ANDINI

Frank melempar pandang ke seberang jalan. Disana perempuan molek yang telah lama menarik perhatiannya itu juga sedang membersihkan mobilnya dari timbunan salju. Meski musim dingin, perempuan dengan tinggi di bawah rata-rata ukuran Kaukasian itu tetap tampil menawan. Sepatu bot yang sampai ke lutut, rok denim yang membalut pas panggul yang berbentuk indah dan tiga perempat paha yang padat kokoh. Sweater tebal dan jaket kulit yang tak menyembunyikan bongkahan dadanya yang busung. Scarf merah yang senada dengan sweater dan topi selungkup merah jambu yang menutup sampai ke telinga, rambut hitam lurus yang tergerai ke bahu. Kelihatannya bukan Kaukasian. Kulitnya agak kecoklatan. Dari mana gerangan? Brazil? Kuba? Filipinos, Hawaii?

Sudah lama mereka bertetangga, barangkali hampir tiga tahun tapi tak pernah sekalipun berteguran apalagi bertutur-sapa. Karena tak ada keperluan dan tak ada alasannya. Perempuan itu kelihatannya bersuami dan punya putri yang barangkali berusia 7 tahun. Tampaknya dia bekerja, hanya sekali-sekali pada akhir pekan dia terlihat mengurus bunga di halaman rumah. Frank sendiri juga sibuk. Pagi pukul tujuh dia sudah harus berangkat kerja dan pulangnya paling cepat baru pukul lima sore, Senin sampai Jumat. Hari ini lain dari biasanya. Sebagian besar kantor tutup karena badai salju malamnya. Banyak jalan masih diselimuti salju. Pemerintah kota belum sempat membersihkan, menaburi garam dan pasir, dan karena itu banyak kantor memberi kelapangan pada pegawainya libur sehari. Jadi Frank kebagian libur ekstra di luar akhir pekan.

Perempuan itu sudah selesai membersihkan mobilnya. Frank mengikuti dengan matanya saat perempuan itu membuka pintu Corolla-nya, dan membungkuk kedalam mencari sesuatu. Dan lelaki bule bertubuh kokoh itu menelan ludah menonton pemandangan mengasyikkan dari lekukan pinggang yang ramping terus ke bukit panggul dan tiga perempat pahanya yang berbalut stocking transparan.

Frank masih berlambat-lambat dengan pekerjaannya ketika perempuan itu menutup pintu, mengenakan seat-belt dan menghidupkan mesin. Sedan mungil buatan pabrik Toyota itu berderam-deram sewaktu pedal gas ditekan dan ditekan lagi. Roda berputar tapi tak beranjak dari tempatnya. Berulang-ulang di-gas, mobil itu tetap tak dapat melepaskan diri dari cengkaman salju yang membeku dan licin.

Frank meletakkan penggaru es-nya di atap mobil, mendekat.
"Let me give you a hand, ma'am", teriaknya di bawah raungan mesin sang Corolla. Perempuan itu melihat isyaratnya dan Frank mengambil posisi di belakang mobil. Dan ketika pedal ditekan lagi, Frank, yang berdada bidang dan bertubuh atletis dengan tinggi 190 senti mengerahkan tenaganya mendorong dan sedan itu terlepas dari perangkapnya.

Perempuan itu keluar dari mobil dengan wajah cerah. ?Thank you so much, sir!? katanya tersenyum.

"Ah, bantuan kecil yang tak ada artinya", kata Frank. Baru kali ini dia melihat perempuan itu begitu dekat. Duhh alangkah cantiknya. Bibirnya yang indah penuh dan sensual, yang betapa lezat untuk dilumat, batin Frank.
"Kita sudah bertetangga sejak lama, tapi masih belum kenal satu sama lain. I'm Frank", laki-laki putih itu mengulurkan tangan.
"I'm Andini", perempuan itu sopan menyambut uluran tangannya, "It's nice to know you, sir."
"Andini, anda dari India?"
"Bukan, saya dari Indonesia", kata perempuan itu.
"Bali", teriak Frank. "Saya pernah ke Bali", kata Frank dalam bahasa Indonesia yang lumayan.

Andini tersenyum "Oh ya? Apa Bali merupakan pengalaman menyenangkan bagi Pak Frank?"

