melingkupi rumah ini.

Namun setelah lampu tengah dinyalakan, barulah sepertinya ada rasa hangat melingkup rumah ini, aku langsung merebahkan kakiku di sofa ruang tamu, koper dan barang2 bawaan sengaja kuletakkan di ruang tengah, seperti ada rasa lelah yang sangat, menghinggapiku. Setelah kurang lebih 13 jam diperjalanan. Berusaha memejamkan mata namun rasa lapar masih menghinggapiku, hingga kemudian Moza memanggilku, ke ruang tengah, disana kulihat 3 bidadari telah berada disana, Tante Mala dan Tante Marissa tampak sedang menyiapkan piring makanan, Moza kulihat sedang merebahkan diri juga karpet bawah, sepertinya ngantuk juga menderanya.

Tante Mala dan Tante Marissa menyuruh aku dan Moza untuk makan terlebih dahulu, sebelum tidur, dan tanpa disuruh 2 kali, aku beranjak bangun dan mengambil nasi beserta sate yang dihidangkan diatas meja. Tanpa banyak cakap aku menghabiskan nasiku, kulihat Moza hanya mengambil sedikit nasi dan beberapa tusuk sate, begitu juga dengan Tante Mala dan Tante Marissa, hmm, sepertinya masih banyak tersisa untukku nih... hehehe... dasar rakus !.

Selesai makan, Tante Marissa mempersilahkan aku untuk mengambil kamar dimana saja aku suka, rumah itu sangat besar, kulihat paling sedikit ada 5 kamar didalam, Tante Marissa dan Tante Mala dan mungkin juga Moza sepertinya tidur dalam satu kamar, kamar di ruang depan, kamar yang paling luas kulihat, dan mungkin aku juga berpikir, dengan rumah sebesar ini jangan2 ada penungunya nih selain Mang Dharta, maka kusimpulkan untuk mengambil kamar yang berdekatan dengan kamar mereka.

Namun sepertinya Moza ingin cepat tidur dan tanpa kuduga sebelumnya Moza mengambil kamar yang telah diincar olehku, ia mengambil kamar tepat disebelah kamar Tante Marissa, sepertinya ia sudah sering kesini dan biasa menempati kamar itu. Dan mungkin juga Moza akan tidur dengan sang Mama.

Entahlah selesai makan aku sangat mengantuk, kulangkahkan kakiku dengan gontai menuju kamar yang terletak disamping kamar yang ditempati oleh Moza, pamit untuk tidur duluan kepada Tante Marissa dan Tante Mala kemudian menuju kamar tersebut, meraih Tas di atas karpet membawanya kedalam kamar, melemparkannya kesudut kamar, merebahkan badan, menarik selimut yang berada dibawah kakiku, enggan untuk mencuci muka, dan tanpa diperintah lagi, kupejamkan mataku, melayangkan pikiran, semakin gelap dan terlelap.

Entah jam berapa saat kukejap-kejapkan mataku, mungkin hari telah menjelang siang, karena kulihat gorden kamar berwarna krem dikamar ini seperti berwarna kuning menyala. Menggeliatkan badan seakan hendak mengusir rasa pegal yang melanda, namun rasanya segar dan fresh badanku, mungkin karena suhu udara didaerah ini yang masih dingin walaupun hari telah siang.

Bangkit dari tempat tidur, berjalan menuju keluar kamar, bermaksud langsung menuju ke kamar mandi, kuintip sebentar melongok keluar pintu kamar, waspada seandainya ada mahluk wanita memergokiku dalam keadaan yang jelas aku sendiri gak pengen diliat ... he.

Tampak sepertinya suasana masih sepi, kulihat diluar ruangan tak nampak seorangpun disana, mataku memperhatikan sekeliling, mencari letak kamar mandi, entah disebelah mana letak kamar mandi tersebut, namun jelas aku mengambil kesimpulan bahwa letak kamar mandi pasti di arah belakang rumah ini. Aku melangkahkan kakiku kearah kanan, menuju arah belakang dengan menenteng handuk dan perlengkapan lainnya yang telah kusiapkan.

Bermaksud berjalan cepat, menuju arah belakang, menilik-nilik dimana letaknya, akhirnya kupastikan bahwa kamar mandi yang kutuju berada disebelah kiri lorong ruangan, terlihat didepan salah satu pintu ruangan terdapat keset alas kaki, tersenyum aku, karena pencarianku berhasil. Ketika bermnaksud hendak berbelok dan meraih gagang pintu untuk membuka ruangan tersebut, hampir saja aku bertabrakan dengan sesosok tubuh, sekonyong-konyong pintu ruangan yang tertutup itu, terbuka. Upss ...dan seseorang keluar dari kamar mandi !

