Antara Aku, Mbak Mira dan Cinta Terlarang Kami

Ini pengalaman pribadiku.

Kenalin namaku Ervan, yang meski nama samaran tapi ini kisah nyata.
Perkenalanku dengan mbak Mira terjadi sekitar 3 tahun lalu. Mbak Mira adalah seorang wanita cantik yang sudah menikah dengan seorang manajer dari sebuah perusahaan BUMN. Umurnya 35 tahun, hanya beda 4 tahun dariku.

Meski sudah beranak 2 orang, tapi penampilan fisiknya tidak kalah dengan wanita-wanita dewasa yang lebih muda 5-10 tahun darinya. Maklum, dia seorang wanita yang sangat memperhatikan penampilan fisiknya. Bahkan setahuku dia juga rajin berolahraga, dan senam body language.

Rambutnya pendek sebahu, tinggi sekitar 160cm. Ukuran vitalnya mungkin tidak terlalu heboh, mungkin sekitar 34-29-36. Tapi penampilannya yang selalu rapi dan bersahaja membuatnya terlihat begitu menarik.

Awal perkenalanku dengannya mungkin tidak relevan untuk diceritakan di forum ini. Tapi yang jelas sejak kali pertama aku bertemu dengannya, aku sudah menaruh simpati padanya. Kelihatannya dia pun begitu, tapi dia adalah istri orang!
Akhirnya kami pun harus berpisah sekitar 1,5tahun yang lalu karena suaminya harus pindah tugas ke kota lain. Sungguh, entah mengapa rasanya begitu berat ketika kami harus berpisah. Aku masih ingat betapa matanya berkaca-kaca ketika harus mengucapkan salam perpisahan kala itu.

Setelah itu kami terpisah cukup lama, meskipun pada saat-saat tertentu kami masih saling mengirim salam. Tapi tidak lebih dari itu.

Namun tiba-tiba pada suatu saat Mbak Mira mengirimkan pesan singkat via ponselku.
"Van,apa kabarnya? Sekarang lagi dimana?"

Sebagai pengusaha muda yang masih bujangan, memang aku cukup sering keliling kemana-mana. Hometown-ku adalah di kota S, tapi aku cukup sering berada di kota Sm, J, B, maupun ke luar negeri untuk mengurus bisnisku.
Saat itu aku kebetulan berada di kota S, maka segera aku mengirimkan pesan balasan untuk memberitahu Mbak Mira.

Tidak lama kemudian Mbak Mira kembali mengirimkan pesan balasan. "Wah, kebetulan! Aku skrg dlm perjalanan ke S. Ntar ketemuan ya! Pesawatku berangkat 1 jam lagi"
Aku terkejut! Aku akan segera bertemu lagi dengannya!

Tapi, jangan-jangan dia datang dengan suaminya... Aku mencoba mengorek keterangan mengenai ini.

"Ga koq, aku sendiri aja. Van,ntar temenin aku jalan2 di S ya. Aku ga ada temen lain lagi lho di S".

Wah, pucuk dicinta ulam tiba neh!
Singkat cerita, malamnya aku menjemput mbak Mira di sebuah pusat perbelanjaan terkenal di kota S. Aku menelepon ponselnya dan mengatakan akan menjemputnya di lobby.

"Hai, mbak..."
"Hai juga, van..."

begitulah awal pertemuan kami kembali setelah 1,5tahun. Terus terang, rasanya begitu kaku. Maklum, baru kali ini aku bisa semobil berdua dengan wanita yang kukagumi ini.

Dia pun segera masuk ke dalam mobil Mitsubishi Grandis-ku.
"Wah,hebat kamu sekarang van... Mobil baru ya?"
"Ah, enggak koq mbak.. Well,iya sih aku baru ganti mobil ini. Tapi bukan mobil gres koq, beli second hand aja", aku mengelak.
"Hehehe, whatever deh.. Yang jelas, kamu kelihatan makin sukses aja neh.." kata mbak Mira sambil menatapku dari kursi penumpang.
"Wah, thank you mbak.. Hehe.. Ya udah, orang suksesnya mo ngajak mbak makan nih. Mbak belum makan kan ya?" tanyaku sambil memandang dirinya.
"Iya yah, jadi lupa kalo belum makan. Biasalah, cewek... Kalo udah shopping, lupa waktu.. Hahaha.. Ya udah, kita makan yuk..."
"Mau makan apa nih,mbak?"
"Yang simpel aja deh ya. Aku masih jet-lag nih"

Akhirnya kami makan malam bersama di sebuah kafe terdekat. Segera suasana yang kaku tadi berubah cair. Kami saling bertukar kabar masing-masing karena selama 1,5 tahun kami tidak pernah bertemu. Aku teringat betapa kami juga dulu sering ngobrol berdua.