"Oh ya ya, saya senang sekali. Saya senang pemandangannya, budaya dan keseniannya, tariannya yang eksotik, dan juga orangnya, terutama perempuannya yang ramah. Anda dari Bali, Andini?"
"Tidak. Saya dari Bandung, Pak Frank, Priangan. Apa Pak Frank pernah ke Bandung?"
"Belum pernah, tapi saya pasti akan kesana satu kali nanti." Memang benar, saat itu Frank ingin sekali ke Bandung.

Lalu Andini ingat sesuatu, mesin mobilnya masih hidup, dan pintunya terbuka.

"Maaf Pak Frank, saya harus berangkat kerja."
"Rupanya kantor anda tidak tutup? Anda kerja dimana?"
"Tidak, kantor kami tidak tutup. Martin Marietta di Third Street."
"Oo kantor saya hanya dua blok dari sana, di Wilshire. Nanti kalau ada salju lagi dan kantor tidak tutup, anda bisa naik mobil saya saja."
"Atau anda naik mobil saya", sambut Andini tertawa.
"See you Pak Frank!"
"See you Andini! Hati-hati jalan licin, masih banyak es dan salju." Dan matanya tak lepas dari ayunan panggul yang demikian menawan. Tak lama Corolla itu berbelok di tikungan dan lenyap dari pandangan.

Entah kebetulan entah untung mujur, keesokan harinya dalam perjalanan ke kantor Frank melihat Andini berdiri di bus stop. Dia segera saja menghentikan BMW-nya dan membuka kaca jendela sebelah kanan dengan tombol otomatis disamping driver seat-nya:

"Andini mau kemana?"
"Mau kerja."
"Ayo naik." Dan dia memindahkan mantel coat-nya ke jok belakang lalu menekan tombol melepas pintu dari lock.
"Ada apa dengan mobilmu?", tanyanya sewaktu Andini sudah duduk disampingnya memasang seat-belt dan mobilnya bergerak lagi.
"Mobil suamiku masuk bengkel. Jadi kutinggalkan mobilku karena dia harus ngantar anak ke sekolah."

Andini menoleh ke arah Frank yang pagi itu kelihatan ganteng dan necis dengan setelan jas biru gelap, kemeja putih bergaris-garis abu-abu dan dasi sutra halus Pierre Cardin bintik-bintik dengan paduan warna merah, kuning dan biru juga. Dengan usia yang barangkali sekitar 50-an pastilah lelaki ini punya kedudukan di kantornya. Demikian taksiran Andini.

Dan persahabatan itu berlanjut. Sewaktu mendrop Andini di depan kantornya, Frank minta nomor cellphone. Dan siang itu juga Frank menelpon ngajak makan siang di satu restoran yang letaknya di antara kantor mereka. Dan Andini setuju. Lalu besoknya dia nelpon lagi ngajak makan siang, dan besoknya, dan besoknya lagi. Dan dari percakapan makan siang, Frank-pun tahu bahwa suami Andini sakit-sakitan. Dia mengidap diabetes dan juga gejala jantung. Dan Frank mengatakan dia punya dua anak yang sudah masuk perguruan tinggi dan tinggal di kampus, dan bahwa hubungan dengan isterinya akhir-akhir ini tidak begitu baik. (Frank tidak mau mengatakan bahwa perempuan frigid itu sudah lama tidak mau lagi memberikan tubuh kepadanya, karena itu akan membuka rahasia betapa birahinya menggelegak setiap memandang tubuh Andini yang sintal padat).

Tetapi Andini bukannya tidak tahu. Laki-laki itu lapar, dan dia harus hati-hati jangan sampai terjebak ke situasi yang tidak dia kehendaki. Itu sebab dia berusaha membatasi diri. Hanya sesekali dia memenuhi ajakan Frank makan siang, tetapi hanya karena segan menolak terus-menerus. Lalu setelah pada suatu hari Frank meletakkan tangan di atas tangannya di meja makan dan meremasnya lembut, dia memutuskan untuk tidak lagi menerima ajakan makan siang Frank untuk seterusnya. Bahkan kalau dia lagi mencuci mobil dan Frank juga mencuci mobilnya, dia berusaha menghindari tatapan mata Frank agar mereka tidak berteguran.
"Please Frank, saya punya suami", katanya menghiba di cellphone, sewaktu Frank mencoba ngontak lagi.

