JEANNY

Bagian satu : MRT
__________________

"Damn!" umpatku dalam hati ketika baru saja melangkahkan kakiku memasuki gerbong MRT. Sepasang paha langsat mulus terhidang di depanku. Pemiliknya, Singaporean etnis chinese duduk tenang, matanya terpejam memamerkan bulu matanya yang sedikit lentik dengan kuping disumpal earphone 'walkman'. Ia sama sekali tak peduli ketika banyak pasang mata menikmati kemulusan pahanya. Tak hanya paha sebenarnya. Kalau kita lebih "teliti" dan sedikit nakal dengan berdiri di samping wanita itu, kita akan disuguhi "belahan" yang menjanjikan di dadanya. Banyak pasang mata? Kukira tidak juga. Umumnya orang memang terperangkap oleh pemandangan indah ini beberapa saat, tapi kemudian asyik dengan aktivitasnya sendiri. Membaca, menyumpal earphone, terkantuk-kantuk, atau hanya diam bengong. Pasangan muda tampak berbisik-bisik dekat diselingi kecupan romatis, atau si cowok memeluk cewe-nya dari belakang. Kelihatannya hanya Aku saja yang berlama-lama mengamati paha dan belahan indah ini.

Begitulah pemandangan sehari-hari yang kujumpai di gerbong MRT (Mass Rapid Transport) di Singapore, "angkot" massal yang murah, cepat, tapi nyaman (ber-AC) dan bersih. Sebenarnya, soal paha mulus sudah menjadi pemandangan yang umum dan biasa di sini. Para wanita Singapore, terutama wanita kantoran, memang gemar rok pendek. Dan umumnya memang memiliki kaki yang mulus. Tapi wanita yang satu ini memang beda. Kakinya panjang, atau rok mininya terlalu pendek (atau dua-duanya), dan tak berusaha menarik roknya agar sedikit "sopan", seperti yang biasa dilakukan pemakai rok mini lainnya. Blouse di balik blazernya, model V atau U selalu rendah, membiarkan mata siapapun menikmatinya. Dan setiap hari kujumpai. Dia selalu ada di gerbong paling belakang.

***

Kenapa aku harus mengumpat, harap pembaca maklum. Sudah tiga bulan Aku berjuang sendirian di negeri jiran ini, telah lama tak bertemu isteri. Keinginan menyalurkan "kebutuhan dasar" ini terus tertahan. Nah, suguhan setiap pagi ini makin membuat aktif syaraf-syaraf di otak dan seputaran bawah perutku, yang akhirnya cuma menambah kegelisahanku saja. Kegelisahan tanpa penyaluran yang tepat.

Penyaluran memang tersedia sih, kalau mau. Di "LP" building lantai 5 di kawasan Orchard Road menyediakan pelayanan pijat dan juga pelayanan seks. Tapi, sialan, Singaporean memang efisien dengan waktu, termasuk taxi-girl-nya. Apa nikmatnya bersetubuh 'single shot' dan diburu-buru? Mahal lagi. Kalau dirupiahkan dan di Jakarta, kita bisa dapat 'artis figuran' semalam suntuk. Istilahku 'artis figuran' adalah untuk high class call-girl Jakarta yang pernah muncul di majalah atau "numpang lewat" di sinetron atau film. Cara penyaluran lain apabila rangsanganku sudah tak tertahankan lagi, apa boleh buat, metode "tradisional", masturbasi. Cara yang murah, "sehat" dan "bebas". Sehat dalam arti bebas dari penyakit dan bebas mengkhayalkan bersetubuh dengan siapapun serta dengan kualitas "vagina" macam apapun. Mau longgar, sempit, basah, kering, atau bahkan "legit". Tapi, tentu saja, tetap tidak membuatku puas, dibanding hubungan seks yang sesungguhnya.

Aku benar-benar membutuhkan seorang wanita yang bersedia menampung hasratku kapan saja di negeri asing ini!

Bagian dua : PHK

"Okay Pak, saya mengerti," kupotong omongan Bossku, supaya dia tak tambah bertele-tele nyerocos tentang kondisi perusahaan yang mendekati bangkrut ini.
Sekilas wajah Boss nampak rasa kurang senang karena Aku memotong pembicaraannya. Aku tak peduli.
"Saya tahu semua Pak, justru sekarang ini saya kemari mau mengundurkan diri," lanjutku seperti menantang. Wajah yang tertekuk itu tambah kaget.
"Kita langsung saja bicara tentang pesangonku," tantangku lagi. Mata itu masih terbelalak kaget. Mungkin pikirnya, sementara pegawai lain menghiba-hiba supaya jangan diPHK, Aku malah nantang mau berhenti.
"Anda serius, Sam?"
"Saya kira sekarang bukan saatnya bercanda, Pak."
"Terus rencana Anda selanjutnya gimana?"
"Itu urusan saya Pak." Tentu saja sebelum menemui dia Aku sudah dapat pekerjaan baru yang lebih prospektif, bukan di Jakarta atau kota lain di Indonesia, tapi di Singapura.

Aku telah mempersiapkan semuanya. Isteri dan anakku (seorang, lelaki 3 tahun) Aku pulangkan ke rumah orang tuaku di Jawa Timur untuk sementara, menunggu rumahku yang di Jakarta laku. Rencananya Aku akan membeli rumah di kampung saja. Di saat seperti ini menjual rumah memang tak gampang. Uang pesangon yang kudapat cukup untuk hidup selama setahun tanpa kerja dan untuk modal awal Aku hidup di Singapura. Aku telah membuat keputusan penting dalam hidup kami. Perubahan drastis yang harus kulakukan untuk menghadapi multikrisis berkepanjangan di negeri ini.