"Heran juga ya,van.. Kalo pas sama kamu, aku koq bisa tertawa lepas dan ngomongnya nyambung banget.. Beda lho ama suamiku. Sulit banget komunikasinya. Mana dia orangnya bawaannya serius banget..." kata Mbak Mira sambil menerawang.
"Ah, masa sih mbak?"
"Iya, begitulah.."
"Maksud, mbak?"
"Ya gitu deh,van. Soalnya aku ama suamiku dulunya ga pake proses pacaran dulu sebelum merit. Kalo tau gitu mah aku mungkin pikir-pikir lagi" desahnya.

Hmm, mbak Mira koq jadi curhat gini ya...
"Oya? Ceritain dong,mbak.."
"Yup,aku dulunya dikenalin ama suamiku. Suamiku itu sekantor ama sepupuku. Waktu itu aku pernah nemenin istri sepupuku main ke kantor mereka. Ternyata dianya langsung naksir dan gilanya langsung maen ngelamar ke bapakku..."
"Oya?" aku sempat terperangah.
"Karena waktu itu aku masih 24 tahun, dan teriming-iming keindahan pernikahan, lamaran itu pun kuterima dan 3 bulan setelah itu aku pun dinikahi dan segera pindah ke kota B dimana suamiku ditugaskan".
"Hmm, apa mbak pernah ngajak suami ngobrol tentang masalah ini?"
"Udah sih, tapi dasarnya dia emang penyendiri dan gila kerja... Percuma saja.." keluhnya.

Aku tiba-tiba jadi kasihan terhadap Mbak Mira. Mungkin sepintas orang menilainya sebagai seorang wanita yang terpenuhi kebutuhan lahir batinnya. Ternyata.. Dia punya masalah komunikasi dengan suaminya. Tidak bisa dibayangkan betapa kosongnya kehidupan pernikahannya.

Malam sudah cukup larut ketika kami keluar dari kafe tersebut. Aku pun menawarkan untuk segera balik ke hotel tempatnya menginap.

Tak lama kami pun tiba di hotel. Sebuah hotel berbintang 5 yang terkenal di kota S. Belanjaan Mbak Mira tadi ternyata cukup banyak, padahal consierge hotel sudah tidak di tempatnya. Maklum sudah pukul 11 malam.
Akhirnya aku pun menawarkan jasa untuk mengantar mbak Mira ke kamarnya sambil membawa sebagian barangnya.

Mbak Mira menginap di kamar 802. Kamar deluxe dengan city view. Aku yang senang dengan pemandangan malam kota, segera saja menuju ke jendela.
Mbak Mira memecah lamunanku..

"Van, minum ya? Katanya sambil menawarkan sebotol minuman penyegar.
Aku pun segera menyambutnya.
"Van, kamu ga buru-buru pulang kan?"
"Emang napa,mbak?"
"Aku masih mo ngobrol ama kamu tuh, tapi harus dipending bentar karena aku perlu ke toilet dulu neh."
"Oh,okay...Go on. Aku tungguin deh."
Selang beberapa menit kemudian mbak Mira keluar dari toilet. Aku yang sedang duduk sambil menonton tivi dari sofa segera melihat perubahan raut muka mbak Mira.

"Kamu napa,mbak?"
"Iya neh, ga tau.. rasanya ga enak aja.. ah, aku juga sih.. tadi masih jet lag juga diminumin iced cappucino.. sekarang badanku jadi ga enak gini rasanya"
"Walah... Ya udah mbak duduk aja dulu. Aku bikinin teh anget untuk mbak deh"
Mbak Mira pun duduk di atas ranjang king size di kamar itu.