Tante Marissa !, terkaget aku, dan berusaha tersenyum, untuk menutupi kegugupanku, “Eh Tan, kirain gak ada orang !” kataku sambil menunduk. Tante Marissa membalas senyumanku dan kemudian berkata “Eh Fandi, sudah bangun Fan ?, gimana tidurnya semalam ? nyenyak ? pasti kamu capek !, tuh Teh Mala ma Moza masih pules ” beruntun kata-kata keluar dari mulutnya sambil tersenyum membalasku.

“Lumayan Tan, nyenyak banget sampe gak ingat apa2, loh Tante tidur Jam berapa ? kok udah bangun ?” Kataku lagi, karena seingatku semalam Tante Mala dan Tante Marissa masih bercakap-cakap asyik ketika aku memasuki kamar tidur.. Tante Marissa tersenyum, “Tante tadi udah tidur, tapi gak begitu nyenyak, cuman tidur biasa aja, mungkin masih pengaruh jetlag diperjalanan kemaren, lagian selama dipesawat Tante juga tidur terus kok “ katanya lagi menjawabku. Aku hanya mengangguk dan tersenyum menerima penjelasan darinya, “Ya udah Kamu mandi dulu aja Fan, tante Mau beberes di depan dulu, sekalian mo cuci mobil” katanya lagi.

Aku hanya mengangguk tanpa berani untuk membuka percakapan lebih lanjut, duh bagaimana tidak kalo aku perhatikan, Tante Marissa secantik Tante Mala, dengan tubuh proporsional, saat ini hanya dengan bercelana pendek warna putih dan hanya berbeha warna merah bermotif kembang atau kupu-kupu putih dengan cueknya berdiri dihadapanku, yang jelas bikin aku jadi blingsatan dan kebingungan sendiri. Kalo saja dihadapanku adalah Moza tentu dia telah blingsatan untuk menutupi belahan Bra-nya, mungkin sedari awal dia sudah menutupi dengan tangannya dan berlari menjauhiku. Namun untuk Tante Marissa ini adalah hal yang lumrah.

Aku membasahi tubuhku dengan air, duh dingin sekali layaknya diguyur air es, memang biasanya didaerah pegunungan seperti ini, semakin siang, suhu semakin panas, namun air lambat menaikkan suhunya, sehingga air yang kita rasakan akan semakin dingin. Selama membersihkan tubuhku, pikiranku melamun, melamun kotor dan semakin kotor, duh seandainya tadi Tante Marissa mengajakku untuk mandi bareng, hehehe.. semakin lama semakin kotor… hingga menimbulkan gairah sendiri yang tak terbendung.

Selesai Mandi, cukup lama kurasa, hanya dengan bercelana pendek dan bertelanjang dada, kembali ke kamarku, saat itulah kulihat pintu kamar Moza yang setengah terbuka, mungkin tidak ditutup, dan kulihat Tante Mala telah duduk ditepi ranjang, Kulihat beliau nampak telah terbangun, kulihat juga Moza masih tertidur pulas. Sepertinya Tante Mala dan Moza tidur berdua, sekilas keperhatikan Tante Mala, dengan berbaju tidur warna putihnya, dan seperti biasanya dengan belahan sangat rendah dan tanpa bra, mungkin sedang mengumpulkan nyawanya agar lebih sadar. kulihat jam di dinding telah menunjukkan pukul 11 lewat.

Hanya sekilas, dan sepertinya Tante Mala tidak menyadari bahwa aku memperhatikannya, dan setelah itu aku bergegas ke kamar, memakai kaos belel untuk menutupi badanku, menyisir rambut dan mematut-matut diri sejenak. Seperti niatku semalam, aku hendak berkeliling rumah ini, meneliti keadaan sekitar. Keluar ruangan, kulihat kamar Moza masih terbuka, namun tak kulihat Tante Mala, mungkin beliau sedang ke kamar Mandi, pikirku. Aku bergegas keluar menuju ruang depan.

Kubuka pintu menuju beranda, rumah yang besar ini, dengan desain model lama, tampak megah dan indah, dengan pemandangan yang asri, halaman yang sangat luas, mungkin beberapa ribu meter, jauh dari tetangga, segar dan indah sekali. Halaman samping dipenuhi rerumputan dan tanaman yang indah dan asri, dibelakang rumah dengan dikelilingi tembok cukup tinggi dengan pohon bambu yang melingkupinya, tampak sebuah kolam renang yang bersih karena terawat dengan airnya yang bening kebiru-biruan. Dengan kondisi seperti itu mustahil orang lain dapat melihat aktifitas di kolam renang dari luar.

