Love You, Leni.

Cerita ini murni karanganku.. Dan ini adalah karanganku yang pertama, jadi tolong commentnya ya.. And Jangan di copy paste jg ya.. soalnya dah susah2 ngarangnya.. hahaha..

Karena ini adalah cerita pertamaku, maka izinkan aku mengenalkan diri. Hmm.. Namaku adalah Chris. Aku tinggal di Surabaya. Aku sekarang adalah seorang mahasiswa jurusan perhotelan di salah satu universitas terkemuka di Surabaya. Cerita ini dimulai pada saat aku masuk SMA pertama kali. Hmm.. Mungkin sekitar 4 tahun yang lalu.

Pagi itu, aku yang masuk lingkungan baru dan tidak mengenal siapa-siapa, duduk di ujung belakang kelas, sendirian, sambil menunggu tanda bel masuk kelas. Ketika bel dibunyikan, murid-murid langsung masuk ke dalam kelas, dan duduk apa adanya. Tiba-tiba di sebelahku, duduk seorang perempuan yang sangat cantik. Tetapi, karena aku masih polos, aku tidak terlalu memperhatikan hal tersebut. Setelah itu, ia mengajakku berkenalan. Aku masih menganggapnya biasa, karena kami baru masuk SMA, dan sama-sama masih penyesuaian terhadap lingkungan baru. Namanya adalah Leni. Aku pun mengenalkan namaku. “Aku Chris,” begitu aku memperkenalkan diriku di depan perempuan sebayaku yang tergolong cantik itu.

Kami melewati hari-hari sekolah seperti biasa, penuh dengan pelajaran-pelajaran membosankan yang itu-itu saja. Sampai suatu saat, kelas kami mendapat tugas dari guru bahasa inggris untuk membuat sebuah film dengan dialog bahasa inggris. Hal ini harus dilakukan secara berkelompok, dan masing-masing kelompok terdiri dari 4 orang, 2 lelaki dan 2 perempuan. Karena aku tidak terlalu akrab dengan wanita di kelasku, maka langsung saja aku mengajak Leni untuk bergabung dalam kelompokku, karena kebetulan waktu itu hanya dia satu-satunya perempuan di kelas yang aku kenal lumayan dekat.

Untuk mengejar waktu mengerjakan film tersebut, langsung saja aku mengajak Leni untuk membuat naskah film tersebut. Kami pun mulai mengerjakan hal tersebut di rumah Leni sepulang sekolah. Hal tersebut kami lakukan berdua saja, karena anggota kelompok kami yang lainnya tidak bisa hadir karena harus mengikuti remidi. Maklum, aku tergolong anak yang pintar, jadi tidak ikut remidi. Hehehe.. Langsung saja aku berbincang-bincang dengannya tentang pembuatan film tersebut. Satu jam berlalu dan kami masih belum bisa menemukan tema untuk film kami. Lalu karena aku dalam kondisi stres, secara tidak sadar langsung keceplosan berkata, "Buat BF saja yuk, kan gampang, langsung praktek.." Tetapi Leni langsung memasang muka jijik. Karena aku termasuk orang yang tanggap akan situasi, aku langsung minta maaf. "Eh, sori-sori, aku ga bermaksud seperti itu.. Aku cuman lagi stres nih, dari tadi ga dapet-dapet ide.."

Aku baru sadar, perempuan yang didepanku ini sangat seksi. Bibirnya begitu menggoda, kulitnya sawo matang. Dadanya lumayan besar untuk ukuran anak SMA yg baru masuk. Karena berpikiran yang macam-macam, langsung saja adikku berdiri. Karena aku sedang melamun, Leni kemudian berkata, “Hayoo, ngelamunin apa ya dari tadi??” Aku yang baru sadar dari lamunanku pun langsung salah tingkah. “Ehm.. Err.. Ga kok.. Cuma sedang ngelamunin hal-hal yang mungkin bisa dijadiin ide buat film kita nanti.. Hehehe..”