Aku bergegas bangkit dan memanaskan air dengan termos listrik yang ada di kamar itu.

Setelah airnya mendidih, aku pun segera membuat teh yang kujanjikan.
Segera kuberikan pada mbak Mira yang sedang duduk di atas ranjang. Mbak Mira minum dengan perlahan. Tiba-tiba mbak Mira nyeletuk..

"Aduh,van.. badan mbak koq jadi ngerasa dingin begini ya?" katanya sambil menyambar tanganku untuk meraba dahi dan leher sampingnya. aku agak terkejut, tapi kubiarkan saja tanganku dipakainya jadi termometer.
Terasa badannya hangat.

"Wah,mbak pasti masuk angin nih.. Aku bikinin teh anget lagi ya.."
"Thanks ya, van.. kamu baik banget deh. Sori nih, jadi ngerepotin.. tapi pasti lebih enak kalo bisa dipijitin.. sayangnya udah malam gini mo cari tukang pijit kemana coba.. hehe"
Spontan aku berkata "ya udah, ntar kalo tehnya udah, aku pijitin deh.."
"Emang kamu bisa mijit gitu?" tanya mbak Mira denga nada heran.
"Ya bisa dong... dikit-dikit, tapi bisa lah.."
"Hahaha.. ya udah, pijitin dong ya.."

Setelah cangkir teh yang kedua selesai diminumnya mbak Mira pun membalikkan badannya. Sekarang punggungnya dihadapkan padaku.
Aku pun segera menaruh tanganku di pundaknya dan mulai memijit.
Toh ini bukan pertama kalinya aku memijit cewek atau menjamah badan cewek, tapi aku merasa entah mengapa kejantananku mulai terusik. Apalagi ketika jariku mulai menjelajah dekat tali-tali BHnya.

"Wah, hebat juga kamu van.. mbak suka pijitan kamu. Belajar dimana?"
"Ga belajar dimana-mana koq, mbak. Aku sendiri suka dipijit, jadi tau titik-titik mana yang enak buat dipijitin"
"Van,bentar.. mbak mo ganti baju dulu deh. Baju ini ga enak buat acara pijit-pijitan. Hehe.."
"Ya deh,mbak.."

Mbak Mira segera bangkit dan masuk ke kamar mandinya. Selang beberapa menit kemudian, mbak Mira keluar dari kamar mandi. Kali ini, dia sudah berganti baju dengan piyama dari bahan kaos. Roknya pun sudah ditukar dengan celana 3/4 dari bahan yang sama dengan kaosnya. Yang paling berbeda adalah mbak Mira sudah menanggalkan kacamatanya dan sudah menghapus semua dandanannya.
Swear, dia terlihat lebih cantik dan muda dengan kondisi seperti itu. Dia terlihat seperti gadis berusia 25 tahun. Kuakui dia memang masih cantik, toh tidak lagi selangsing wanita yang masih single.
Dia pun segera duduk di dekatku, bahkan lebih rapat dari posisi terakhir ketika kupijat tadi.
Tanpa banyak berkata-kata aku segera melanjutkan pijitanku di pundak. Berhubung karena sekarang rasanya lebih leluasa memijat karena mbak Mira sudah menggunakan kaos, aku pun meluaskan pijatan ke area seperti punggung tengah, punggung bawah. lengan dan leher.
Berkali-kali aku menyentuh tali pengikat BHnya di belakang. Tanganku yang kuat dan kokoh juga menjamah lehernya. Kuakui sempat ku elus belakang telinganya ketika harus memijt area samping lehernya.
Mungkin karena sentuhan yang kontinu itu mbak Mira mulai terangsang sedikit demi sedikit.

Yup, bukan rahasia lagi.. daerah tengkuk dan belakang telinga adalah area erotis.
Ketika aku memijat kedua lengan atasnya, dia tiba-tiba mendorong badannya ke arahku. Aku teruskan memijat lengannya ke arah bawah, dan itu membuat tubuh mbak Mira makin masuk dalam dekapanku. Kurasakan hembusan nafasnya yang lembut di telinga kiriku ketika kupijat lengan bawahnya.