Memandang kembali ke arah depan, kulihat di jalan masuk tampak Tante Marissa sedang mencuci mobil, masih dengan pakaian tadi dengan cueknya, bercelana pendek warna putih dan hanya mengenakan Beha warna merah bermotif putih. Tampak asyik sedang mencuci mobil, aku sendiri agak heran, karena jelas semalam aku tidak melihat mobil sedan terparkir disana, jelas bukan mobil Moza yang semalam aku kendarai, mungkin ini mobil beliau yang memang sengaja disimpan disini, memang mobil itu tampak agak kotor, yah mungkin karena tidak pernah dipakai dalam jangka waktu yang cukup lama.Yah toh mungkin ini sah-sah saja, karena jelaslah buat orang berada seperti beliau apa sih yang tidak mungkin ? dengan pikiran bahwa jika beliau sewaktu-waktu kembali ke indonesia, dan harus menggunakan mobil sewaan dan harus menginap di hotel dalam jangka waktu yang cukup lama, tentu hal ini cukup memboroskan, apakah tidak lebih baik jika beliau mempunyai tempat tinggal sendiri dan kendaraan sendiri yang kapan saja hendak digunakan.

Kuperhatikan Tante Marissa tampak mencuci dan membersihkan mobil tersebut, menggunakan ember dan selang yang ada, tampak asyik dan serius, duh kenapa dia tidak menyuruh Mang Dharta untuk membersihkannya ? pandanganku jadi berkeliling kembali, mencari sosok mang Dharta, dimanakah beliau gerangan ? tak nampak sosok yang aku cari. Akhirnya aku memutuskan untuk berjalan mendekati Tante Marissa, untuk menanyakan mengapa ia mencuci mobil sendiri ? dan mungkin aku dapat membantunya.

Tapi langkahku terhenti, rasanya ada langkah berat yang menahanku untuk membantunya, pikiran kotorku mulai datang, karena dari posisi disini, cukup jelas terlihat sosok indah itu, Tante Marissa dengan bodynya yang cukup aduhai dan menantang tampak seolah menggodaku untuk memperhatikannya lebih jauh. Duh, emang dasar aku mempunyai pikiran kotor, orang lagi mencuci mobilpun aku dengan mudah membayangkannya dengan hal yang ngeres !.
Apalagi pada saat beliau sedang berjongkok untuk membersihkanbagian bawah mobil , seolah aku dapat melihat jelas kedalam selah diantara celana pendeknya, bahwa saat ini beliau tidak menggunakan celana dalam… aduh !

Entahlah memang asyik melihat pandangan seperti ini dan makin lama rasanya aku semakin terperangkap, mulanya ada rasa ragu dan takut, namun hal ini seakan sudah menjadi biasa, dan lama-lama aku menganggapnya menjadi hal yang lumrah. Jadi ngaco nih !
Aku kembali masuk kedalam rumah, masih lelah sepertinya, ngantuk masih menyergapku, akhirnya aku kembali ke kamar, mencoba membaringkan kembali tubuhku, hingga rasa lapar menyergapku.

Tak banyak kegiatan dilakukan hingga sore hari, makan siang telah disiapkan oleh istri mang Dharta yang datang berkunjung setelah dijemput oleh suaminya, setelah itu Mang Dharta pergi mengantarkan sang istri dan berjanji akan kembali setelah malam. Hari hanya diisi oleh obrolan-obrolan hangat antara kami, Aku, Moza, Tante Mala dan Tante Marissa. Karena aku hanya laki-laki seorang dan rasanya tak enak berkumpul dengan para wanita cantik yang kadang bercanda tertawa terbahak pada saat menceritakan hal-hal lucu dengan diiringi tingkah laku yang kadang membuat aku jengah. Yah bagaimana tidak, dengan pakaiannya yang menurutku agak terbuka, Tante Marissa yang dengan hanya mengenakan Beha, Tante Mala yang mengenakan Daster Tipis Tanpa Beha dan Moza yang mengenakan T-shirt longgar dengan berbelahan rendah, jelas membuatku rada sungkan.

Tapi memang mungkin karena aku mudah untuk menyesuaikan diri dimana saja, dan kadang dengan sifatku yang ceria dan mudah memancing tawa orang, dan ini membuatku gampang diterima orang lain. Kadang sambil bercerita lucu dan celetuk2an yang membuat mereka tertawa terbahak, malah pernah tanpa kuduga Tante Marissa tertawa terbahak sambil memeluk aku ketika beliau ingin membeli makan malam ayam goreng kentucki (Baca: Kentaki) dan aku beri gurauan bahwa kentaki disini adalah artinya “Kenyang Tapi Keki”.

Beliau tertawa ngakak sambil memeluk aku dari belakang. dan jelas rasanya, payudaranya menyentuh punggungku, payudara nan besar dan kenyal itu seolah menempel ketat dibadanku, dan hal ini membuat pikiranku menjadi miring. Dan aku memutuskan untuk meninggalkan mereka kembali ke kamar, untuk rebahan.