Tak kusadari, Leni melihat ke arah adikku yang bangun. Mungkin ini karena celana seragamku terlalu ketat. Ketika aku mengetahui hal itu, spontan aku langsung menjatuhkan kertas yang ada di meja ke arah adikku, untuk menutupi adikku yang bangun dan berusaha untuk memulai pembicaraan lagi agar dirinya tak melihat ke arah adikku lagi. Maklum, aku pada saat itu masih malu dan canggung ketika berhadapan dengan lawan jenis, apalagi berdua. Aku bertanya kepadanya, “Kamu udah berapa kali pernah pacaran?” karena pada saat itu hanya hal itu yang terlintas di benakku dan langsung aku keluarkan. Dia pun menjawab, “Ehm, 3 kali.. Tapi di antara ketiga-tiganya ga pernah ada yang pernah bertahan sampai lebih dari setengah tahun..” Setelah mendengar hal itu, dalam hati aku berkata, “Kasihan sekali anak ini.. Cantik dan seksi seperti ini, belum pernah berpacaran sampai lebih dari setengah tahun.. Kemungkinan besar dia belum pernah merasakan kenikmatan berpacaran kali ya.. Hehehe..”

Gara-gara aku berpikiran seperti itu, adikku berdiri semakin tegak. Karena terlalu tegaknya, sampai menekan celana dalamku dan selip. Karena aku menjadi tidak nyaman, aku ingin pergi ke kamar mandi untuk membenarkan posisi adikku. Aku bertanya kepada Leni, “Eh, kamar mandimu di mana ya? Kebelet buang air kecil nich..” Lalu dia menjawab, “Ehm, kamar mandi di dekat ruang keluarga klosetnya rusak, jadi kamu ke kamar mandi yang ada di dalam kamarku aja deh..” Setelah aku diberitahu letak kamarnya, aku bergegas ke sana sendirian. Ketika memasuki kamar itu, terlihat banyak sekali barang-barang yang bewarna pink, mulai dari tirai jendelanya, lampu mejanya, sampai tempat tidurnya yang kurang lebih setinggi 40 cm itu. Lalu aku pergi ke kamar mandi yang terdapat ujung kamarnya.

Setelah memasuki kamar mandi, aku langsung cepat-cepat membuka celanaku dan celana dalamku. Lega sekali rasanya, adikku yang panjangnya 15 cm itu dapat berdiri dengan bebas tanpa ada halangan. Sambil menunggu adikku turun, aku melihat-lihat kondisi kamar mandi seluas 2,5m x 2m itu. Di gantungan baju aku melihat ada bra dan celana dalam G-string bewarna pink cerah. Aku sangat kaget Leni punya yang seperti itu. Gara-gara itu, pikiranku mulai berimajinasi lagi membayangkan Leni hanya memakai bra dan celana dalam itu. Pasti seksi sekali, pikirku. Adikku pun yang semula sudah mulai turun langsung berdiri tegak lagi, lebih tegak dari yang tadi. Agar aku tak berimajinasi terus, aku memutuskan untuk keluar dari kamar mandi itu, supaya aku tidak melihat bra dan celana dalam itu. Karena adikku masih tegang, aku tidak bisa memasukkannya ke dalam celana dalamku. Akhirnya, aku keluar dari kamar mandi dalam keadaan adikku tidak tertutupi celana dalam ataupun celana sekolah, karena aku berpikir aman-aman saja, tidak ada yang melihat, kan Leni sedang di ruang tamu dan pintu kamarnya kan tertutup…