Nafasku pun mulai tak menentu. Aku menyadari posisiku saat itu.. aku sedang memeluk mbak Mira dari belakang! Wanita yang selama ini kuhormati dan kukagumi.. Sosok wanita dewasa yang menarik dan mempesona.
Kejantananku kembali terusik.

Tiba-tiba mbak Mira menarik tubuhnya hingga menyamping ke arahku seakan-akan mengharapkan aku untuk segera memeluknya.
Aku jadi serba salah. Satu sisi diriku ingin menyambut untuk memeluknya, sisi yang lain mengatakan kalau ini semua ga benar. Dia kan istri orang! Dan aku kenal dengan suaminya...

Tiba-tiba dia duduk menghadap diriku. Wajahnya begitu dekat... sangat dekat... cantik... dan bibirnya begitu mengundang.. haruskah aku menciumnya sekarang?
Rasa bingung makin merasukku.. hingga kulihat lagi bibir itu sudah lebih dekat dari sebelumnya..

Oh,what the hell..
Aku pun maju... dan kami berciuman!
wow, rasanya bergetar...
aku dan mbak Mira segera menarik diri.. mundur.. is this for real? aku dan mbak Mira saling berpandangan...
Yes, i want her.. and she also wants me!
Kami pun berciuman lagi, kali ini dengan penuh perasaan... ooh... i hope this is not just a dream...

bibir kami saling berpagut.. bibirnya, oh.. begitu lembut...
kami berhenti sejenak.. mengatur napas.. sepertinya mbak Mira juga tidak percaya apa yg terjadi barusan.. dia menyentuh dan mengelus pipiku.."Ini bukan mimpi kan,Van?"

"Bukan,mbak. Ini aku, Ervan. Dan kita baru saja berciuman!"
"Oh,rasanya sudah begitu lama.. Aku sudah lama menginginkanmu,Van.. Kamu juga kan?"
"I-iya,mbak... bener.. tapi..."
"tapi ada jarak di antara kita kan?" lanjut mbak Mira.
"Iya, mbak.."
"Oh,van... mbak senang.. mbak kirain kamu ga suka ama mbak.." katanya sambil memeluk erat diriku.
"Ga koq,mbak.. aku emang suka mbak sejak dulu.."
Mbak Mira tidak menjawab dengan kata-kata, tapi segera memelukku lagi dengan erat.

Berikutnya, kami terlibat dalam ciuman yang dashyat. Semua belenggu perasaan selama 3 tahun itu rasanya terlepas di kamar 802 itu. Kami berciuman.. dan berciuman seperti sepasang kekasih yang telah lama berpisah.
Aku mulai memainkan lidahku, memancing mbak Mira untuk french kiss..
Aku memang belum pernah melakukan intercourse, tapi untuk urusan foreplay dan petting aku bisa dibilang cukup terlatih dengan pacar-pacarku. Lidah mbak Mira begitu lembut, sangat lembut.. bahkan lebih lembut daripada pacarku yang mana pun.

Tak lama, mbak Mira mulai membaringkan dirinya di atas ranjang. aku pun mengikutinya sambil terus menciuminya.

Aku mulai melakukan variasi ciuman dengan gigitan dan godaan lidah di sekeliling bibirnya. Mbak Mira menikmati cumbuan ini dan mulai terangsang. Nafasnya mulai memburu, dan dadanya mulai naik-turun.
Karena posisi mbak Mira yang kini tidur terlentang, aku pun mengimbanginya dengan cara mengangkangi tubuhnya.

Dengan posisinya itu, mbak Mira mulai menikmati ransangan demi ransangan dan mulai menginginkan lebih. Kejantananku mulai menegang ketika mbak Mira mulai mengangkat-angkat pantatnya seakan-akan mengundang penisku untuk segera mengunjungi vaginanya.

Gesekan demi gesekan antara penisku dan bukit kemaluannya ternyata membuat mbak Mira makin terangsang. Aku pun mulai memberikan ransangan lebih. Aku mulai menjilati telinganya, lehernya dan pangkal leher bagian tengan. Sesekali aku menjilati cekungan di pundaknya. Itu membuatnya makin menggelinjang. Tubuhnya tergetar hebat. Kini mbak Mira mulai membuka selangkangannya dan lebih jauh mendorong pantatnya ke atas agar clitorisnya bisa bergesekan dengan penisku yang menegang itu.