***

Setelah mendapat kepastian Aku diterima bekerja di financiing company di kawasan -----, Aku baru mulai mencari tempat tinggal. Atas pertimbangan beberapa sahabat di Jakarta dan Boss baruku, Aku memilih apartemen di daerah Jurong. Ada ratusan gedung hunian bertingkat di kawasan ini. Dua minggu penuh Aku menjelajah kawasan ini sebelum akhirnya memilih satu di antara 4 pilihan terbaik sesuai kondisiku yang hanya sendirian dan keuangan yang cukup, tak berlebih benar. Suatu space dengan dua kamar di lantai 5, kira-kira mirip T-36 di Jakarta, tapi sedikit 'lux' dan lingkungan yang bersih. Pokoknya yang nyaman buat tinggal dan Aku masih mampu mengirim dollar ke rumah setelah dipotong sewa apartemen dan bermacam tagihan lainnya serta biaya hidupku. Hanya satu masalah yang belum terpecahkan, yaitu memenuhi kebutuhan seks. Tentu saja Aku tak bisa pulang kampung setiap bulan. Terakhir ketemu anak isteri sekitar dua bulan lalu, ketika mereka berkunjung melihat tempat tinggalku di negeri orang ini.

Mulailah Aku menjalani kehidupan rutin yang baru. Berangkat dan pulang kerja menggunakan MRT, makan pagi hanya roti dan sebangsanya yang kusiapkan sendiri, makan siang di kantor, makan malam berganti-ganti, di sekitar kantor, di shopping mall, atau restoran dekat apartemen.

***

Di stasiun berikutnya, Orchard, Aku harus turun untuk ganti kereta yang menuju utara. Demikianlah rutinitas pagi yang harus kujalani. Sepasang paha panjang itu masih tergolek di depanku, belahan dadanya hanya sedikit terlihat kalau dari depan. Sebelum turun, sekali lagi Aku puaskan mataku menatapi seluruh juluran kakinya. Tapi oops, paha itu kalau tidak sedang menyilang ya lurus merapat. Yang membuat jantungku serasa berhenti berdetak, kali ini sedikit membuka. Dan... oh tidak, aku tak melihat segitiga kecil warna cream atau putih, tapi semburat kehitaman. Tak mungkin. Tak mungkin dia berani tak berCD di ruang publik begini. Tapi mataku yang masih tajam menangkap warna kehitaman yang bukan kain. Aku yakin itu. Gila! Dalam beberapa detik ke depan ini Aku harus membuat keputusan, turun di Orchard atau menikmati bulu-bulu.

Kenyataannya sampai kereta beranjak dari Orchard Aku masih terpaku di tempat dudukku, masih menatapi helai-helai berombak --yang pemiliknya acuh beibeh--sambil sesekali menelan ludah. "Dasar" keputusanku untuk tetap duduk bukan semata karena bulu-bulu itu, tapi Aku juga ingin tahu di stasiun mana dia turun dan di mana dia ngantor. Di Somerset, stasiun setelah Orchard, "Si Bulu" ini tetap bergeming. Matanya masih terpejam, earphone-nya masih terpasang. Nah, ketika kereta melambat mendekati stasiun Dobyghout, Si Langsat ini melepas earphone dan bangkit.

Aku menahan keinginan untuk ikut bangkit, nanti saja, supaya tak ketahuan banget menguntitnya. Aku baru turun ketika pintu otomatis wagon itu hampir menutup kembali. Cepat-cepat aku ikuti dia dari jarak sekitar 10 meteran.

Wow! Indah nian gerakan sepasang "bola" yang bergantian naik-turun di pantatnya. Cara jalannya memang tak persis benar dengan peragawati yang harus menapak kedua kaki di garis maya lurus. Bentuk pantatnya yang membulat dan menonjol ke belakang itulah yang membuat gerakan jalannya indah. Ini kayanya memang bentuk pantat khas para Singaporean, bulat dan menonjol ke belakang (kubayangkan, jika menyetubuhi body seperti ini akan memberikan respons "lentingan" pada setiap tusukan!). Aku "menemukan" ciri ini ketika baru seminggu menetap di sini. Tentunya atas bantuan mata jelalatan dan "biologis" kelaparan!


Bagian tiga : EXB

Di eskalator panjang menuju keluar stasiun, Aku berdiri hanya beberapa anak tangga di bawahnya. Aku berharap ada angin nakal yang menerpa roknya, sedikit hembusan saja sudah mampu memperlihatkan kulit pantatnya. Rok mininya terlalu ketat untuk diterpa angin, sekaligus membuatku yakin, tak ada "garis" apapun yang tercetak di sana kecuali bulatan. Dia benar-benar tak berCD! Sialan benar.

Keluar dari stasiun dia menyusuri Orchard Road, memberiku peluang untuk menyapa dan berkenalan. Tapi kok rasanya cara kenalan yang kuno banget ya, Aku jadi ragu. Tepatnya, tak menemukan cara yang "elegan" untuk berkenalan. Ketika menunggu lampu hijau buat penyeberang, dia sempat menoleh sekejap. Tapi Aku tak yakin apakah dia melihatku, matanya tertutup sun-glasses. Ayo Sam! Gunakan akalmu!

Sampai dia menyeberang perempatan, Aku belum menemukan caranya. Ah, toh pagi ini Aku tak punya waktu, Aku harus ngantor. Masih banyak kesempatan lain. Itulah, kalau orang tak berhasil mencapai maksudnya, keluarlah alasan sebagai rasionalisasi kegagalannya. Anak-anak yang gagal menjangkau benda yang menarik hatinya lalu mengatakan benda itu jelek. Engga! Dia istimewa, jauh dari jelek.

Aku masih menguntitnya ketika dia menyeberangi taman di ujung Orchard Road itu dan lalu menuju gedung 8 lantai. Cukuplah buat hari ini. Dia berkantor di hotel yang di lantai satunya terpampang nama restoran cepat-saji terkenal itu. Kelihatannya hotel ini semacam youth hostel kalau menilik namanya. Aku balik ke stasiun menuju kantor.

Di kantor aku coba meng"evaluasi" perilaku Si Paha Mulus itu untuk menghitung peluangku. Hampir tiap hari ketemu dan Aku selalu mengamatinya, mustahil kalau dia tak tahu tingkahku ini. Rekanku cewe pernah bilang, dia tahu benar kalau ada orang mengamati tubuhnya di kendaraan umum. Aku rada yakin, tadi pagi dia tahu Aku menguntitnya. Hanya Aku tak yakin, gerakan membuka kakinya (dan memperlihatkan bulu-bulu kewanitaannya) tadi disengaja atau tidak. Aku akan segera mendapatkan jawabannya.