Tiba-tiba, pintu kamar Leni terbuka. Leni masuk berencana ingin mengambil handycam untuk proyek film kami. Ia kaget setengah mati melihat aku dalam kondisi tanpa celana dan adikku menyembul keluar. Karena aku takut ia teriak atau membuat keributan, spontan aku langsung mendekati dia dan menutup mulutnya. Aku berusaha menenangkan dirinya, “Len, tolong kamu tenangin dirimu dulu ya. Kalau kamu ga teriak atau buat keributan apa-apa, nanti aku lepasin tanganku dari mulutmu ini.” Tanpa kusadari, pada waktu aku menutup mulutnya dan mengatakan hal itu, adikku yang masih berdiri tegak mengenai roknya. Lebih tepatnya mengenai daerah vaginanya. Aku melihat mata Leni terpejam, serta nafasnya mulai berubah menjadi tak teratur. Aku melepaskan tanganku dari mulutnya, karena aku takut ia tidak bisa bernafas. “Kamu tidak apa-apa, Len?” Ia hanya terdiam. Tiba-tiba ia langsung memelukku dan berkata, “Tunjukkan aku kenikmatan yang sesungguhnya, Chris.. Hhh..” Setelah mengatakan itu, ia langsung memegang erat adikku dan mulai menggerakkannya tangannya naik turun.

Karena posisiku berdekatan dengan pintu, aku langsung mengunci pintu. Setelah itu, tangan kananku memegang dagunya dan mulai mencium bibirnya, sementara tangan kiriku memeluk pinggangnya. Kami berciuman kurang lebih 10 menit. Tangan kananku mulai turun ke dadanya. Tanganku pun mulai meremas-remas dadanya yang besar itu. Tangan kiriku pun tak mau kalah. Aku meraba-raba pahanya dan menuju ke selangkangannya dan mempermainkan jari jemariku di sana. Hal itu aku lakukan dengan tetap berciuman dengannya. Setelah kurang lebih 5 menit, tangan kiriku mulai merasakan ada cairan yang keluar dari vagina Leni. Leni pun berkata “Ayo Chris masukkan saja, sudah ga tahan nich.. Ahh..”

Aku menggendong dan membanting Leni pelan ke pinggir ranjang pinknya, dan segera kulucuti baju dan celananya. Ia pun langsung melepas celana dan celana dalamku yang masih tergantung di pinggangku. Posisiku saat itu berada di atasnya. Aku langsung meremas-remas dadanya dengan kedua tanganku dan mulai menjilat-jilat putingnya. Dia mendesah semakin keras, dan vaginanya juga semakin basah. Dia pun berteriak keras, “Masukin please, Chris… Agh……”, Langsung aku mencoba memasukkan penisku yang sudah bangun dari tadi ke vaginanya. Pertama kali aku mencoba memasukkannya, aku mengalami kesulitan dalam mencari lubangnya, karena masih benar-benar rapat.

Setelah kutemukan, aku gesek-gesekkan kepala penisku yang sudah merah ke bibir vaginanya. Ia mendesah sangat keras dan memegang kedua lenganku erat-erat, mungkin karena ia sangat geli. Kucoba memasukkan kepalanya dulu. Saat kepala penisku sudah masuk, dia pun langsung berteriak keras, “Ahh, sakit, Chris.. Kluarin dulu yaa.. Ntar masukin lagi..” Aku pun menuruti kemauannya. Setelah itu, tanganku semakin cepat meremas-remas dadanya, dan kucium bibirnya. Aku melakukan hal itu agar cairan vaginanya keluar semakin banyak dan agar ia tidak bisa berteriak saat aku memasukkan adikku lagi. Setelah itu, aku mencoba memasukkan adikku lagi, dan kali ini hanya dalam hitungan detik kepala adikku sudah masuk ke dalam vaginanya. Ia ingin berteriak, tetapi tertahan oleh bibirku yang sedang berciuman dengannya. Ia hanya bisa mendesah dan kami pun berciuman semakin ganas.