"Sayang, kamu mau ya?" tanya mbak Mira ketika merasa aku sudah mulai merespon belaian bukit kemaluannya di penisku dengan sesekali menekan dan menggesekan penisku naik-turun kemaluannya.

"Aku mau,sayang" kataku "tapi belum sekarang ya.. aku mo puasin kamu dulu dengan foreplay. Soalnya sebagai cowok, sekali ejakulasi agak lama baru bisa lagi."

Mbak Mira tersenyum, manis sekali. Mungkin dia kagum pada prinsipku untuk memuaskan wanita lebih dulu.

"Thank ya, sayang.. Tapi gak papa lho kalo kamu mau sekarang.. Aku tadi udah sempat orgasme koq.. Bahkan udah beberapa kali... Tuh,buktinya udah basah.." katanya sambil menuntun tanganku ke arah selangkangannya.

Wah, ternyata memang sudah basah banget. Toh celananya masih lengkap, tapi aku bisa merasakan vaginanya sudah kebanjiran.

"Tenang sayang,itu belum apa-apa. Aku mo kamu orgasme beberapa kali lagi malam ini.." kataku sambil menyambar bibirnya.

Kini tangan kananku mulai menjelajah. Tangan kiriku kupakai sebagai sandaran karena aku tidur menyamping di sisi mbak Mira.

Tanganku memegang bukit kemaluan mbak Mira. Montok dan lembut. Penisku tambah keras. Kini tanganku mulai merambah belahan vaginanya. toh dari luar celana, dengan bahan kaos begitu, belahan nikmat itu jelas masih terasa teksturnya. Kugesek-gesekkan jari tengahku di belahannya, sambil tetap menciumi bibirnya dan memainkan lidahnya yang lembut itu. Mbak Mira makin terangsang.. dia mulai mendesah.. bahkan ketika aku melepaskan bibirku dari mulutnya, mbak Mira kulihat membuka mulutnya dan memainkan lidahnya di bibirnya sendiri. Sesekali mbak Mira menggigit bibir bawahnya. Termasuk ketika tanganku mulai menggerayangi dadanya.

Ketika aku memegang cup kirinya, mbak Mira tiba-tiba ngomong, "Sayang sori ya, dadaku kecil lho. Cuma 34A. Ini keliatan montok karena sponnya aja yg tebel. Cewek emang pintar nipu soal ini. Sori ya.."

Aku cuma tertawa kecil dan bilang, "biarin kecil juga merangsang gitu koq. hehe.."
Mbak Mira merespon dengan menarik tanganku untuk meremas dadanya..
Dia ingin aku lebih leluasa mengeksplorasi dadanya sehingga dia menaikkan bajunya, mengangkat dadanya ke atas dari posisi berbaring dan membuka kaitan bra-nya. Ketika dia mengangkat dadanya ke atas, aku sempat menggodanya dengan menggigit ujung cup bra-nya yang kanan. Mbak Mira tertawa dan sempat menggodaku ga sabaran.

Oya, bra-nya berwarna coklat muda. warna bra yang umum dipakai ibu-ibu.
The next thing, aku sibuk menciumi, meremas dan mengelus buah dada dan putingnya. Seperti akunya,dada mbak Mira memang tidaklah besar dan montok. Tapi dasar bujangan, mengelus kulit selembut kulit payudara wanita muda dan mengulum puting kecil berwarna coklat yang tegak menantang tetap terasa SANGAT nikmat.

Yup, putingnya kecil seperti puting gadis, sebab meski sudah punya anak mbak Mira ternyata tidak lama menyusui anaknya. Produksi air susunya ga banyak, akunya. Jadi anak pertama hanya sempat disusuinya dua minggu, sedangkan anak yang kedua malah tidak pernah sama sekali. Kami terus bercumbu, dan tanganku pun mulai masuk ke arah selangkangannya sampai di perbatasan bulu kemaluannya.

Berikutnya mbak Mira minta break dulu. Dia kehabisan nafas katanya. Akhirnya aku tiduran di sebelah kirinya. Cape dari tadi di mobil aku cuma lihat sisi kanan wajahnya.