Hari itu akhir pekan di pertengahan musim semi, beberapa bulan kemudian. Frank mendorong mesin lawn mower perlahan-lahan sepanjang bentangan rumput halamannya, bolak balik membentuk garis-garis lurus sejajar supaya indah dipandang mata. Di seberang sana dia melihat Andini sedang meng-inspeksi mawar dan bunga-bunga semusim yang dia tanam akhir pekan lalu. Kelihatan seksi sekali dengan rambut yang diikat buntut kuda ke belakang, rok pendek putih dan blus kaus putih dipadu sepatu olahraga putih. Kelihatannya dia baru pulang main tennis dan belum sempat ganti pakaian. Frank tak tahu apakah Andini tahu dia memperhatikan setiap gerak-geriknya. Yang terang tak sekalipun dia menoleh ke arah Frank. Dua tiga kali pandangan mereka seperti hendak bertemu tapi Andini cepat beralih memandang ke arah lain.

Suasana akhir pekan di kompleks perumahan kelas menengah di pinggiran kota itu sepi. Rumahnya juga sepi. Isterinya mungkin di mesin cuci di lantai-dasar. Rumah Andini juga lengang. Entah kemana putrinya yang biasanya ikut keluar kalau Andini menginspeksi bunga-bunga kesayangannya. Dan dia tidak melihat mobil suami Andini parkir di depan rumah mereka, hanya mobil Andini.

Gerah karena peluh yang bercucuran Frank menanggalkan baju, menampakkan dadanya yang bidang berbulu lebat, turun sampai ke pusar terus ke batas celana pendek gombrangnya. Dia berharap Andini akan menoleh, tapi perempuan itu tampaknya tak acuh, asyik dengan taman bunga-nya.

Tiba-tiba Frank melihat Andini meloncat dan berlari panik. Frank terkejut, ia meninggalkan mesinnya yang segera mati dan berlari ke seberang. "Ada apa Andini?"
"Saya dikejar", katanya menunjuk rumpun azalea setinggi pinggang. Frank melihat beberapa ekor tawon terbang berputar-putar di sekitar sarangnya yang tergantung di gundukan azalea.
"Yellowjackets!" kata Frank, "ini jenis ganas yang menyerang kalau merasa terganggu. Saya akan ambil penyemprot serangga di rumah."
"Saya punya", kata Andini bergegas ke bangsal di belakang rumahnya. Frank membuntuti, menikmati ayunan panggul Andini dan rok pendeknya. Ketika Andini masuk ke bangsal, Frank menunggu di luar, melihat sekeliling. Sepi. Dadanya berdebar, yellowjackets bukan lagi yang ada dalam pikirannya.

Satu menit Andini belum keluar, Frank ikut masuk. Bangsal ini seperti juga yang ada di rumah Frank berfungsi sebagai tempat menyimpan mesin pemotong rumput dan peralatan mengurus halaman lainnya. Frank juga melihat sebuah meja kayu yang kokoh. "Untuk apa meja kayu ini, Andini?" Andini tampaknya masih memeriksa, belum menemukan yang dia cari. "Ndak tahu, sudah ada juga sewaktu rumah ini kami beli. Dimana ya sprayernya? Rasanya saya melihat disini beberapa waktu yang lalu", suaranya parau, gelisah karena Frank ikut masuk ke bangsal yang tak berjendela.

Dia memutuskan untuk tidak mencari lebih lanjut dan hendak keluar. Tetapi saat melangkah mundur punggungnya bersentuhan dengan dada telanjang Frank yang segera saja merangkulnya. Bukan itu saja, Frank bahkan membenamkan wajahnya di rambut Andini. Dan bulu roma Andini merinding sewaktu lengannya bersentuhan dengan bulu-bulu dada laki-laki itu. "Frank", dia mendesis, "please don't". Tapi Frank nekat. Dari rambut Frank mengalihkan wajah ke leher dan tengkuk Andini yang menyebabkan perempuan itu menggelinjang dan kedua tangannya yang berada di atas tangan Andini yang digunakan melindungi dadanya merasakan bulu roma perempuan itu berdiri. Nafasnya sesak. "Please Frank, don't", mohonnya lagi dengan nafas semakin memburu. Tapi ciuman dan kecupan Frank yang penuh nafsu semakin ganas, terus ke kening dan mata, pipi, hidung, lalu bibir mereka bertaut. "Mmmh", Andini ikut hanyut terlena dalam nikmat lumatan mulut Frank yang hangat penuh birahi, dan saat mulutnya terbuka sedikit, ujung lidah mereka bertemu yang menyebabkan tubuhnya seperti tersengat getaran listrik tegangan rendah. "Ummhh", mulutnya yang sensual kembali dilumat rakus dan sebelah tangan Frank yang berbulu-bulu menyelusup ganas ke balik blus kaus dan bra-nya, meremas gemas kedua buah dadanya berganti-ganti. Sementara itu dia merasakan batang kejantanan Frank yang keras menyentuh panggul di balik rok mininya. Andini merasakan sesuatu memercik dari liang vaginanya.