Aku mencoba memasukkan penisku lebih dalam, tetapi tertahan oleh sesuatu. Aku mencoba menembus “sesuatu” itu, dan ternyata berhasil. Tetapi, Leni langsung memeluk aku erat-erat dan merintih kesakitan, “Auh, Chris, sakit banget.. Tapi enak juga.. Hmm..” Ternyata vaginanya mengeluarkan darah.. Aku baru tahu bahwa “sesuatu” itu ternyata adalah selaput dara Leni. Dalam hati aku merasa sangat senang, karena tak sia-sia aku melepaskan keperjakaanku demi mendapatkan keperawanannya. Aku menggerakkan penisku maju mundur dalam vaginanya, hal tersebut aku lakukan berulang-ulang sampai akhirnya penisku pun masuk hampir seluruhnya ke vaginanya. Tak lama kemudian ternyata Leni sudah mencapai klimaks pertamanya, tubuhnya menggelinjang tak karuan dan dia berteriak, “Ahh.. Ahh.. Ahhh..” semakin lama semakin keras. Tetapi aku belum sekali pun mengeluarkan spermaku. Oleh karena itu, aku terus saja memompa penisku ke liang vaginanya. Tetapi dia berkata kepadaku, “Chris, ganti posisinya donk.. Aku pengen yang kamu masukkinnya dari belakang sekarang..”

“OK, Len..” Aku pun menuruti kemauannya. Maklum, aku ingin meninggalkan kesan pertama yang mendalam kepadanya, sehingga aku menuruti semua kemauannya. “Mungkin yang dia maksud doggy style kali ya,” pikirku dalam hati. Sekalipun aku termasuk lelaki yang pemalu, aku juga pernah menonton BF, sehingga pengetahuanku akan hubungan badan lumayan luas. Hehehe.. Lalu, aku memintanya berdiri di dekat pinggir ranjang, lalu membungkukkan badannya ke arah ranjang dan menahan posisi itu dengan tangannya memegang pinggiran ranjang. Aku pun berdiri di belakangnya dan memasukkan penisku pelan-pelan. Lalu kedua tanganku meremas-remas dadanya sambil menciumi punggungnya. Dia pun berkata, “Auhh, geli banget, Chris.. Aku pikir kamu cuman pinter di sekolah.. Ternyata urusan beginian kamu juga pinter yaa.. Hmm.. Hhh..” Aku hanya membalas pujiannya tersebut dengan tawa kecil.

Tanganku beralih ke pantatnya dan penisku masih terus memompa vaginanya. Leni pun tak tahan dan mencapai klimaks keduanya.. “Argh.. Chris.. Aku keluar….”.. Adikku pun yang sejak tadi mendapat kenikmatan seorang perawan, sudah tidak kuat menahan. “Len, aku mau keluar nih…” Akupun segera mencabut penisku dari vaginanya karena takut ia hamil. Leni pun ternyata mengerti dan segera mengulum penisku dan sambil menggerakkannya maju mundur dengan tangannya. Setelah beberapa saat, Akupun berejakulasi. Cairan spermaku berhamburan di mulut dan wajah Leni yang cantik itu. Mungkin ada juga yang tertelan di mulutnya. Karena kami berdua telah kelelahan, kami pun tidur berdua sambil berpelukan, tanpa mengenakan sehelai busana pun. Sebelum tidur, Leni bertanya kepadaku, “Do you love me, Chris?” Aku pun menjawab, “Yes, I do, Leni..” Lalu ia bertanya lagi, “Mau ga kamu jadi pacarku?” Tanpa basa-basi lagi aku langsung menjawab, “Iya, Len..”

Sejak saat itu, kami semakin dekat, baik ketika di sekolah dan di tempat lain. Setiap ada kesempatan, kami kissing, petting, dan jika benar-benar memungkinkan, kami melakukan hubungan badan. Tapi demi keamanan, setelah itu kami selalu mengenakan kondom setiap berhubungan badan, untuk menghindari kehamilannya. Dan setiap selesai melakukan hubungan itu, kami berdua selalu berkata, “I love you…”
__________________
Tamat