Aku dan mbak Mira akhirnya ngobrol-ngobrol lagi, sambil ciuman mesra sesekali.
"Van, tau ga.. aku ga pernah lho rasakan seperti yang tadi kamu lakukan ke aku. Sejak aku menikah, jarang-jarang aku bisa menikmati orgasme. Tapi dengan kamu , bisa berkali-kali! Aku tadi 6 kali orgasme lho.. makanya lemes banget deh rasanya" Aku cuma tersenyum.

Lucunya sambil ngobrol pun tangan kami berdua tetap bergerilya. Tangan kananku yg memeluk leher mbak Mira mulai menggerayangi tengkuk, belakang telinga kemudian masuk memegang payudaranya dari celah leher piyamanya.
Tangan kiriku pun tidak kalah nakalnya. Dengan lembut aku memasukkan tangan kiriku ke dalam celana mbak Mira. Kucoba mengelus belahan kemaluannya dengan jariku dari balik celana dalamnya. Terasa banget vaginanya sudah basah..sah.. Cairannya bahkan sudah membasahi celana dalamnya. Aku terus menggesek-gesekkan tanganku dan menciumi wajahnya dengan lembut.
Mbak Mira juga kini tidak mau kalah nakal. Tangannya mengelus dadaku yang bidang, tapi lama kelamaan tangannya mulai menyusup masuk ke dalam celana jeans-ku. Aku membiarkan saja dan dia menanggapinya dengan gerakan pasti ke arah bawah dan menyambar penisku yang sudah menegang.

Terlihat mbak Mira sedikit terkejut ketika menyentuh batang penisku. Harus diakui, penisku cukup besar untuk ukuran orang Asia. Panjangnya 16,5cm, dengan diameter 4cm. Tapi reaksi terkejut itu cuma sebentar dan segera berganti dengan nafsu berahi. Terasa tangan mbak Mira lebih erat menggenggam penisku. Aku yang kerepotan dengan posisi penisku yang sudah menegang meminta mbak Mira untuk membukakan celanaku saja. Ternyata mbak Mira malah senang sekali. Dan dengan segera, dia membuka ikat pinggang dan celana jeansku. Mbak Mira terlihat begitu bernafsu ketika harus membuka celanaku tapi sempat kesal karena tidak bisa membuka ritsleting jeansku. Aku pun membantunya.

Raut muka mbak Mira jadi seperti anak kecil yang mendapatkan mainan yang diidam-idamkannya, setelah penisku terbebas dari celanaku dan siap masuk dalam genggamannya. Mbak Mira sempat terpekik kecil ketika melihat penisku yang sudah menegang maksimum dengan hiasan urat-urat di batangannya.

"Ih, udah keras banget... Ooh.."
Mbak Mira benar-benar sudah ga kuat lagi menahan gejolak nafsunya.
"Van, aku mohon... masukin sekarang aja ya, sayang.. aku mohon.."
"Ok, sayang.. whenever you are ready.."

Mbak Mira segera bangkit dan menyusup ke dalam selimut. Dengan segera ia melepas celana dan celana dalamnya dari bawah selimut.
Terus terang aku cukup kecewa karena aku berharap aku sendiri yang membukanya. Tapi ketika mbak Mira menyibakkan sedikit selimut yang menutupi bagian bawah tubuhnya, aku ga jadi protes lagi. Bulu-bulu kemaluannya yang hitam dan rapi terlihat begitu kontras di tengah apitan dua paha yang begitu putih dan mulus.

Di bagian perut bawahnya ada luka parutan operasi caesar. Yup, kedua anaknya lahir dengan operasi itu. Artinya, vagina-nya pasti masih sempit! Ave Caesar!
Aku pun segera duduk mengangkang di depan selangkangannya. Terus terang aku cukup gugup. Ini pertama kalinya aku melakukan intercourse dengan penetrasi. Selama ini paling jauh aku hanya petting dengan saling gesek dengan pacar-pacarku dulu. Aku kuatir mereka hamil atau paling tidak aku merusak keperawanan mereka.

Sekarang di depanku ada wanita cantik yang siap dipenetrasi. Aku jelas tidak mau menyia-nyiakan kesempatan ini. Tapi aku juga ga mau mengakui ini kali pertamaku.