Andini tersadar dari keterlenaan. Dia memberontak melepaskan diri dengan marah, terisak.

"Tolong jangan hancurkan reputasi-ku. Aku perempuan baik-baik. Aku punya suami", tangisnya berbisik.
"Tenang Andini, tidak ada yang tahu aku masuk ke mari. Aku lebih dulu melihat berkeliling. Percayalah Andini, aku akan menjaga reputasi-mu. Hanya kita berdua yang tahu. I love you."
"Mom!!" Mereka mendengar teriakan dari arah rumah. Andini cepat menyusut airmatanya.
"Yes honey?" ia keluar bergegas.
"Mama, ibunya Jeannie akan tiba menjemput beberapa menit lagi, dia sudah nelpon."
"Oke sudah kau siapkan keperluanmu?"

Frank mendengarkan pembicaraan ibu dan anak dari bangsal. Apa yang akan dia lakukan? Dari reaksi Andini, dia semakin pasti Andini seperti yang dia curigai juga lapar. Dia bukannya tidak tahu diabetes dapat menyebabkan impotensi pada kelelakian. Dan dia menduga keras Andini juga sudah lama menderita kekersangan seperti dirinya.

Tak lama dia mendengar suara mobil di depan.
"Bye mom!"
"Bye honey, take care!". Dan Frank mendengar mobil itu pergi.

Frank membulatkan tekad. It's Now or Never. Karena dia mungkin tidak akan pernah lagi memperoleh kesempatan lain. This is the only chance. Frank berdiri di pintu bangsal, menilik cermat berkeliling. Ada satu-dua yang lagi motong rumput. Selebihnya sepi. Dan Frank tenang melangkah ke pintu belakang yang tidak berkunci dan membukanya.

Andini terperanjat sewaktu Frank merangkulnya saat keluar kamar setelah berganti pakaian dengan kimono. Tadinya dia mengira lelaki itu sudah pergi. Kurangajar, nekat sekali seperti perampok. Andini berontak. "Frank, suamiku sewaktu-waktu pulang", katanya sengit berusaha melepaskan diri. Tapi tangan-tangan Frank begitu kuat, dan nafas Andini tersengal sewaktu Frank mengangkat dagunya dan mendaratkan ciuman basah di bibirnya. Lalu dia tekankan kepala perempuan itu ke dadanya yang telanjang.

"Kemana suamimu?" tanyanya menyidik tak sabar. Nafasnya sesak menahan nafsu.

"Menginspeksikan mobil, sudah satu jam dia pergi." Andini berbisik bicara cepat, gemetar. Dia mengerti situasi sangat gawat. Apa saja bisa terjadi kala berduaan saja dalam keadaan lengang dengan lelaki yang agresif ini.

"Biasanya antriannya panjang", kata Frank walau dia sendiri tak yakin. Lalu kecupan lapar itu mendarat lagi di bibir Andini yang merekah indah, dan sewaktu Andini membuka mulut untuk bernafas lidah Frank kembali menyentuh ujung lidahnya lalu mulutnya menerkam dan menghisap lidah itu dengan rakusnya, sembari kedua tangan Frank bermain-main aktif menjelajah mengusap lekukan dan meremas bongkahan panggul dan dadanya, bahkan ke bawah, ke bagian dalam paha dan bukit rahasianya yang terasa cembung di balik celana dalam.