***

"Damn!" lagi-lagi umpatku. Kali ini bukan karena paha yang tergoler, lebih dari itu. Gerakan membuka kaki yang bertahap sedikit demi sedikit mempertegas ketelanjangan selangkangannya. Lumayan lebat miliknya. Seperti beberapa hari lalu, "gerakan" inipun dilakukan menjelang Aku seharusnya turun. Dan lagi-lagi Aku memilih untuk terus menikmati bulunya ketimbang turun terus ke kantor. Yang berbeda adalah tak ada earphone di kupingnya. Matanyapun terbuka. Ada lagi yang berbeda.

"Hai!". Cukup pelan suara itu, tapi bagiku seperti suara kanon. Siapa yang disapa? Akukah? Matanya lurus tajam menatapku. Ada sunggingan senyum di bibirnya. Tak salah lagi. Dia menyapaku. Tiba-tiba Aku merasa bersalah telah "tertangkap" basah meneliti bulu-bulu selangkangannya.
"Biasanya turun di Orchard," Kanon itu terus menyerangku sebelum Aku sempat merespons. Bahasa Inggrisnya logat khas orang sini. Logat "Singlish", Singapore English, kata orang Inggris. Kalau orang Singapore bilang: "You can't say like that" misalnya, terdengar dikupingku sebagai: "Yu can-no' se laik de' laa". Begitulah Singlish.
"Oh, emm..." Nah lo Aku gelagapan.
"Atau mau ikuti saya lagi?" serangnya. Mampus lu Sam. Ketahuan tingkahmu. Senyum kecil tadi itu melebar menjadi tawa penuh kemenangan.
"Ya. Aku mau ikut kamu ngantor di NNN (nama hotel tempatnya kerja)," balasku.
"Oh yeah, siap-siap turunlah". Memang, kereta ini telah memasuki stasiun Dobyghout.
Di escalator panjang itu kini Aku di anak tangga yang sama, sejajar. Pake sepatu dengan hak sedang tinggi badannya hampir sama denganku. Tiba-tiba lidahku kelu, tak keluar sepatah katapun dari mulutku. Bingung memulainya, boo.
Lepas dari tangga berjalan, Aku merasa lebih santai.
"Kenalkan, Aku Sammy," kataku menjulurkan tangan.
"Jeanny," balasnya sambil menyambut tanganku. Telapak tangan yang halus banget. Jeanny membuka tasnya dan mengeluarkan kartu nama berlogo hotel itu. Jeanny, Marketing Manager. Akupun memberikan kartuku.
"Saya pikir kamu harus ngantor kan? Telepon saya jam istirahat ya," katanya.
"Okay."

***

"Sorry, terlambat," katanya sambil menyeret kursi dan duduk. Sepersekian detik waktu dia membungkuk sebelum duduk, Aku sempat menangkap bulatan buah dadanya melalui leher blusnya yang super rendah. Aku menelan ludah.
"Gak pa-pa, cuman 5 menit." Dalam telepon tadi kami janjian makan siang bersama di food center yang terletak di basement Wisma Atria, Orhard Road. Tempat ini kami pilih melalui kompromi dengan pertimbangan letaknya kira-kira di tengah antara kantorku dan kantor Jeanny, juga pilihan makanannya beragam. Obrolan sambil makan siang diisi dengan saling membuka diri masing-masing. Aku ceritakan terus terang tentang diriku yang jauh dari keluarga. Tapi masih menyembunyikan niatku mendekati dia. Lihat-lihat dulu perkembangannya.
Jeanny tinggal sendiri di apartement di Jurong juga, 2 stasiun lebih jauh dari tempatku. Tiga tahun sebagai marketing manager di hotel itu dia rasakan mulai membosankan dan berniat pindah kerja. Kini sedang lihat-lihat lowongan kerja. Aku rasa cukuplah informasi yang kuperoleh tentang dia untuk pertemuan pertama ini.

Kini Aku pulang kerja tak sendiri lagi. Jeanny duduk di sebelahku. Duduk merapat (kereta memang selalu penuh) dengannya merupakan kesenangan tersendiri. Aku bisa menghirup aroma wangi tubuhnya. Kulit langsatnya memang benar-benar halus. Tak ada reaksi penolakan ketika tanganku "mampir" di pahanya. Bahkan dia berani menyandarkan kepalanya ke bahuku sambil tiduran. Kesempatan yang amat bagus untuk menikmati bulatan dadanya. Sayangnya dia tak selalu bisa makan siang di luar.
"Kita makan siang bersama lagi?" ajakku lewat telepon.
"Oh, sorry, hari ini Aku harus makan siang di sini sekalian meeting. Gimana kalo pulang kantor saja?"
"Okey, ketemu di Orchard?"
"Yup"

***

"Kamu udah lapar?" tanyanya begitu ketemu.
"Belum," jawabku jujur.
"Good. Kita tunda makan malam, jalan-jalan aja," katanya sambil menggamitku menuju taxi-stand. Gila, dia main tarik saja tanpa menunggu persetujuanku.
"Kemana kita?" tanyaku setelah kami duduk di taksi. Jeanny menyebutkan tujuan ke sopir taksi menggunakan bahasa Mandarin, jelas saja Aku tak paham percakapan singkatnya dengan sopir.
"Nanti kamu akan tahu."