"Sayang,aku ga punya kondom lho.."
"Ga pa-pa koq sayang, aku pake IUD koq"
"Oya?" aku menyahut kegirangan.

Permainan dilanjutkan. Kini aku mengelus bukitnya. Lalu jari jempolku mulai menelusuri belahan kemaluannya. Mbak Mira ga tahan, dia membuka selangkangannya. Dan tampaklah belahan surga mbak Mira!

Sungguh indah pemandangan itu. Bibir vaginanya ternyata masih rapat mengatup.
Kini jari tengah kananku yang menelusuri belahannya dan membelah labia mayora-nya yg berwana coklat muda. Kecil dan tidak menggelambir seperti yang biasa ku lihat di foto-foto XXX. Apa karena jarang dipake ya? Pikirku.
Aku tersentak ketika tanganku menyentuh labia mayora-nya. Vagina-nya ternyata sudah amat sangat banjir! Bahkan bulu-bulu yang terletak di sekitarnya pun bahkan sudah basah kuyup kena lendirnya!

Mbak Mira sudah ga tahan. Dituntunnya penisku masuk ke dalam vagina-nya.
Oohh... Dan... "cleep..."

Karena sudah sangat basah,penisku dengan sangat mudah masuk ke liang vagina-nya.

Mbak Mira terpejam ketika penisku memenuhi liang vaginanya untuk kali pertama. Mulutnya terbuka tapi tidak mengeluarkan suara.
Sungguh nikmat rasanya pertama kali penisku merasakan remasan dinding vagina.

Aku memulai dengan missionary position. Hentakan demi hentakan yang kuberikan ke vagina mbak Mira yang nikmat membuat payudara-nya bergoyang-goyang.

Sempat beberapa kali kucoba mengulum putingnya, tapi tiap gerakan itu membuat penisku terlepas dari cengkeraman vaginanya. Jelas saja dia tidak merelakannya begitu saja dan segera mencari penisku dan memasukkannya kembali ke liang nikmatnya. Haha.

Akhirnya aku menyadari bahwa posisi missionary tdk memungkinkan aku bisa mengulum putingnya. Setidaknya karena perbedaan tinggi badan (aku 175cm).
Mungkin karena mbak Mira sudah terangsang hebat, dengan mudah dia mencapai 2 kali orgasme lagi.

"Sayang,kamu udah ya? aku udah dua kali lho..."
"Belum apa-apa neh,sayang..."
"Ha? Kamu koq kuat banget?"
"Emang kamu dah cape ya,say? Koq nanya gitu?" tanyaku.
"Hehee... bukan napa-napa sih..."
"Jadi, lanjut ga neh?"
"Lanjut dong... Aku masih mau koq,sayang.." kata mbak Mira.
"Ok,sayang tapi karena aku cape kaya gini.. tukar posisi ya..."
Aku menawari mbak Mira posisi Woman on Top (WOT).
Mbak Mira ternyata menyambut dengan gembira.

Segera aku merebahkan diri dan giliran mbak Mira yang "kerja". Posisi ini ternyata sangt menyenangkan buat mbak Mira. Dengan mudah dia meraih lagi 2 kali orgasme.

Aku pun menikmati pemandangan tubuhnya dari bawah. Aku juga dengan leluasa meremas payudaranya dan mengulum putingnya. Juga aku bisa memegang pinggulnya yg sexy sambil membantu menggerak-geraknnya, menggiling dan memijat penisku dengan "ulekan sorga"-nya.

Di saat inilah, mbak Mira mulai bersuara... Dia mendesah-desah...
"Ooouch... Yeeees... Oooow... Enak banget... Terusin,sayang... Yes, terusin..."

Apalagi ketika aku mulai menggelitik klitorisnya dengan jari jempolku..
Aku merasa penisku seperti diremas kuat.. aku baru tau kemudian dari mbak Mira kalo ini yang disebut gerakan kegel...
Akhirnya aku pun ga tahan...

"Sayang,aku udah mau keluar neh..."
"Ga pa-pa,sayang. Keluarin di dalam aja... Tapi tunggu ya,aku juga udah mo keluar nih... sama-sama aja ya,say..."
Aku menjawab dengan anggukan..

Mbak Mira mulai makin liar menghujamkan penisku ke dalam vagina-nya.. tubuhnya menegak.. aku mengulurkan kedua tanganku utk dijadikan tumpuan tangannya...