Entah beberapa lama mataku terpejam, melayang sebentar dan kembali tersadar, demikian berulang-ulang, seperti gelisah, berusaha terlelap namun tak bisa terpejam, pikiran-pikiran kotor seakan tak mau hilang dari otakku. hingga sore menjelang.
Ketika aku tersadar, dari kamarku, sepertinya kudengar bunyi kecipak air dari kolam renang di sisi belakang rumah, entah siapa yang berenang dan bermain air disaat hari menjelang senja ini, namun seperti ada sesuatu yang menarikku untuk segera bangun dan melihat keadaan disana, entah kekuatan darimana yang membuat aku berusaha untuk berdiri dan bangkit, bergerak keluar dan menuju arah belakang rumah.

Waw... hanya itu yang dapat terucap dipikiranku, namun tak keluar dari mulutku, dari balik pintu belakang yang hanya terbuka kurang dari setengahnya, aku hanya berani melihatnya hanya dari balik pintu, tanpa berani walau sekedar melongokkkan kepala keluar, bagaimana tidak, kulihat Tante Mala hanya dengan kaos tipis dan bercelana dalam tampak duduk ditepi kolam, sementara kulihat di kolam, Tante Marissa sedang asyik berenang ria dan yang membuatku terpana adalah nampaknya Moza juga ikut menyeburkan diri ke kolam. Namun satu hal yang membuat aku agak terkejut adalah, Tante Marissa dan Moza saat ini berenang tidak dalam keadaan tertutup, alias keduanya berbugil ria ! duh ampun mak !

Gemetar lututku menyaksikan hal itu, layaknya Jaka Tarub sedang mengintip bidadari yang sedang mandi, sulit aku gambarkan bagaimana rasanya hatiku, deg-degan dan entah apa lagi. Kulihat tante Marissa asyik berenang kesana kemari, payudaranya yang besar dan indah seperti bergoyang mengikuti irama air yang berombak akibat kecipak tangannya. Dan yang membuatku terkesima adalah, Moza, baru kali ini aku melihat bentuk payudara indah, putih dan besar proporsional layaknya sang mama, dengan puting coklat kemerah-merahan, selalu terayun-ayun, Moza yang selama ini kukenal agak malu dan selalu menutupi tubuhnya kini sepertinya cuek, berenang kadang menyelam kedalam air, menikmati suasana sore yang menyegarkan.

Kulihat mereka tertawa, bercanda, entah apa yang mereka jadikan bahan obrolan dan candaan, namun ketika itu kulihat Tante mala sepertinya dipancing oleh tante Marissa dan Moza untuk segera terjun kedalam air. Dan benar saja tak lama kemudian, Tante Mala tampak menuruni kolam, merasakan dinginnya air kolam itu, dan tanpa melepaskan baju tipis yang menempel ditubuhnya, meluncur berenang.

Setelah beberapa kali bolak-balik kulihat Tante Mala kembali ketepian kolam, kini bajunya yang tipis telah basah kuyup, menggambarkan lekuk tubuhnya hingga kentara terlihat, membuat hatiku semakin tak karuan, membuatku teringat akan kejadian beberapa saat lalu, ingin rasanya aku mengulang kembali kejadian itu, menggauli dan menyetubuhi Tante Malaku !
Ya ampun, karena kulihat ia mengangkat bagian bawah baju tipisnya hingga keatas kelehernya, ia akan menanggalkan juga bajunya, ia akan berenang bugil juga... oh my god !

Namun rupanya dugaanku meleset, rupanya ia hanya memeriksa bagian dalam tubuhnya, mungkin karena ada sesuatu atau ia merasakan hal yang membuatnya tak nyaman, karena tak lama kemudian kulihat ia menurunkannya kembali, menutupi tubuhnya. Dan tak lama kemudian ia beranjak naik ke pinggir kolam. Duduk ditepian menyaksikan adik dan anaknya berenang.

Aku segera berbalik, tak enak rasanya bila mereka memergokiku sedang mengintipi mereka yang sedang tidak berbusana, aku cepat-cepat berbalik menuju kamarku, dan melanjutkan aksi melamunku.

Hingga hari menjelang gelap, kudengar suara air memancar dari kamar mandi, mungkin Tante Mala atau Moza sudah selesai melakukan aktifitas berenangnya, aku segera keluar kamar, seolah-olah baru bangun dari tidur. Dan benar karena pada saat aku melewati kamar Moza, kulihat dia sedang duduk ditepi ranjang, aku hanya melihat sekilas, kulihat dia yang masih mengenakan celana dalam warna merah dan kaos tipis berbelahan rendah.

Bergerak aku menuju ruang tengah, menuju sofa, menyaksikan televisi yang rasanya sudah menyala semenjak pagi. Mennudukkan diriku diatas sofa dan mengangkat kakiku menjulur, merebahkan badanku dan meraih remote untuk memilih acara yang entah apa ingin kusaksikan.

__________________
Tamat