Busyet, tadi dia membawaku tanpa kesepakatan, sekarang tujuannya pun Aku belum boleh tahu. Jeanny begitu percaya diri bahwa orang akan menurutinya. Rada kurang "sopan" sebenarnya untuk seseorang yang baru dikenalnya. Tapi Aku tak mempedulikannya. Apalagi duduknya juga "kurang sopan". Dengan menyandarkan tubuh sepenuhnya ke sandaran, hampir seluruh pahanya terbuka. Dan, entah disengaja atau tidak, kancing blousnya yang paling atas terbuka. Tentu saja belahan dan sebagian bukit kembarnya juga terbuka. Aku langsung mengkhayal yang "engga-engga". Mungkin Aku dibawanya ke suatu tempat yang memungkinkanku menyalurkan segala yang tertahan sejak beberapa hari lalu.
Taksi terus melaju menyusuri jalan-jalan besar dan kecil, menembus kemacetan. Aku belum hafal jalan-jalan di business district ini, sehingga ketika taksi berhenti di pinggir jalan agak kecil dan tak begitu ramai, Aku gagal mengidentifikasi daerah mana ini. Yang jelas, kami berdua memasuki pintu diskotik NNN. Lamunan nakalku buyar. Jeanny lebih sigap menyodorkan uang di ticket box.
"Ini ideku, jadi Aku yang bayar. Nanti kamu bayar makan malam aja," jelasnya.
"Okay, what ever you say laa," kataku meniru dialeknya. Jeanny ketawa lebar. Gembira benar dia sore ini.

Walaupun masih sore diskotik itu lumayan banyak pengunjungnya. Kebanyakan orang kantoran. Musik hingar bingar mengiringi beberapa pasangan yang turun di tengah ruangan. Jeanny memilih meja agak di tengah dengan lampu yang lumayan terang, dekat lantai dansa. Pilihanku sebenarnya di meja pinggir yang cahayanya temaram. Apa boleh buat, Jeanny telah menyeretku ke meja tengah yang terang itu lalu pesan minuman.

Jeanny membuka blazernya dan digantung di sandaran kursi. Gila! Blazer tak berlengan itu mencuatkan pinggiran buah yang langsat padat. Leher blouse tipis yang rendah dan kancing yang dilepas satu menyuguhkan "cetakan" buah kembar yang bulat.
"Ayo turun," ajaknya. Aku nurut saja. Musik yang terdengar bertempo cepat, Jeanny langsung larut dengan iramanya. Aku mulai menggoyang tubuh mengikuti irama musik, gaya "standar", tapi... Jeanny, lagi lagi Aku harus menyebut gila. Tak ada bagian tubuhnya yang tak bergoyang. Kedua susunya berguncang ke mana-mana, pinggulnya berputar hebat. Pahanya yang makin terbuka berloncatan bergantian.

Gaya menari yang gila, bentuk tubuh yang serba menonjol, dan pakaian yang minim atas bawah membuat Jeanny segera saja jadi pusat perhatian pengunjung. Suitan nakal dan tepuk tangan sering terdengar dari pengunjung. Bahkan cowo-cowo yang sedang asyik menaripun "melupakan" pasangannya untuk menatapi goyangan tubuh Jeanny. Aku yakin Jeanny sadar bahwa dia menjadi pusat perhatian. Dia malah meningkatkan gaya tariannya dengan menggoyang-goyang susunya. Nampaknya dia amat menikmati kondisi ini. Keringat yang mulai membasahi tubuhnya makin membuatnya "bersinar".
Sekitar 2-3 lagu disko panjang telah terlewati, badanku mulai pegal-pegal sebenarnya, padahal hanya goyangan biasa.
"Kita istirahat dulu," teriakku mecoba meningkahi bunyi musik.
"What?" teriak Jeanny. Kuulangi teriakanku, lebih keras.
"Okay, okay," kami menuju ke meja. Tepuk tangan panjang pengunjung menggema.

Jeanny minum birnya sambil terengah. Tubuhnya basah. Blouse tipis yang basah itu menempel ke tubuhnya makin mempertegas "cetakan" bulatan kembar dadanya yang turun-naik. Pemandangan indah yang membuatku tegang di bawah dan tambah ngos-ngosan.
"Gimana tarianku," tanyanya.
"Gila!". Jeanny ngakak.
"Tapi orang-orang pada senang."
"Benar. Dan kamu menikmatinya."
"Memang," ngakak lagi dia.
Hanya beberapa saat duduk ketika irama musik berubah lembut, Jeanny menarik tanganku lagi. Inilah yang kutunggu. Kami bergabung di antara pasangan-pasangan yang berpelukan bergoyang pelan.

Kedua tangan Jeanny menggantung di leherku. Pinggangnya kuraih lebih mendekat lalu menempel erat. Tak peduli penisku yang menegang ini menempel ketat di perut bawahnya. Aku yakin dia bisa merasakannya. Bulatan padat yang menekan dadaku menambah keteganganku. Tiba-tiba Jeanny mempererat tekanan pinggulnya di selangkanganku dan... dengan nakalnya dia memutar pinggul. Letak penisku yang tegang ke atas serasa digilas-gilas. Ampun, dia malah ketawa, matanya menatapku. Aku mengambil aksi, kucium bibirnya dan kulumat. Jeanny membalas lumatanku. Kami "bersilat lidah" beberapa saat sampai akhirnya Aku malu sendiri karena tingkah kami dipelototi pedansa lain. Aku melepas.

"Kenapa?" tanyanya.
"Engga enak ah, dilihatin orang."
"Gak apa-apa, acuh aja." Kami berlumatan lagi sampai dia melepas karena kehabisan nafas. Aku makin tinggi.
"Kamu terrangsang ya?" Lagi-lagi pinggulnya "menguyek" penisku. Aku meremas pantatnya. Kali ini dia memakai celdam.
"Sorry ya, membuatmu begini," katanya kemudian.
"Tak apa, Aku senang kok. Tapi kamu harus bertanggung jawab." Aku nekat, mulai menyerang.
"What do you mean..." nanyanya tak serius, sambil senyum sih.
"Aku ingin ada kelanjutannya."
"Ha... ha... ha..." Sialan, cuma ketawa dia.
"Aku serius, menginginkanmu."
"Lihat-lihat keadaan dulu ya."
"Apa maksudmu?"
Lagi-lagi dia hanya ketawa.

Benar-benar tak ada capeknya dia. Ketika musik berganti keras lagi Jeanny langsung menghambur ke tengah meninggalkanku sendirian di meja, menggoyang tubuh seksinya dengan lebih sensual. Lagi-lagi dia menjadi tontonan orang, dan tampaknya dia menikmati sorotan puluhan mata ke tubuhnya.