"Ohh.... Terus sayang.. jangan berhenti... ya...ya... terus... ooooh... ohhhhhh.... ohhhh....."

Aku merasakan penisku berdenyut dalam cengkeraman vaginanya yang semakin erat... aku menyemprotkan cairan maniku ke dalam vaginanya... dan pada saat yang hampir bersamaan aku merasa ada cairan hangat menyelimuti kepala penisku. Enak banget rasanya...

Mbak Mira pun jatuh ke dalam pelukanku... Dia orgasme!
"Ohhhh... Van.. Gila... Lu hebat banget..aku keluar lagi.. banyak lagi.. "
Penisku masih ada di dalam vaginanya...

Tiba-tiba aku merasa penisku di-kegel lagi... dan kembali terasa ada semburan cairan di vaginanya! ckckckck... dia orgasme lg..

mbak mira hanya bisa tersenyum puas, lalu memelukku erat-erat dan menciumku.
Sesudah itu dia bangkit duduk, mengambil tissue yang ada di meja samping ranjang dan mencabut vaginanya dari penisku. Kala itu kudengar bunyi plok.. seperti suara sumbat botol dibuka.

Sebelum melepaskan penisku dia menyelebunginya dengan tissue dan setelah tercabut dia mengelap sisa-sisa cairan cinta kami berdua malam itu.
Kemudian mbak Miramerebahkan diri di dadaku.

Senyum puas tersungging di bibirnya. Mukanya begitu cerah dan cantik, mungkin karena dia baru saja mengalami muktiple orgasm.

Mbak Mira kemudian berkata: "thanks ya, sayang.. aku puas banget.. sungguh.. kau hebat banget... emang kalo masih muda masih kuat banget ya.. thanks.. that's the best love making i ever had..."

Aku cuma tersenyum dan mencium keningnya... aku juga puas banget,sayang..

Aku pun segera masuk ke kamar mandi. Sisa love juice mbak Mira di penisku ternyata masih cukup banyak, sehingga perlu segera ku bilas.

Ketika aku keluar dari kamar mandi kulihat mbak Mira masih baringan di atas ranjang. Posisinya bahkan tidak jauh berbeda sejak kutinggalkan 3 menit lalu.Dia tersenyum manis kepadaku, mungkin dia masih terbayang multiple orgasm yang baru saja dialaminya. dan aku diyalinkan akan hal itu ketika kulihat celana piyama dan celana dalamnya masih terletak di atas karpet lantai.

Aku pun segera mendekati mbak Mira dan mengecup keningnya dengan lembut.
"Puas,sayang?" tanyaku pada mbak Mira.

Mbak Mira tidak menjawab namun dia mengangguk dengan wajah polos sambil tersenyum.

Dia pun mengulurkan tangannya dan sekali lagi menggenggam dan mengocok penisku lembut.

Mbak Mira memandangku lembut dan berkata , "Sayang, kamu ga bobo disini aja malam ini?"

"Sori, sayang. Aku ada janjian dengan klien besok pagi-pagi bener. Kuatirnya aku jadi telat bangun dan miss the appointment karena ngelayanin kamu lg malam ini, hehehe.." demikian jawabku yang langsung dibalas dengan cubitan mbak Mira di perutku.

"Ya udah, kamu pulang aja sekarang.. Tapi besok temani aku lagi ya,sayang?"
"Ok deh, aku ketemu mbak siang aja ya. Jam 2 aku sudah ga ada appointment lagi."
"Oke, ati-ati di jalan ya sayang..Thanks for the great time.."
"Aku juga.. Yup,besok siang aku jemput mbak deh. Pasti! Skrg mbak bobo aja langsung,ga perlu nganter aku keluar.. Met bobo sayang.."

Aku mengecup bibirnya lembut, memakai celanaku, melangkah keluar, dan pulang ke rumah...

Malam itu aku mendapatkan SMS dari Mbak Mira, menanyakan apa aku sudah nyampe rumah ato belum.. diakhiri dengan kata-kata.. “I miss you already, honey... Cu tomorrow..”

Hmm, I miss you too Mbak Mira.
__________________
• TAMAT •