Andini tak mampu lagi berpura-pura. Darahnya bergelora, birahinya bergejolak. Sudah tiga tahun organ seks suaminya tidak berfungsi lagi. Karena itu sejak Frank menolong mendorong mobilnya, dia sudah sering berkhayal betapa nikmatnya menyerahkan diri kepada laki-laki tinggi kokoh yang kelihatannya punya nafsu besar itu. Entah berapa panjang kelelakiannya yang kini dia rasakan tegang menyentuh perutnya. Rasanya dia ingin menyerahkan dirinya sekarang juga. Dirangsang nafsu, tak sadar tangannya melingkar ke leher Frank dan bibirnya yang sebelumnya hanya menerima lumatan kini balas melumat. Lalu tangan Frank menarik lepas kimono Andini, bahkan bra dan celana dalamnya juga dia lucuti tanpa menunggu lebih lama lagi. Frank terbeliak melihat keindahan tubuh Andini yang sudah telanjang bulat. Begitu sempurna. Barangkali Dewi Venus-pun tidak secantik Andini. Dia cengkeram tubuh Andini, dia benamkan wajahnya diantara gundukan buah siti hawa-nya yang bak tempurung kembar, menghirup aroma disana. Diangkatnya Andini dan dia dudukkan di meja makan. Lalu mulutnya menerkam puting Andini sebelah kiri, menghisap, mengulum dan menggigit gemas pentilnya yang membuat semua rambut pori-pori Andini berdiri, lalu hisapan dan gigitan itu beralih ke puting kanan. Wanita cantik itu merintih.

Tiba-tiba telpon berdering keras dan seperti terkejut oleh suara guntur pelukan keduanya terungkai. Andini bergegas turun dari meja memungut kimono, bra dan celana dalamnya yang bertebar di lantai sebelum menjangkau gagang telpon wireless dari sandarannya. Beberapa saat dia menenangkan nafasnya yang memburu. Frank menahan diri, memelototi perempuan yang masih telanjang bulat itu. Ditatap oleh Frank dalam ketelanjangan Andini merasa kikuk, karena itu dia berusaha membelakangi Frank dan mengenakan kembali pakaiannya.
Mulanya Frank tidak mengerti apa yang dibicarakan. Dia hanya mengerti kata muffler.

"Should I pick you up?" Tanya Andini sembari mengenakan kembali kimononya dengan mengalihkan gagang telpon dari satu tangan ke tangan lain saat memasukkan tangan ke lengan kimono. Bra dan celana dalam tetap dia pegang bersama telpon. Agaknya sang suami mengatakan dia memilih menunggu di ruang tunggu bengkel.

Frank kembali mendekat sewaktu Andini meletakkan gagang telpon.
"Jangan, sudah, Frank!? Andini mencoba menghindar sewaktu Frank kembali memeluk dari belakang." Saya kira mobil suaminya tidak lulus inspeksi emisi, Andini. Dan mengganti muffler paling kurang memerlukan waktu dua jam", Frank berbohong. Mengganti penyaring karbon-dioksida itu paling hanya perlu waktu satu jam kalau langsung dikerjakan. Muslihatnya berhasil, perempuan itu tidak lagi bertingkah ketika ciuman basahnya kembali menyosor tengkuk dan lehernya. Andini juga membiarkan kimononya dilepas kembali. Nafasnya kembali tersengal, birahinya kembali menggelegak sewaktu Frank kembali menghisap dan menggigit-gigit buah dadanya dengan rakus, tangannya menjamah kesana kemari bahkan ke bagian tubuhnya yang paling pribadi. Frank mendapati Andini sudah basah-kuyup di sana.

"Andini dear, aku ingin menyetubuhimu", bisiknya pernuh hawa nafsu di telinga Andini yang terpejam. "Aku mau memasukkan batang kelelakianku ke liang nikmatmu." Andini tak menjawab, menyerah. Lalu diangkat dan dipondongnya perempuan telanjang bulat itu kembali ke meja. Karena tak tahan lagi hendak segera menancapkan batangnya yang sudah sangat tegang ke lobang puki Andini yang tebal cembung yang terhidang di depannya, seperti kesurupan Frank hampir terjatuh ketika buru-buru menanggalkan celana pendek gombrang dan celana dalamnya. Dan telanjang bulat seperti Andini dia menghunus senjatanya yang besar dan panjang yang sudah lama tegang dan semakin tegang menyaksikan tubuh Andini yang seksi menawan. Wanita molek ini benar-benar cantik sempurna dengan vagina sehat yang bakalan menjadi santapan lezat batangnya. Frank haikul yakin lubang nikmat memek tebal itu akan sanggup menelan seluruh kejantanannya yang berukuran 30 senti serta melayani hunjaman-hunjaman dan kocokan gila batangnya itu.