***

Kami meninggalkan diskotik jam 9, masih sore sebenarnya untuk ukuran hiburan malam. Tapi Aku masih banyak acara (yang kurencanakan) bersama Jeanny. Aku mengharapkan selesai makan malam nanti Aku bisa menyalurkan "kebutuhan dasar"-ku yang telah seminggu tertahan, dengan menyetubuhi tubuh seksi Jeanny. Dia tadi, setidaknya menurut penilaianku, telah memberikan sinyal lampu hijau.
Taksi yang kami tumpangi berhenti di pinggir Orhcard Road.

"Makan di mana kita?"
"Ummm, kamu benar-benar udah lapar?"
"Belum begitu lapar." Rangsangannya di diskotik tadi menghilangkan nafsu makanku.
"'Kay, kalau begitu, Aku masih ada yang harus kuselesaikan di kantor. Aku duluan, nanti susul Aku 5 menit kemudian," katanya sambil memberikan sesuatu ke tanganku. Sebuah kunci kamar, di gantungannya tertulis nomor kamar dan logo hotel tempat kerjanya. Aku bersorak!
"Okay, terima kasih."

Mungkin inilah gerak jarum jam yang paling lambat di dunia. Bagiku lima menit serasa 5 jam. Dengan menenangkan diri Aku masuk pintu utama hotel itu. Aroma makanan dari restoran fast food di lantai satu tak sanggup menggodaku untuk makan, padahal perutku belum terisi makanan sejak 7 jam lalu. Aku langsung menuju lift.

Kamar yang tak begitu luas, tapi bersih. Seperti kamar hotel standar lainnya ada 2 tempat tidur single, meja kerja, dan satu set sofa kecil. Jendela kaca lebar ke arah taman di depan hotel. Koden dan viltrage-nya terikat rapi di kedua pinggiran jendela. Di kejauhan tampak gedung-gedung jangkung yang bersiram cahaya lampu. Di kamar mandi tak ada bath tube, hanya douce yang dilengkapi pemanas air. Semuanya bersih dan rapi. Yang membedakan dari kamar hotel lainnya adalah, di meja rias ada seperangkat alat make-up wanita dan ada satu set mini compo music equipment. Sekarang Aku mau ngapain? Lagi-lagi menunggu. Tegang. Dering telepon mengagetkanku.

"Oh, kamu udah sampai. Sorry ya membuatmu menunggu. Bentar lagi kerjaanku selesai."
"Aku tunggu. Jangan lama-lama ya!"
"Lapar ya?"
"Iya. Tapi bukan lapar secara fisik."
"Ha..ha...ha... pesan makanan aja."
"Engga mau."
"Okay deh, bye." Telepon ditutup.

Tadinya Aku hanya bermaksud cuci muka saja, tapi air hangat dari pemanas air begitu nyaman. Aku mencopoti pakaianku. Singletku basah keringat.

"Sabar ya," kataku kepada penisku yang masih menyisakan ketegangan. Celdamku juga basah, plus noda-noda "cairan pendahuluan". Di tengah Aku mandi, kudengar pintu terbuka, lalu tertutup lagi, dan suara langkah kaki. Mungkin Jeanny yang masuk. Aku cepat-cepat menyelesaikan mandiku dan dengan hanya berbalut handuk di pinggang Aku keluar. Benar, Jeanny tampil segar, bersih dari keringat. Masih mengenakan blazer yang tadi, dan terkancing rapi.

"Hai, sorry ya kelamaan." Aku tak menjawab, langsung memeluknya, erat. Jeanny membalas pelukanku, tapi hanya sebentar terus melepaskan diri. Kurasakan ada yang berbeda tadi. Gumpalan daging kembarnya langsung menekan dada telanjangku. Jeanny tak memakai bra.

"Sebentar ya," katanya sambil menghidupkan mini compo. Terdengar musik keras, musik disco dari CD (bukan celdam, lho). Lalu tubuhnya mulai bergoyang. Huh, tak puasnya dia menari-nari. Aku hanya berdiri diam menontoninya. Tonjolan penisku menekan handuk, seperti anak yang baru disunat memakai sarung dengan ganjalan. Jeanny terus bergoyang mengikuti irama musik. Matanya menatapku, bibirnya tersungging senyum. Lalu sebelah tangannya ke dada melepas kancing blazernya yang paling atas.

Baru kusadari dia tak mengenakan blouse lagi. Belahan dadanya segera nampak. Masih sambil menari tangannya mencopot kancing kedua. Pinggir kiri kanan bulatan dadanya terbuka. Okay, Aku nikmati dia memperagakan tarian strip tease sambil tegang. Gumpalan daging yang berguncang-guncang itu benar-benar bulat. Lalu kancing ketiga yang merupakan kancing terakhir. Puting dadanya sebentar nongol sebentar ngumpet. Dan... blazer itu benar-benar terlepas. Tiba-tiba dilemparnya blazer itu ke arahku. Aku tak sempat menangkap, blazer itu jatuh ke lantai. Kini tubuh Jeanny dari pinggang ke atas telanjang. Padahal jendela kaca terbuka lebar dan lampu kamar menyala terang. Buah dadanya benar-benar menggiurkan. Aku tak tahan lagi. membuang handuk lalu menubruknya. Jeanny tak berhenti menari. Berkali-kali mulutku tergelincir dalam usaha menangkap bulatan daging susunya. Di luar dugaanku, Jeanny menolak tubuhku.

"Tetap di tempatmu, ya. Nonton aja."
"Engga!" protesku.
"Nanti tiba giliranmu, OK?" Sekilas dia melirik senjataku, senyum.
Baiklah, lagi-lagi Aku nurut, walaupun dengan rasa heran. Putingnya sudah menegang, tanda dia juga telah terangsang, tapi menolakku. Dengan telanjang bulat Aku menonton pertunjukannya. Masih tetap menari, kedua tangannya ke belakang, sepertinya sedang melepas rits roknya. Wow! Posisi tubuh yang begini mengakibatkan dadanya makin menonjol. Gilaaaa, Aku tak tahaaaan!