Frank menarik tubuh Andini, menempatkan panggul perempuan itu di pinggir meja. Berjongkok setelah menaikkan kedua kaki Andini yang terjuntai ke bahunya, dicium dan dijilatnya bagian dalam kedua paha Andini, lalu bukit pukinya yang berhutan. Andini kelihatannya merawat rambut kemaluannya dengan menggunting bagian yang terlalu panjang. Karena tidak terlihat semrawut malahan indah teratur mengikuti kaidah estetika. Frank mencumbu vagina montok itu. Dia cium dan dia belai dan usap-usap. Kemudian dia jilat kelentitnya yang membuat Andini merintih menjambak rambut Frank. Tapi Frank tak peduli. Dikulumnya bibir kiri dan bibir kanan memek Andini yang bersih berwarna merah jambu.

Andini meregangkan tubuh, mengangkat panggulnya dan kembali merintih panjang ketika bibir laki-laki itu ganti mengulum kelentit Andini. "Frank, setubuhi aku Frank. Aku tak tahan lagi", pintanya memelas. Frank memang tidak mau menunggu lagi. Dia tidak mau Andini orgasme sebelum waktunya. Dia ingin batang kelelakian-nyalah yang membawa Andini ke puncak sorga dunia untuk pertama kali setelah lama dilanda kekeringan.

Sebelah kaki Andini dia posisikan tetap di bahu dan satunya lagi dia sangga dengan tangannya yang kokoh. Setelah posisi dia rasa sempurna dia gunakan tangan kanan menuntun bonggol kepala senjatanya ke mulut liang nikmat Andini yang tergenang air berahi, tak sabar hendak melahap batang kejantanannya. Masih menuntun dengan tangan, Frank menggesekkan kepala penisnya di celah nikmat itu ke atas menyentuh kelentit Andini, lalu ke bawah lagi ke mulut liangnya, dan membenamkan bonggol itu sampai ke leher. Andini gemetar mendesis menahan nikmat sewaktu bonggol besar itu menguakkan celah labianya yang sudah basah licin. "Pelan-pelan, sayang", rengeknya. Dan Frank, merasakan kenikmatan yang tak ada taranya memasukkan penisnya sepertiga ke liang nikmat Andini yang ia rasakan seperti mencekam, mengulum dan menyedot batangnya. Dia masukkan lagi sepertiga lalu menggoyang. Andini mendesah. Frank menggoyang semakin gairah. Penisnya kini masuk tiga-perempat. Andini kini mengeluh dan mengerang menghayati nikmat. Keduanya terbang ke langit yang ketujuh.

Keduanya terperanjat ketika seseorang melintas di depan jendela di balik gordin kain jendela. Frank mencabut senjatanya dan Andini meloncat turun dari meja.
"Dia tak bisa melihat apa-apa kedalam", kata Frank, setelah mendengar si tukang pos memasukkan tumpukan surat ke kotak surat dan pergi. Senjatanya masih tegang berlumar air mazi Andini. Di peluknya lagi perempuan itu untuk menenangkan, dia kecup lagi bibirnya dan dia kulum lagi lidahnya, dan hendak mengangkatnya kembali ke meja.
"Ke kamar", bisik Andini dengan nafas panjang-pendek tak teratur, menarik tangan Frank. Dia juga memungut pakaian mereka yang terserak. Frank mengikuti seperti lembu hendak disembelih.

Di kamar, Andini duduk di pinggir ranjang ukuran king size. Frank berdiri menghadapnya. Andini mengagumi senjatanya.
"Mau memegang?", kata Frank. Andini mengulurkan tangan, mengusap-usap kepala penis besar itu, kemudian membungkuk menjilat dan mengulumnya. Frank khawatir spermanya akan muncrat, bukan itu yang dia inginkan pada persetubuhan pertama ini. Dan dia tahu waktu mereka sempit.
Frank menarik penisnya dari mulut Andini. Di rangkulnya perempuan itu dan dia baringkan di ranjang, lalu dia juga naik ke ranjang mengambil posisi diantara paha Andini yang meninggikan kedua lututnya disamping tubuh telanjang Frank. Dan Frank kembali menjilat kelentit dan labia Andini, dan Andini kembali merintih dan mengerang. Lalu dia memposisikan tubuhnya di atas tubuh Andini. Kepala butuhnya yang basah oleh ludah Andini dia cecahkan lagi di mulut gua Andini. Andini menyambut kehadiran batang nikmat itu dengan gairah, dan kenikmatan yang tadi tertunda kembali mereka raih. Sembari menggoyang, Frank menciumi leher dan melumat bibir dan buah dada Andini, dan perempuan itu memeluk lelaki yang menyetubuhinya dengan bersemangat itu dengan gelora birahi yang juga membara.