Rok itu mulai turun, bulu-bulu kelaminnya mulai tampak. Turun lagi, jelaslah, seluruh permukaan kewanitaannya memang ditumbuhi bulu, tapi tipis, pendek, dan merata. Jeanny melangkahi roknya yang sudah tergeletak di lantai. Tubuh telanjang yang nyaris sempurna. Hampir tak ada guratan atau "flek". Gerakannya berubah menjadi erotis. Kakinya kadang membuka lebar seolah menunjukkan bahwa dia memiliki lubang dan clit. Kadang memperagakan gerakan-gerakan senggama gaya doggie. Jeanny sama sekali tak terganggu, kemungkinan ada orang lain yang menonton tubuh telanjangnya dari jendela gedung seberang. Lalu Jeanny mendekatiku. Inilah saatnya, pikirku.

Sambil masih bergoyang Jeanny mendekat sampai ujung penisku menyentuh bawah perutnya, lalu digeser-geserkan. Lalu menjauh lagi. Huaaaa.....! Gerakan tadi diulang lagi. Tubuhnya merendah, bangkit lagi, merendah lagi sehingga kepala penisku menyapu-nyapu dari rambut kemaluannya ke dada.

Aku sungguh tak mengerti. Setiap Aku mencoba merengkuh tubuhnya, Jeanny menghindar. Ketika Aku pasif, kembali dia menggeser-geserkan ujung penisku ke tubuhnya. Sesekali Aku berhasil menangkap tubuhnya dan memeluknya erat. Jeanny membuat gerakan memutar pinggul menguyek penisku seperti tadi waktu kami berdansa. Tapi ketika Aku menikmati sensasi ini sambil merem dan pelukanku mengendor, Jeanny cepat-cepat melepaskan diri.

Tak ada jalan lain. Aku harus memaksa, kalau perlu memperkosa. demikian terlintas di pikiranku. Pikiran seorang lelaki lapar, yang tak mungkin menunda lagi, sementara makanan sudah siap terhidang di depan hidung.
Pada suatu saat dia lengah, Aku menangkap tubuhnya, memeluk erat sambil bertahap menggeser ke tempat tidur. Jeanny bertahan, balas mendorong memepet tubuhku sampai punggungku menyandar di dinding.

"Sabar ya sayang." Mana bisa sabar.
Tubuhnya merendah. dielusnya batang penisku. Mataku terpejam menikmati elusannya. Pada saat posisinya berlutut, kusodorkan penisku ke mulutnya. Jeanny menggeleng lembut. Tangannya makin intensif mengelusi kelaminku, hanya sebelah tangan, sedangkan tangannya yang lain menjangkau sesuatu di meja rias. Jeanny melumuri telapak tangannya dengan cairan body lotion, lalu mengocok batang penisku. Caranya mengocok sungguh merangsang. Tubuhnya sambil menggeliat-geliat dan mulutnya mengeluarkan erangan. Sesekali penisku ditempelkan ke dadanya lalu telapak tangannya "menggiling". Tanpa sadar Aku mulai ikut mengerang. Pembaca, kondisiku yang sudah demikian tinggi, stimulasi pada kelaminku demikian intensif, telah seminggu tak ejakulasi, akhirnya aku tak mampu menahan diri, jebol juga. Aku mencapai puncak.
Cepat-cepat Jeanny memeluk pinggulku, Aku meledak di dadanya, Kuat sekali Jeanny mencekram pinggulku. Aku berdenyut-denyut di dadanya.

Banyak sekali aku menumpahkan cairan mani di dada Jeanny. Maklum, telah "menabung" seminggu. Pelukannya mulai mengendor setelah dirasakannya Aku tak berdenyut lagi. Jeanny melepas. Di"periksa"nya cairan putih yang menumpahi buahnya. Lalu, tanpa kuduga, dengan telapak tangan dia meratakan cairan itu ke kedua buah dadanya.
"Bisa menghaluskan kulit," katanya ketika dia melihatku bengong atas tingkahnya. Aku membantunya. Baru kali ini telapak tanganku tanpa gangguan meremasi payudaranya. Kenyal.

***

Aku mencoba me-refresh ingatanku tentang perilaku Jeanny sejak pertama kali melihatnya. Naik kereta selalu pamer paha dan bagian dada, beberapa kali Aku menangkapnya tak berceldam dan menunjukkannya kepadaku, menari erotis di tempat umum dan menikmati jadi tontonan, dan terakhir bertelanjang bulat menari di depan hidungku dengan membiarkan jendela kamar terbuka lebar. Aku yang mulai menduga sejak beberapa hari lalu semakin merasa yakin, bahwa Jeanny memang EXB, alias (sexual) exhibitionist, orang yang suka memamerkan tubuhnya di depan umum.

Selain itu, Jeanny begitu mandiri dan independent, hidup dan tinggal sendiri, punya pekerjaan dengan posisi bagus. Mandiri mungkin menjadi ciri umum cewe Singaporean. Beberapa cewe teman kantorku juga begitu. Ada satu lagi sifatnya yang menonjol (selain dadanya he..he..) dia otoritatif, maunya orang menuruti kehendaknya.

Begitulah sosok seorang perempuan yang bernama Jeanny, yang baru kukenal tapi seolah sudah begitu dekat.

"Mikirin apa," tanyanya mengejutkanku. Kami berdua masih telanjang. Aku terlentang Jeanny tiduran di dadaku.
"Ah, engga. Cuma capek, dan lapar."
"Wah iya, kamu belum makan ya?" Jeanny bangkit, dadanya berguncang indah.
"Yuk, kita makan dulu," ajaknya sambil memungut blazernya dan dipakai. Lalu roknya. Hanya kedua potong pakaian itu saja yang dikenakannya. Dengan agak malas Aku bangkit berpakaian. Aku sebenarnya mengharapkan tinggal lebih lama di sini sehingga bisa menyetubuhinya.
"Belum waktunya," jawabnya ketika Aku mengutarakan niatku.
"Kapan?"
"Tunggu saja setelah Aku siap."
"Kapan siapnya?" kejarku.
"Sudahlah, sudah larut nih, kita makan trus pulang."
Akhirnya kami cuma makan fast food di lantai 1 hotel ini.
"Kuantar sampai apartmentmu," usulku ketika kereta hampir sampai di stasiun tujuanku.
"Tak usahlah."
"Aku ingin mengantarmu."
"Belum waktunya, honey."
__________________
Bersambung
Bagian empat : MLA

Kami jadi semakin akrab, berangkat dan pulang kantor bersama-sama. Tapi kesempatan makan siang bersama jarang kudapatkan. Dia begitu sibuk dan harus makan di kantornya. Aku tak rikuh lagi mencumbuinya di dalam kereta --kalau tak kebagian tempat duduk-- seperti laiknya pasangan ABG yang sering kujumpai.

Pernah suatu ketika berdua kebagian berdiri di pojok. Jeanny memutar tubuhnya membelakangiku, lalu dituntunnya tanganku ke balik blousenya. Tangan kiriku berpegangan pada "gelang-gelang" yang tergantung di atas, sementara tangan kananku memerasi susunya. Beberapa kali kami pergi lagi ke diskotik itu dan seperti biasanya "penyakit" exhibitionist-nya muncul di sana. Hanya kali ini tanpa "pertunjukan kamar" seperti tempo hari. Dia menolak memberikan kunci kamarnya dengan alasan yang tak jelas. Meskipun telah mengenali sifat-sifatnya, bagiku Jeanny tetap sebuah misteri.

Suatu saat sebulan lewat setelah pertama kali kami ke diskotik, ketika waktu istirahat baru saja habis, Jeanny meneleponku.
"Sudah makan?" tanyanya.
"Sudah, barusan."
"Oo, Aku berharap kita bisa makan siang sama-sama."
"Kenapa tadi pagi gak bilang?"
"Memang sih, soalnya Aku juga belum yakin bisa. Bisa ke sini gak?" tanyanya.
"Umm... Aku khawatir tak bisa." Sebagai karyawan yang relatif baru Aku tak bisa seenaknya meninggalkan kantor dalam jam kerja.
"Aku pengin bicara."
"Gak bisa bicara lewat telepon aja?" tanyaku.
"Gak. terlalu panjang, nanti."
"Aku punya waktu, hanya tak enak kalau ke luar kantor."
"Okay deh, nanti sore saja pulang kantor kamu ke sini."
"OK."
"Nanti telepon dulu ya sebelum pergi."

Mendadak Aku berdebar-debar ketika kereta berhenti di Dobyghout. Tak biasanya Jeanny mengajakku ke sini hanya untuk bicara. Pasti sesuatu yang penting. Sayangnya Aku tak bisa menebaknya. Ah, mengapa harus dipikir? Apapun yang akan dia bicarakan, Aku sudah siap menerimanya. Aku sempat membayangkan the worst case seperti: Kita cukup di sini saja, jangan lagi menghubungiku. Siapkah Aku?

Tadi dia pesan, Aku langsung saja naik ke lantai 6, ke kamar yang dulu. Ternyata dia sebagai Manager memang "menguasai" kamar itu sebagai kamar pribadinya. Hanya dia harus siap memberesi barang-barangnya kalau suatu ketika hotelnya mengalami full book.

Kuketuk pintu kamarnya. Tak ada jawaban. Kuulangi ketukan lebih keras. Juga tak ada balasan. Aku coba memutar handle pintu, tak terkunci, pintu terbuka. Aku melongok.

"Anybody home?" Sepi.
"Jean!" teriakku. Masih tak ada sahutan. Aku menutup pintu kembali dan melangkah masuk. Melewati pintu kamar mandi, dan 2-3 langkah lagi... jantungku berhenti.
"Oh!" seruku otomatis.

Jeanny berdiri di jendela kaca yang terbuka korden dan viltrage-nya, agak di pinggir (sehingga tadi Aku tak melihatnya), menghadap ke luar, dan... telanjang bulat! Gila! Anak ini benar-benar exhibitionist gila! Dari belakang sosok tubuhnya begitu indah. Lengkungan yang nyaris ideal. Dari punggung lengkungan itu dimulai, berpuncak paling dalam di pinggang, terus menggelembung lagi di pinggul. Sepasang bulatan pantatnya begitu "nyedit" (apa bahasa Indo-nya ya Mas Wir?), khas Singaporean, Lalu sepasang paha panjang itu, ditopang sepasang betis yang juga panjang, dan sepasang kaki yang juga telanjang. Jeanny tetap berdiri memandang jauh ke gedung seberang, tak menengok sedikitpun, seolah memberiku kesempatan untuk menikmati lengkungan tubuhnya.

"Jeanny," panggilku beberapa saat kemudian setelah Aku puas meneliti tubuhnya dari belakang.

Dengan amat perlahan Jeanny memutar tubuhnya, menghadapku. Standing lamp di sebelahnya yang menyala mempertegas bulatan-bulatan di dadanya. Bahkan bayangan puting yang "jatuh" di buahnya memberikan informasi bahwa kedua benda itu menegang. Lampu itu juga membantuku mengamati bulu-bulu kewanitaannya. Matanya tajam menatapku.

Aku mendekat. Lebih dekat. Kubelai pipinya dengan punggung jari-jariku. Matanya menutup. Hembusan nafasnya menerpa wajahku. Kurabai bibirnya dengan ujung telunjukku. Bibirnya terbuka. Mengemoti jariku. Tak lama. Lalu telapak tanganku menelusuri lehernya, dengan "teknik" telusur mengambang, antara menyentuh dan tidak. Turun lagi ke dadanya. Kedua telapak tanganku secara "full coverage" ber-rotasi di kedua belah dadanya, masih dengan teknik mengambang. Puting itu memang telah mengeras. Lalu ketika kedua tanganku mengikuti alur lengkungan pinggangnya, bibirku kusentuhkan di puting dadanya, sebelum akhirnya mulutku ikut menelusuri seluruh permukaan buah itu. Jeanny melenguh, matanya masih terpejam. Ketika surfing mulutku berakhir di puting dan mengemotnya, Jeanny merintih. Kali ini mulutku begitu leluasa menciumi, menjilati, bahkan menggigiti buah ranum itu. Sebulan lalu, di tempat ini juga, hanya sempat mendarat di beberapa bagian saja. Kali ini Jeanny menjadi penurut, tidak sambil menari-nari, hanya geliatan pelan.