Mereka bersetubuh dengan ganas. Andini melepaskan kendali kuda liar birahinya yang selama ini terkurung. Tidak ada gerakan, remasan, kuluman dan hunjaman batang Frank yang tidak dia nikmati dan tanggapi. Bagaikan gurun kering yang sudah lama tak ditimpa hujan, direguk, dihirup dan dilahapnya setiap tetes kenikmatan yang diberikan Frank. Dan Frank juga melahap dengan rakus kelezatan tubuh ramping padat Andini, dewi cantik pujaannya. Panggulnya memompa gelisah kian kemari tetapi dia masih menahan diri untuk tidak memurukkan seluruh batangnya sampai ke dasar liang Andini. Selagi kelamin mereka bertempur dahsyat, mulut mereka juga saling melumat dan lidah mereka saling menghisap dengan gemas.

"Frank, hamili aku!" teriak bisik Andini saat sejenak mulut mereka terlepas dari pagutan lengket. Frank semakin gila.
"Ya, Andini, engkau akan kuhamili!!" teriaknya sambil menghunjamkan seluruh batangnya ke dasar terdalam liang nikmat Andini, lalu kembali dia mengocok dengan ganas. Penis 30 sentinya menjelajah dan menonjok setiap sudut lobang Andini.

"Frank!" Andini seperti terbang ke awang-awang dalam terpaan badai nafsu Frank. Kedua tangannya berpegang kuat-kuat merangkul kedua bahu Frank sementara Frank terus memompa. Sepuluh menit bergumul dahsyat tubuh Andini mengejang, dia telah tiba di pintu sorga, dan Frank juga merasa dia hampir sampai di garis finish adu syahwat itu.
Andini melolong sewaktu orgasmenya melanda, dan Frank mendayung seperti gila sebelum meletupkan bongkahan-bongkahan sperma kentalnya ke rahim Andini saat otot-otot liang nikmat Andini mencengkam menghisap-hisap, dan membasahi batang kelelakiannya dengan air sorgawi yang mengaduk diri dan bersenyawa dengan air sari kelelakiannya.

Frank merasa seluruh tubuhnya lemas setelah pertempuran dahsyat itu berakhir. Dan Andini tersengal-sengal kelelahan, tulang-tulangnya seperti hendak terlepas satu sama lain, seluruh tubuhnya dibanjiri peluh. Sprei kasur ukuran king size itupun juga basah kuyup oleh kucuran keringat mereka.

Frank turun dari tubuh Andini dan berbaring miring disampingnya. Disusutnya peluh dari kening perempuan yang sangat dia sayangi dan kini menjadi isteri tidak sah-nya itu. Walaupun letih, wajah Andini terlihat semakin cantik.
"Nikmat sekali Andini, lezat sekali", pujinya jujur. Memang belum pernah seumur hidupnya dia merasakan kenikmatan sorgawi se-lezat itu.

"Bagaimana aku? Lezat juga?", bisiknya pura-pura bertanya dengan maksud mengganggu setelah deru nafas mereka reda. Dia cium pipi Andini. Andini tersenyum melingkarkan sebelah tangan ke leher Frank. Ditariknya kepala laki-laki itu, mendekatkan mulut ke telinganya berbisik mesra: "Jantan." Frank tersanjung, dan mulut mereka bertemu dan berlumatan lagi. Dan tangan Frank kembali meremas dada Andini. Lalu mereka meniti lagi dari awal dan setengah jam kemudian bertempur kembali dengan tak kalah dahsyatnya.

Frank sedang mendorong mesin lawn mowernya ke belakang saat dia melihat mobil suami Andini pulang. Dia memutuskan tidak melanjutkan kerjanya memotong rumput. Dia letih sekali dan bermaksud mandi lalu berbaring istirahat, tenaganya terkuras. Spermanya juga terkuras, dikuras liang nikmat Andini.

__________________
Tamat