Penelusuran berlanjut. Sambil jongkok dan berpegangan pada pinggiran pinggulnya, mulutku mulai menjelajah permukaan kewanitaannya yang ditumbuhi merata bulu-bulu pendek. Erangan dan lenguhan Jeanny makin sering terdengar. Tiba-tiba Jeanny mengangkat sebelah kakinya dan ditumpangkan ke bahuku. Posisi tubuh yang memungkinkan lidahku menjangkau selangkangannya lebih dalam. "Nyanyian" Jeanny makin keras dan makin tak karuan.

Jeanny menurunkan kembali kakinya, lalu dengan agak terburu dia membukai kemejaku. Aku membuka celanaku. Aku telah bugil. Penisku telah siap. Jeanny menyandarkan diri ke kaca dan mengangkat kakinya lagi.

"Disini?" bisikku. Jeanny mengangguk-angguk.
Tangan kananku menopang paha kirinya. Kuarahkan ujung penisku, Aku menekan, dan "kepala"ku masuk. Jeanny mengerang lagi. Tekan lagi, penisku telah sempurna memasuki tubuhnya. Aku mulai memompa. Di jendela kaca itu. Tak peduli mungkin saja ada orang yang melihat dari jendela gedung seberang. Mana sempat peduli?

Rasa maluku telah hilang, ditimpa rasa nikmat. Nikmat yang agak asing karena telah lama tak merasakan. Rasa nikmat yang ditimbulkan oleh sensasi gesekan batang penisku ke dinding-dinding vagina Jeanny. Rasa nikmat yang ternyata tak begitu lama kunikmati (salah sendiri kenapa "menabung" terlalu lama?). Jeanny membiarkan Aku ejakulasi di dalam tubuhnya. Semprotan yang berkali-kali dan melimpah.


Oh Jeanny, MLA, ML juga Akhirnya.

"Nah, sekarang Aku siap mendengar," kataku setelah kami membersihkan diri masing-masing dan berdua tidur-tiduran di salah satu single bed, masih sama-sama telanjang, seperti bulan lalu sehabis Aku dimasturbasi olehnya, Aku terlentang dan kepala Jeanny di dadaku.
"Tak ada yang perlu dibicarakan," sahutnya.
"Lho, tadi kamu pengin bicara."
"Sebenarnya tidak ada. Aku hanya ingin memberitahumu, sudah waktunya."
Dengan gemas kuciumi wajahnya.
"Laparnya ya?" katanya. Perutku berkeroncong, Jeanny mendengarnya. Tanpa minta persetujuanku Jeanny menghubungi room service lewat telepon minta makanan, lalu rebah lagi di tubuhku.

Lalu ketika beberapa saat pintu diketuk dan terdengar teriakan "Room service", Jeanny bangkit, memberesi seluruh pakaianku, menarikku ke kamar mandi, menciprati tubuhnya dengan air, menyambar handuk dan dililitkan ke tubuhnya. Handuk itu kurang lebar buat menutupi tubuhnya. Separuh buah dadanya bagian atas terbuka, sementara seluruh pahanya tak tertutup. Jembutnya nyaris terlihat.

"Diam dulu di sini ya. Jangan bersuara." Jeanny menutup pintu kamar mandi.
Dasar Jeanny, menemui pelayan hotel dengan hanya berbalut handuk sempit. Terbayang, pelayan itu mungkin tersipu sambil menelan air liur menatapi buah dada dan seluruh panjang kaki mulusnya.
"Ayo, makan," katanya setelah pelayan lelaki itu pergi. Aku keluar kamar mandi mendapati Jeanny sudah membuang handuknya. Kami makan sepiring berdua, dengan bertelanjang bulat. Tak mungkin kan dia pesan makanan dua porsi. Menghindari kecurigaan.

Bermula dari memperhatikan gerak tubuhnya sewaktu Jeanny menyisir rambutnya di depan kaca rias, Aku menjadi terangsang lagi. Kudekati dia. Kucium kuduknya. Jeanny bergidik. Lengan atasnya mendadak berbutir-butir tanda merinding. Kucium belakang telinganya. Jeanny melenguh. Diraihnya tanganku dan dituntun ke dadanya. kuusapi dadanya. Jeanny merintih. Aksi berlanjut.

Kutuntun badannya menuju kasur, tapi Jeanny memaksaku terus melewati kasur dan menuju jendela. Dibukanya salah satu bilah kaca jendela, suara bising lalulintas langsung terdengar. Ditariknya salah satu kursi menyender ke jendela yang terbuka tadi. Lalu Jeanny naik ke kursi dan menelungkupi sandarannya. Kepala dan bahu Jeanny ada di luar jendela. Pahanya membuka. Aku mengerti maksudnya. Aku juga manaiki kursi itu. Jeanny menginginkan doggie style di sandaran kursi. Aku masuk dari belakang. Memompa maju-mundur. Mulut Jeanny menceracau tak karuan. Sudah kuduga, di second round ini Aku bisa lebih lama. Entah sudah berapa puluh pompaan Aku belum merasakan tanda-tanda mencapai puncak. Aku tak bisa menduga apakah Jeanny sudah "selesai" atau belum. Aku tak melihat wajahnya. Pahaku pegal sekali, Aku menyerah.

"Jean, kita pindah yuk, di tempat tidur."
"Okay," Aku melepas. Dengan buru-buru dia melompat ke kasur, menelentang dan kaki terbuka lebar. Aku masuk lagi. Aku memompa lagi. Naik-turun dan maju-mundur. Pinggul Jeanny bergoyang liar maju-mundur dan berputar horisontal. Sampai kurasakan dalam dekapan kencangku tubuhnya berguncang teratur. Sampai kurasakan getaran tubuhku sendiri seirama pancaran air mani.
Oh Jeanny, bagiku engkau tetap misteri.

__________________
THE END

1 komentar:

  1. Blogger Says:

    I have just downloaded iStripper, so I can have the sexiest virtual strippers on my taskbar.

    Posted on 26 November 2016 23.27